Jangan Marah

Marah, bagi sebagian orang merupakan hal yang biasa. Bagi sebagian yang lainnya merupakan hal yang tabu. Marah, kebanyakan menguras banyak energi dan emosi. Marah, seringkali malah membesarkan masalah yang tak perlu. Marah, seringkali menyebabkan timbulnya sakit yang menahun. Marah, sudah seharusnya terhindarkan dalam kehidupan manusia. Namun nyatanya, masih banyak orang yang suka melampiaskan amarah, karena memang begitulah setan bekerja.

Dalam hubungan sesama manusia, khususnya dalam berkeluarga, kadang tanpa terkendali kita akan marah pada pasangan, karena itu suatu keniscayaan. Mau menyangkal seperti apapun, sebesar apapun rasa cinta dan sayangnya, pada waktunya akan terjadi kemarahan tersebut karena itu manusiawi. Yang paling penting adalah, ketika marah terjadi, bagaimana menahannya agar tidak keluar berlebihan dan lepas kendali. Sebaliknya, juga jangan terlalu ditahan agar tak terpendam lama yang bisa jadi akan meledak jika terlalu lama terpendam.

Zahra pernah mengingatkan saya agar jangan pernah menyimpan amarah meski tak terlampiaskan. Hal ini mengingat kebiasaan kami kalau sedang kesal dan marah cenderung diam dan menyingkir. Zahra mengatakan, “Jangan pernah tidur malam sambil marah.” Kenapa? Karena tentu itu akan membuat tidur tidak nyenyak dan malah menambah gangguan emosional. Selebihnya, sudah tentu bukan suatu kebiasaan baik karena akan menjadikan kemarahan kronis yang berlarut-larut.

Lalu bagaimana caranya supaya tidak menyimpan marah? Cara paling mudah adalah dengan menyadari konsep pernikahan sebagai sebuah pembelajaran, sebagaimana yang pernah saya jelaskan di sini. Ada cara lebih praktis yang Zahra tawarkan kepada saya ketika itu adalah dengan membiasakan sholat taubat sebelum tidur. Dengan sholat taubat sebelum tidur, kita selesaikan urusan kita dengan Allaah swt agar mengampuni dosa-dosa kita sekaligus menyadarkan kita bahwa jika Allaah swt saja begitu mudahnya mengampuni dosa kita, lalu kenapa kita tak mau memaafkan kesalahan saudara, teman, istri, atau bahkan orangtua kita?

Maka, begitulah kami membiasakan diri untuk sholat taubat setiap hari. Selepasnya, kami akan sama-sama introspeksi dan menyampaikan permohonan maaf serta saling memaafkan. Momen ini bagi saya terasa luar biasa karena seperti melepas beban yang terpendam. Kadang, kami sampai berurai airmata karena mengingat kesalahan kami.

Kalau menurut cara Rasulullaah saw, beliau mengajarkan agar mengambil air wudlu ketika marah agar memadamkannya. Cara lainnya bisa dengan berpindah posisi, misalnya dari berdiri ke duduk, dari duduk ke tiduran, atau berpindah tempat agar mendapat suasana baru yang mengubah mood.

Disini, saya belajar hal penting dalam membangun hubungan dengan orang lain khususnya pasangan, yaitu jangan pernah marah. Allaah swt sendiri memberikan jaminan surga bagi orang yang mampu menahan amarah dan melepaskannya dalam bentuk sebuah maaf. Dalam sebuah ayat yang menyebutkan tentang orang-orang yang dijanjikan surga, Allaah swt berfirman,

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

Begitu pula jaminan Rasulullaah saw, beliau bahkan menyebutkan hingga tiga kali,

“Laa taghdhab! (Jangan marah)!, maka kamu akan masuk surga.”

Takcukup sampai disitu, Rasulullaah saw juga memuji mereka yang mampu menahan amarah sebagai orang yang terkuat, lebih kuat dari jagoan dan algojo tukang pukul.

Maka, sudah seharusnya kita menghindari marah dalam hal apapun, terlebih dalam hubungan dengan pasangan kita. Karena jika kita ingin memiliki pasangan layaknya bidadari, terlebih dahulu kita harus memiliki kelembutan hati layaknya malaikat. Begitu pula jika ingin memiliki istri sebaik Aisyah, maka terlebih dahulu kita harus memiliki kesabaran layaknya Muhammad yang memilih memaafkan penduduk Thaif ketika ditawarkan malaikat Jibril untuk ditimpakan Gunung Uhud.

Rabbanaa afrigh ‘alainaa shabran wa tsabbit aqdaamanaa…
Ya Tuhan kami, berikanlah kesabaran atas kami dan kokohkanlah pendirian kami…

3 thoughts to “Jangan Marah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *