Catatan Pasca Karantina Tahfidz #3

            Sebelumnya, saya ingin mempersilakan pembaca untuk terlebih dulu membaca serial Catatan Pasca Karantina Tahfidz di sini dan di sini untuk memberi gambaran yang lengkap. Sebenarnya saya sangat ingin menuliskan tulisan ini sejak lama, tapi ternyata hikmah karantina tahfidz itu terus saja mengalir sehingga sayang jika saya tidak menunda menulis sampai hikmah itu lebih worth it untuk dituliskan. Jadilah saya menuliskannya sekarang.

            Baiklah, ada banyak hal yang berubah pasca saya uzlah sebulan di Bandung itu. Terlalu banyak bahkan, sampai saya seringkali gagal menguraikan harus bercerita dari mana kalau ada yang bertanya. Intinya, karantina tahfidz merubah hidup saya, dan dalam bahasa Nida Khansa Nazihah, build who I am today.

            Kegiatan di Karantina itu sebenarnya cuma satu, menghafalkan Al-Qur’an. Kami diberi target untuk menghafalkan 30 juz dalam 30 hari. Yang perlu dicatat adalah, tugasnya itu menghafal, bukan hafal. Jadi perkara belum terlalu hafal atau lupa lagi bukan urusan panitia.

            Walaupun ‘cuma’ menghafal, tapi implikasinya ternyata begitu luas. Menghafal ternyata bukan cuma kegiatan kognitif yang mengandalkan otak, tapi juga keseluruhan tubuh dan iman kita. Kenapa? Karena Qur’an itu cahaya. Ia akan masuk di hati-hati yang bersih, yang suci, yang minim dosa. Menghafalkan Al-Qur’an itu adalah cara ampuh untuk merubah hidup seseorang karena dengan menghafal, secara otomatis ia akan merubah sikapnya secara drastis hanya demi mendapat keridhoan Allaah.

            Perubahan yang drastis itu, terjadi dalam diri saya. Sejujurnya di awal-awal karantina saya susah sekali menghafal. Saya bahkan hanya dapat menyetorkan hafalan 1 halaman di hari pertama dan kedua, bertambah sedikit-sedikit di hari berikutnya, dan banyak bantuan di hari-hari setelahnya. Jujur, saya payah sekali dalam menghafalkan Al-Qur’an. Bahkan saya pernah mendapat ultimatum dari ustadz karena progress saya begitu lambat. Jauh berbeda dengan teman-teman lain yang melesat mengangkasa. Padahal teman-teman saya kebanyakan lebih muda.

            Saya sempat frustasi, ingin menyerah dan pulang saja. Saya sampai di titik terendah saya sebagai manusia. Boleh jadi saya adalah mahasiswa berprestasi II FKG, peserta terbaik Rumah Kepemimpinan, tapi di karantina itu, di depan Allaah sungguh saya bukan siapa-siapa. Saya begitu hina, sampai bahkan Allaah tidak berkenan menitipkan Al-Qur’an ke dalam hati saya.

            Bagusnya di karantina itu, saya menemukan banyak pendukung. Saya sekamar dan se-halaqah dengan Teh Dini, teteh Bandung yang luar biasa qana’ah. Beliau perempuan, pengusaha, berusia kepala tiga, belum menikah, dan baru belajar tahsin 3 bulan yang lalu. Beliau ini, boro-boro menghafal, bacaan Qur’annya saja masih tersendat-sendat. Tapi Teh Dini tidak pernah menyerah. Beliau tetap ceria dan ikhlas dengan ikhtiarnya menghafalkan Al-Qur’an. Tiap kali saya sedih atau ingin menyerah saya selalu talk to her dan dapat kembali menghafalkan lagi dengan gembira.

            “Ikhlaskan aja Jadna, ikhlas dengan ikhtiar Jadna. Allaah itu pengen denger bacaan Qur’an Jadna. Allaah pengen Jadna makin mendekat ke Allaah. Allaah pengen lihat dulu seberapa ikhtiar dan keseriusan Jadna untuk menjadi orang bertaqwa, untuk pantas mendapat gelar hafidzah. Kalau dikasih susah bukan berarti Allaah nggak sayang sama Jadna, justru sayang banget. Karena Allaah pengen terus sama Jadna, Allaah pengen Jadna terus mendekat ke Allaah.”

            Denger kata-kata Teh Dini itu selalu nyessss. Menyejukkan sekali. Di titik terendah hidup saya itu, saya jadi banyak-banyak istighfar dan shalat taubat. Sering juga saya menangisi dosa-dosa saya yang telah lalu, sembari mengharap limpahan kebaikan dari Allaah. Saya menjadi sangat cengeng dalam arti sebenarnya. Rasanya saya sudah tidak ingin apa-apa lagi, kecuali supaya Allaah ridho sama saya. Rasanya saya sudah tidak butuh apa-apa lagi, kecuali supaya dapat menjadi sebenar-benarnya hafidzah.

Teh Dini bukan satu-satunya orang yang menguatkan saya. Satu orang lagi yang paling membuat saya kuat adalah muhafidzah saya, Ustadzah Ria. Beliau mahasiswa Jurusan Fisika Universitas Negeri Malang, angkatan 2012. Kabarnya sudah sidang, tinggal menunggu wisuda. Usia yang tidak terpaut jauh membuat kami dekat. Saking dekatnya terkadang saya merasa sedikit ‘nyolot’ pada Ustadzah Ria.

            Saya terbiasa men-set pikiran saya untuk kritis dan skeptis. Saya terbiasa mempertanyakan banyak hal dan mempertahankan argumen saya bagaimanapun caranya. Termasuk dalam setoran hafalan. Kalau saya salah, saya sering sekali bertanya, “masih sih aku salah, kak? Kayaknya bener kok”. Saya tidak terima disalahkan. Padahal sebenarnya saya jelas-jelas salah, dan sedihnya salahnya banyak. Ustadzah Ria sabar sekali menghadapi saya yang begitu ngeyel dan tersendat-sendat. Beliau tidak pernah marah dan terus membimbing saya untuk dapat khatam.

Ustadzah Ria available 24 jam untuk disetori di manapun ia berada. Di kamarnya, di kantin, di perjalanan menuju mushola, saat makan, saat akan dan habis mandi, saat mau tidur, kapan pun pokoknya. Bahkan Ustadzah Ria selalu tidur setelah kami semua tidur dan bangun sebelum kami semua bangun hanya demi memastikan ia tidak mendzalimi anak-anak halaqahnya untuk setoran hafalan.

Ustadzah Ria tidak pernah menyerah dengan kepayahan saya menghafal. “Ayo, nggak papa. Dilanjutin aja hafalannya, Mbak Jadna. Nanti juga khatam”. Beliau dengan tabah membimbing saya ketika setoran. Sebenernya nggak boleh sih, tapi memang di karantina yang ditekankan adalah khatamnya bukan hafalnya. Beliau juga mencoba dan memikirkan banyak metode hanya demi membuat saya khatam. Saya tahu Ustadzah Ria pernah nangis-nangis, frustasi, dan curhat di depan ustadz, tapi di depan kami Ustadzah Ria selalu tampak bahagia dan memberi kata-kata positif. Saya tidak membayangkan bagaimana jadinya saya sekarang tanpa Ustadzah Ria. Berkat Ustadzah Ria saya akhirnya khatam juga.

Selain Teh Dini dan Ustadzah Ria, masih banyak orang-orang yang menjadi jalan hidayah saya. Satu orang yang paling berpengaruh lagi adalah Bu Ani Yuniarti. Beliau adalah Loyal Executive Directtor HPAI, perusahaan MLM herba muslim terbesar di Indonesia. Usia Bu Ani sudah kepala 4 dan memiliki anak seusia saya. Dari Bu Ani, saya banyak belajar mengenai ke-wara’-an, orientasi masa depan dan parenting.

Bu Ani adalah orang yang sangat wara’, berhati-hati pada segala sesuatu. Beliau menjaga sekali apa-apa yang beliau pakai. Beliau benar-benar memastikan produk yang beliau pakai halal. Mulai dari pasta gigi, lotion, obat-obatan, ayam, bakso semualah pokoknya. Bu Ani tidak makan ayam atau daging di luar rumah kalau tidak ada jaminan halal. Bu Ani bahkan juga tidak mau giginya ditumpat hanya karena dokter gigi yang menangani tidak dapat memastikan bahan tambal yang digunakan halal. Sebagai calon dokter gigi tertohok dong saya. Gara-gara Bu Ani, di kemudian hari saya jadi getol cari info tentang kedokteran gigi syar’i.

Bu Ani juga sangat visioner. Visioneritas Bu Ani bukan cuma tentang mau jadi apa dan bagaimana, tapi sudah menuju hari akhir. Konon, di akhir zaman ini (dan kelak), teknologi tidak lagi berguna. Semua orang akan kembali menggunakan panah, kuda dan obat-obatan tradisional. Itulah kenapa memanah, berkuda, berenang dan mengkonsumsi tumbuhan tertentu menjadi sunnah Nabi. Bu Ani selain rutin berenang memanah, berkuda dan berenang, juga menghindari pengobatan modern. Beliau mengutamakan pola hidup sehat dan obat-obatan herbal yang disunnahkan. Supaya umat Islam bisa bertahan di akhir zaman kelak, Jadna, begitu kata beliau.

Perihal parenting, Bu Ani sering memberi spoiler terkait bagaimana beliau mendidik anak-anaknya. Anak-anak Bu Ani adalah hafidz-hafidzah ya ng menjadi primadona di sekolahnya. Pendidikan Al-Qur’an, dukungan terbaik orangtua, dan kebebasan untuk memilih rupanya menjadi kunci parenting Bu Ani.

Banyak sekali inspirasi yang saya dapat hanya dengan berdekatan dengan The Dini, Ustadzah Ria, dan Bu Ani. Belum lagi inspirasi dari teman-teman karantina yang lain. Kalau menghafal adalah sarana untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allaah, berinteraksi dengan teman-teman di karantina membuat saya belajar bagaimana mentranslasikan iman ke dalam kehidupan sehari-hari. Meski Cuma sebulan, tapi terlalu banyak ilmu dan inspirasi yang bisa diambil. Bahkan kalau boleh saya bilang, 30 hari di karantina adalah 30 hari paling berpengaruh dalam hidup saya.  Mengulangi kata-kata Nida, 30 hari di karantina adalah 30 hari that build who I am today.

Zahratul Iftikar Jadna Masyhida

One thought to “Catatan Pasca Karantina Tahfidz #3”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *