Catatan Pasca Karantina Tahfidz #4

“Apabila ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, dan apabila ia mendekat kepada-Ku sehasta maka Aku akan mendekat kepadanya sedepa. Dan apabila ia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari-lari kecil.”

(HR. Bukhari, Ahmad, Tarmidzi)

 

          Seperti yang saya bilang di tulisan sebelumnya, 30 hari di karantina tahfidz adalah 30 hari yang merubah total hidup saya. Pasca karantina itu, saya berhenti mendengarkan musik karena khawatir musik itu akan menjauhkan saya dari Al-Qur’an. Saya menghapus foto-foto wajah saya di sosial media untuk menjaga diri saya. Saya menjadi lebih kritis dan skeptis terhadap apa yang saya makan. Saya benar-benar pastikan makanan yang saya makan halal dan baik untuk tubuh saya. Saya canangkan target amalan harian yang lebih tinggi dan berusaha betul untuk memenuhi target itu. Orientasi saya rasanya berubah total, saya tidak ingin apa-apa lagi kecuali menjadi sebaik-baik hamba Allaah yang bertaqwa.

            Pasca karantina itu, demi mengetahui strategi untuk menjaga hafalan, saya menghubungi Fahmi. Awalnya saya kira Fahmi biasa saja, maksudnya bukan orang yang sangat soleh atau menjaga. Tapi ternyata saya keliru. Dalam sebuah percakapan online, Fahmi pernah bertanya,

            “Kamu ada ngerasa beda nggak Jed, sebelum dan setelah khatam? Jadi ngerasa takut ngapa-ngapain gitu?”

            “Iyaaa, ngerasa banget. Aku jadi takut banget ngelakuin dosa, dengerin musik, makan makanan haram, dll. Seems orientasiku berubah banget.”

            “Aku juga gitu. Aku juga jadi mempertimbangkan semua hal masak-masak. Aku takut Allah nggak ridho sama aku.”

            Wah! Saya baru sadar banget ternyata perubahan yang terjadi pada diri saya terjadi juga pada para penghafal Qur’an. Bahkan ternyata baru saya sadari belakangan, sikap kehati-hatian itu begitu melekat erat di diri Fahmi. Fahmi memutuskan segala sesuatu dengan pertimbangan syari’at, bahkan ia sering shalat istikharah hanya untuk memutuskan hal yang sederhana. Ia juga tidak berani mencanangkan mimpi-mimpinya dengan pasti, karena ia begitu takut melangkahi kehendak Allaah.

Mulanya saya menganggap Fahmi sedikit lebay. Tapi seiring berjalannya waktu, entah kenapa saya juga jadi makin paranoid menghadapi banyak hal. Sama seperti apa yang Fahmi pernah bilang, saya makin takut Allaah tidak ridho dengan apa yang saya lakukan. Ketakutan saya rasanya semakin lama semakin menguat dan berdampak pada banyak hal. Salah satunya masalah hati.

Saya punya banyak teman laki-laki, mmmm mungkin lebih tepatnya teman dekat laki-laki. Sebelum dan sesudah karantina, saya dekat dengan beberapa orang. Ada satu orang yang terasa begitu dekat, walau sebenarnya saya berusaha keras untuk tidak menaruh rasa. Saya hanya berani untuk mengagumi, tidak untuk yang lainnya. Beberapa saat setelah karantina, saya merasa hubungan itu sudah tidak cukup sehat. Saya takut sekali interaksi kami tidak diridhoi oleh Allaah.

Akhirnya, saya memutuskan saya harus menjaga diri saya lebih ketat. Wujud penjagaan diri itu adalah bersiap untuk menikah. Saya nekat menantang ia untuk melamar saya. Ia akhirnya mundur dan kami mengurangi interaksi secara drastis. Dipikir-pikir sekarang, saya berani juga melakukan itu dulu. Pernah saya ditanya, “kamu nggak malu nantangin orang ngelamar kamu terus ditolak?”. Seingat saya, saya menjawab, “kenapa malu? Justru aku merasa terhormat karena berani menjaga diriku. Aku nantangin karena aku mengharap ridho Allaah, Insya Allaah. Aku justru lega karena sudah di jalan yang semestinya”.

Setelah kejadian itu, saya jadi lebih serius untuk mempersiapkan diri menikah. Terlebih, Ummi saya ingin menikahkan ketiga anaknya bersamaan di tahun ini supaya sudah lega kalau ditinggal haji tahun depan. Maka, tidak ada alasan lagi bagi saya untuk menyisakan ruang di hati saya untuk hal-hal yang tidak perlu dan mengganggu. Saya ingin benar-benar membersihkan hati. Tidak hanya dalam rangka persiapan menikah, tetapi juga sebagai ikhtiar menjadi sebaik-baik hamba.

Zahratul Iftikar Jadna Masyhida

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *