Ngambeknya Perempuan

Beberapa hari lalu, di sebuah grup yang saya ikuti ramai perbincangan tentang marahnya istri yang seringkali tanpa alasan. Diskusi itu berawal dari sebuah status facebook seorang suami yang mengulas tentang bagaimana menangani istri yang sedang marah.

Dalam status itu, bapak tersebut mulanya membahas mengenai fenomena marahnya istri, yang somehow, nggak ada angin dan nggak ada hujan sang istri seringkali diam dan cemberut. Ketika ditanya kenapa, kata-kata “nggak papa”, “pikir aja sendiri“, “tauk ah“, kiranya menjadi most frequently answers.

Bagi sang suami, hal ini terasa membingungkan. Konon katanya karena laki-laki itu mengedepankan logika dan terkadang menihilkan perasaan ketika menghadapi sesuatu. Jadi bagi suami, ia perlu tahu dulu asal usul cemberutnya istri baru fix the problem. Tapi sang istri, yang merupakan makhluk perasa, merasa suaminya menyakiti perasaannya dan semestinya diri suaminya tahu kalau salah kemudian langsung meminta maaf.

Perbedaan ini begitu menarik, karena dapat membuat hal kecil nan sepele manjadi konflik yang semakin besar dan bahkan membakar rumah tangga hingga ludes tak bersisa. Di sisi lain, kalau perbedaan itu disikapi dengan benar, justru akan membuat cinta bersemi layaknya pengantin baru. Lebih jauh, kalau disikapi dengan mengutamakan Allaah, perbedaan itu akan menjadi sarana mendidik diri dan menabung pahala.

*****

Masih dalam status yang sama, si pemilik akun membeberkan cara menyikapi marahnya istri supaya berbalik menjadi sayang. Sederhananya, adalah dengan mengalah, meminta maaf, dan memeluknya tanpa bertanya ia salah apa. Cara ini cukup jitu untuk meluluhkan hati istri. Karena sejujurnya, ketika marah, yang diperlukan seorang istri hanya kerendahan hati suaminya untuk mengaku salah dan mengakui bahwa si istri benar. See? Karena perempuan selalu benar.

Mulanya saya setuju dengan cara ini. Tapi ketika hal ini terjadi dalam rumah tangga saya sendiri, rasanya ada cara yang lebih baik untuk mengatasi itu.

*****

Sejak awal, saya dan suami bersepakat untuk menjadikan pernikahan kami sebagai sarana belajar untuk menjadi sebaik-baik hamba. Paradigma ini menjadikan setiap konflik yang kami hadapi bukan sebagai ‘masalah’ yang menguras perasaan, tapi sebagai stimulus untuk memunculkan potensi karakter terbaik kami.

Kalau dalam bahasa Adi Hidayat, manusia itu punya ‘fujur‘ dan punya ‘taqwa‘. Apa itu fujur? Gampangnya, kebalikannya taqwa. Dan yah, marah itu termasuk fujur. Nah, fujur itu ada untuk merangsang munculnya taqwa.

Misal dalam kasus yang saya angkat di atas, fujurnya adalah perkara sang istri marah. Fujur tidak akan mati ketika dibalas dengan fujur, ia harus dibalas dengan taqwa. Ketika istri bertindak fujur, tugas suamilah untuk berlaku taqwa. Ya, ia dengan sabar dan sangat menekan egonya meminta maaf duluan meski tidak tahu salah apa. Padahal, sebagai laki-laki, melakukan hal itu sangat tidak mudah. Nah, fujurnya istri ini menimbulkan taqwanya suami. Marahnya istri menjadi sarana suami untuk belajar sabar dan rendah hati.

Tidak ada yang salah dengan cara itu. Tapi pada akhirnya, kalau cara itu terus dilakukan, si istri bisa jadi terbiasa untuk ‘menang‘ terhadap suaminya dan parahnya dapat sewenang-wenang terhadap suami. Kalau sudah begini, suami jadi tidak punya power untuk memimpin dan mengatur istri. Padahal, fitrahnya, perempuan itu harus taat. Bukan kemudian suami yang mengikuti istri, tapi istri yang mengikuti suami.

Lalu bagaimana solusinya?

Sebisa mungkin, jadikan fujur dan taqwa itu seimbang. Jangan sampai salah satu pihak fujur terus dan memaksa pihak yang lain untuk taqwa terus.

Dalam kasus di atas, cara terbaiknya adalah melatih komunikasi di antara kedua belah pihak. Masing-masing harus melatih diri untuk terbuka dan tidak merasa benar sendiri.

Ada satu teori yang sangat cocok untuk diterapkan untuk resolusi konflik seperti di atas. Yakni adalah dengan saling terbuka dan mengutarakan 3 hal: When you, I feel, dan I want. Misal ketika marah kepada suami, istri harus mengemukakan kekesalannya dengan mengutarakan perbuatan suami yang tidak berkenan di hatinya (when you), perasaannya atas perbuatan suami itu (I feel), dan solusi yang ditawarkan untuk memperbaikinya (I want ).

Meski terdengar mudah, tapi mempraktikkan 3 kata sakti tadi sungguh sulit. Apalagi bagi yang tidak terbiasa mengutarakan emosi seperti saya, memulai pembicaraan dengan ‘I feel‘ saja sudah berderai air mata dan nafas jadi satu dua. Setelah air mata habis dan nafas stabil, terungkapkan juga apa yang telah dipendam. Meski, setelahnya pecah lagi tangis. Heuh, dasar perempuan.

Yeah, bagi perempuan mengungkapkan emosi itu cenderung menyakitkan. Meski begitu, mengatakan perasaan dengan jujur harus terus dilatih. Kita tidak bisa menuntut orang untuk terus-menerus peka akan perasaan kita.

Pertama, karena kalau orang lain tidak peka kita akan lebih kecewa dan memendam perasaan itu lebih lama. Hal ini akan sangat mempengaruhi kejiwaan kita.

Kedua, karena badmood atau marah tanpa sebab itu mengesalkan orang lain. Apalagi jika ketika ditanya ‘ada apa‘ hanya dijawab dengan ‘nggak papa‘, padahal sebetulnya ada apa-apa, kita berarti telah berbohong. Baik berbohong pada diri sendiri, maupun berbohong pada pasangan. Di sinilah bahayanya. Karena ketika kita berkata dusta, selain mendapat dosa, akan ada keburukan lain yang mengikuti perkataan dusta itu. Seperti yang digambarkan Rasulullaah dalam hadist ini,

Dan jauhilah oleh kalian berbuat dusta, karena dusta membawa seseorang kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan seseorang ke Neraka. Dan jika seseorang senantiasa berdusta dan memilih kedustaan maka akan dicatat di sisi Allaah sebagai pendusta (pembohong).’” (H.R. Bukhari) 

Ketiga, karena kecerdasan seorang perempuan akan sangat mempengaruhi kecerdasan keturunannya. Dan komunikasi yang efektif adalah salah satu bentuk kecerdasan juga. Kalau kita terbiasa marah tanpa sebab atau tidak jujur dengan perasaan, maka jangan heran kalau anak kita kelak sering tantrum dan kurang bisa mengungkapkan perasaannya. Selain karena itu menjadi karakter, juga karena belum selesainya kita dengan diri kita sendiri tentu membuat kita tidak bisa membuat orang lain (anak kita kelak) untuk selesai dengan dirinya.

Keempat, nah ini bagian paling menariknya. Mengatakan secara jujur kesalahan orang lain dan memberi solusi atas kesalahan itu akan membuat orang lain mengoreksi dan memperbaiki dirinya. Disinilah yang kami bilang pernikahan itu adalah sarana memperbaiki diri menjadi sebaik-baik hamba. Karena ketika kita salah, akan selalu ada yang mengingatkan.

Saya suka menganalogikan pernikahan itu ibarat sedang meniti jalan yang lurus. Terkadang, adaaa saja hal yang membuat kita berjalan menjauhi jalan yang lurus itu. Nah, tugas pasangan adalah untuk meluruskan. Meski cara meluruskannya kadang tidak enak, seperti harus berkonflik dulu, tapi ketika hasil akhirnya kita tetap on the track dan sampai di tujuan dengan selamat, bukankah itu adalah sebuah kenikmatan? Karena sungguh, tugas kita adalah untuk menjaga keluarga kita dari api neraka.

*****

Yah, meski hal di atas adalah dalam konteks suami-istri, tapi sebenarnya kecerdasan komunikasi dan mengungkapkan emosi itu sangat penting untuk dimiliki oleh siapapun. Baik itu dalam hubungan pertemanan, hubungan profesional, hubungan kekeluargaan, maupun hubungan-hubungan lainnya. Bukan hanya untuk melegakan hati saja, tapi juga untuk membuat orang lain mengoreksi dan memperbaiki dirinya. Bukankah sebaik-baik kawan adalah ia yang senantiasa mengingatkan dalam kebaikan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *