Rasa yang Hilang

 

“Hidup adalah sebuah anugerah, kita tidak akan pernah mengetahui betapa berharganya apa saja yang sudah kita miiki, sampai kita kehilangannya. Begitu juga, kita tidak akan pernah mengetahui apa saja yang hilang dalam hidup kita, jika sesuatu itu tidak pernah datang.”
― Nicko Widjaja , Medley: Garis Batas Impian Lelaki ―

Mungkin begitulah kondisi pernikahan kami di akhir semester pertama ini. Ya, selama dua bulan ke depan, Oktober sampai November, kami harus berpisah tempat tinggal karena saya harus menjalankan KKN di Gunungkidul, sedangkan Zahra masih harus menyelesaikan penelitian untuk skripsinya. Ada rasa bersalah dalam diri saya sebenarnya, karena seharusnya di saat-saat sulit dan riweuh bagi Zahra sekarang ini, saya tidak bisa mendampinginya. Namun, saya mengembalikan pada sebuah konsep yang ingin saya bangun sejak awal, yaitu kita harus yakin bahwa ada hal yang sudah diatur pada hal-hal yang kita tidak bisa mengendalikannya. Dan pada kondisi itu, aturannya adalah jika kita berprasangka dan berbuat baik pada Dzat Yang Maha Mengatur Segalanya, maka insyaaAllaah kita akan diarahkan pada jalan yang terbaik.

Sejujurnya ini adalah pisah pertama kami terlama. Itung-itung belajar hidup berkeluarga jarak jauh. Banyak hal ternyata yang saya baru sadari bahwa selama ini terlalu banyak momen yang sangat berharga untuk dilewatkan. Sebagaimana quote di atas, seringkali orang baru akan menghargai sesuatu ketika telah hilang. Sebaliknya, seringkali seseorang melupakan sesuatu yang berharga karena ia merasa telah memiliki dan berusaha mengejar keinganannya yang lain.

Dan di sinilah saya hari ini. Rasa rindu untuk hidup bersama lagi seakan selalu meningkat beriringan dengan berkokoknya ayam di sepertiga malam. Momen-momen sholat malam bersama, jalan-jalan pagi sambil berdzikir dan ziyadah atau murojaah, naik motor bersama kemana-mana, sampai candaan-candaan ringan ketika beristirahat terbayang-bayang setiap kali sedang sendiri. Ya, ada sesuatu sangat berharga yang hilang.

Saya juga merasa kehilangan suara jawaban salam yang muncul setiap kali membuka pintu rumah. Saya juga kehilangan kecupan manis yang membangunkan saya jika tertidur belajar atau mengerjakan tugas. Saya juga kehilangan orang yang benar-benar tulus ikhlas membantu kelemahan saya. Sadarlah saya bahwa Zahra telah menjadi seseorang yang benar-benar hidup dalam keseharian saya.

Barangkali benar apa yang dikatakan orangtua zaman dahulu, “Wong kuwi ora iso urep bareng terus, mesti ono pisah. Soale pisahe kuwi nek sebab apik mesti malah marai soyo rengket kasih sayange.” Dan itulah yang saya rasakan hari ini. Ada cinta yang sedang tumbuh dan berkembang dalam hati saya kepada Zahra. Cinta yang tumbuh pesat karena dipupuk oleh rindu. Cinta yang berkembang membesar berlandaskan kepercayaan. Cinta yang nikmat karena dibumbui oleh Iman dan Islam.

Saya juga semakin yakin bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini selain Allaah swt. Setiap makhluk tentu akan merasakan kehilangan sesuatu yang disukai, disayangi, dan dikasihi. Jika hari ini, Allaah swt memisahkan saya dengan Zahra dan menghilangkan momen-momen kebersamaan bersamanya, ini masih bersifat sementara. Barangkali, Allaah swt ingin agar saya lebih mendekat lagi padanya supaya kelak ketika bertemu Zahra lagi akan menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Saya jadi membayangkan, bagaimana sedihnya salah satu dari kami merasakan kehilangan karena salah satu dipanggil oleh Allaah swt terlebih dahulu. Perpisahan yang tak akan kembali, yang harus disusul jika ingin bertemu lagi. Dan, di sinilah saya sadar, betapa sakit dan sedihnya Ibu saya ketika almarhum Bapak dulu meninggal dunia. Tampak wajar bagi saya sekarang jika hari-hari itu, Ibu menjadi sosok yang lain.

Dan yang lebih menyakitkan dari itu semua adalah, jika sampai kita kehilangan momen-momen berharga kita dengan Dzat yang menjadi kecintaan tertinggi kita, yaitu Allaah swt. Sungguh tak terbayangkan sakit dan sedihnya, jika sampai Allaah swt membenci dan melupakan kita. Kita kehilangan nikmat beribadah, kehilangan nikmat beramal shalih, bahkan besok di akhirat, kita kehilangan nikmat terbesar, yaitu surga. Na’udzuubillaahi min dzaalik.

Maka, di saat seperti ini, selalu nyaman dan nikmat sekali rasanya membangun kekhusyu’an kepada Dzat Yang Menumbuhkan Cinta. Doa-doa dan harapan saya langitkan demi memohon agar Dia berkenan menjaga cinta kami dalam Islam seutuhnya, mengikatnya dengan Iman, menghiasinya dengan Ihsan. Saya titipkan Zahra pada-Nya agar senantiasa dijaga dari keburukan, pandangan setan, kejahatan, kemalasan, dan godaan setan. Sebagaimana yang saya tulis di sini, maka sebagai suami dari Zahra, saya harus bisa menjadi sarana bagi dia untuk menuju ke surga-Nya.

Allaahumma (i)hfadh lanaa anfusanaa wa azwaajanaa wa ahlana wa man haulaanaa min kulli syarrin…
Yaa Allaah, jagalah kami, dan pasangan kami, dan keluarga kami, dan orang-orang di sekitar kami, dari segala bentuk keburukan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *