Tak Henti Berharap

Hari ini, tepat setahun yang lalu, saya datang ke rumah Dek Zahra selepas dhuhur. Dalam perjalanan, di tengah gerimis hujan, yang katanya menjadi waktu mustajab, saya merapal doa semoga diberikan solusi yang terbaik. Ya, boleh dibilang jika pernikahan saya dengan Dek Zahra disebabkan karena “kecelakaan”, married by accident. Kecelakaan yang kemudian menimbulkan keramaian dalam lingkaran pertemanan dekat kami. Setidaknya dalam hubungan kami saat itu, yaitu sebagai teman.

Saat itu, tak pernah terbayang dalam benak saya akan menikah dengan begitu mudahnya. Hal ini mengingat kondisi saya saat itu yang tak memiliki uang sedikitpun, belum lulus kuliah pula. Bahkan, saya merasa minder sekali dengan sosok Dek Zahra. Namun, takdir Allaah swt memang tidak pernah berubah. Kurang lebih dua bulan setengah setelahnya kami menikah.

*****

Selepas menikah, saya banyak mendapatkan pelajaran dan hikmah baru. Rencana yang saya buat sedemikian rupa seakan tidak berdaya ketika bertemu dengan kehidupan nyata selepas menikah. Ya, kenyataan seringkali tidak sesuai dengan ekspektasi. Sebagian berjalan lebih baik, sebagian sesuai rencana, namun tak sedikit pula yang tidak sesuai target perencanaan. Kebanyakan yang tidak tercapai adalah karena kebodohan dan ketidaktahuan kami ketika membuat rencana.

Misalnya, ketika saya merencanakan untuk menunda memiliki anak selama dua tahun pertama. Kenyataannya, seiring kami belajar dan berproses, kami merasa ada hal yang salah, tidak sesuai fithrah. Terlebih, setelah silaturrahmi kami dengan Ust. Fathurrahman Kamal di sini, kami semakin yakin untuk membatalkan rencana ini. Alhamdulillah, hari ini Allaah swt karuniakan kepada kami calon pemimpin umat di dalam rahim Dek Zahra yang berusia 12 minggu.

Atau ketika saya merencanakan untuk tidak muluk-muluk, saya berusaha mengenal dan silaturrahmi ke seluruh keluarga besar dari Dek Zahra. Kenyataannya, keluarga besar Dek Zahra sangatlah besar. Saudara dari Abah berjumlah enam orang dengan sebelas simbah beserta jalur keturunannya. Sementara, keluarga Ummi juga berjumlah enam orang. Dan sampai hari ini, boro-boro mau silaturrahmi, mengingat namanya saja masih lupa-lupa ingat.

Termasuk ketika saya merencanakan untuk membuat Dek Zahra lulus dan menyelesaikan hafalan Al-Quran dengan mutqin dalam dua tahun pernikahan awal kami. Kenyataannya, qadarullaah, Dek Zahra harus menunda kelulusan karena sebab tertentu. Selain itu, saya juga kesulitan membagi waktu koass, mengajar anak-anak, dan mendampingi Dek Zahra murojaah sehingga tidak sesuai target.

*****

Kondisi ini, ketika banyak yang tak sesuai rencana dan meleset dari target, seringkali membuat kami goyah. Kadang muncul pikiran pesimis dalam benak kami, akankah cita-cita besar yang kami impikan bisa terwujud? Mampukah kami memiliki pesantren kemandirian yang memotong rantai kemiskinan? Siapkah kami untuk terjun ke sektor publik menjadi pelayan masyarakat dan mendidik umat?

Jauhnya cita-cita dan kondisi kami sekarang inilah yang sering membuat kami galau. Kalau sudah begini, kami selalu berharap malam yang lebih panjang. Kami selalu ingin bangun lebih awal. Kami ingin memperbanyak waktu bercengkrama dan mengadu permasalahan dengan-Nya. Ini karena kami yakin sepenuhnya, bahwa apapun yang terjadi di dunia ini tak lepas dari kehendak dan izin-Nya. Tak sebatang dahan pun patah, tak selembar daun pun jatuh, melainkan berada dalam pengawasan-Nya.

Rasanya, kami selalu mengulang doa yang sama. Doa yang awalnya panjang dan harus ditulis kini tampak singkat dan hafal di luar kepala saking seringnya diulang. Barangkali, jika ada yang mendengar, bisa jadi mereka bosan. Pun begitu dengan kami, kadangkala kami hampir berputus asa dan bosa berdoa.

Saat itulah, kami mengingat bahwa ada yang jauh lebih pantas bosan daripada kami. Ada yang jauh lebih lama menunggu terkabulnya daripada kami. Ada yang jauh lebih sabar menanti tanda terkabulnya doa, yaitu Nabi Zakaria as. Seumur hidupnya dihabiskan untuk berdoa memohon keturunan yang akan meneruskan perjuangan dakwahnya tanpa lupa ikhtiar. Sampai akhirnya, Allaah swt kabulkan di usianya yang senja. Sementara Nabi Zakaria as tidak pernah kecewa sedikitpun dengan ketentuan Allaah swt tersebut. Kisah ini begitu indah Allaah swt ceritakan dalam membuka surat Maryam.

Alasan lainnya yang membuat kami bertahan dalam kondisi di luar rencana ini adalah, sebuah sabda kekasih Allaah swt. Ya, Rasuulullaah saw pernah mengingatkan sahabatnya,

“Doa seorang hamba akan senantiasa dikabulkan selama ia tidak berdoa dengan dosa, tidak memutuskan tali silaturahmi, dan tidak terburu-buru.” Para sahabat yang mendengar pun bertanya, “Yaa Rasuulullaah, apa maksud doa yang terburu-buru?” Maka beliau menjelaskan cirinya, “Adalah orang yang berkata, ‘Aku telah berdoa, aku telah meminta, tapi aku tidak melihat tanda terkabulnya.’ Lalu dia putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.”

Pada akhirnya, kami memang tak bisa berhenti berharap pada Dzat Tempat Meminta Segala Sesuatu. Karena jika berkurang harapan kami pada-Nya, maka itu berarti tanda kelemahan iman kami. Tugas kami hanyalah menjaga harapan tersebut dengan berikhtiar mengejar cita-cita yang tampak jauh.

Yaa Allaah, karuniakanlah kepada kami kesabaran dalam berdoa dan berharap kepada-Mu. Sungguh, Engkau-lah sebaik-baik tempat berharap dan sebaik-baik Dzat Yang Maha Mengabulkan Doa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *