Lompatan-lompatan

Hidup adalah kumpulan lompatan-lompatan. Entah lompatan dari tempat yang rendah menuju ke tempat yang lebih tinggi, atau sebaliknya. Beruntunglah bagi ia yang setiap lompatannya membawanya ke tempat yang lebih tinggi. Sebaliknya, betapa ruginya ia yang lompatannya justru menjerumuskan ia ke tempat yang paling rendah.

Hidup saya adalah juga kumpulan lompatan. Tentu tidak semuanya adalah lompatan yang meninggi, bahkan banyak pula yang justru merendah. Meski, lompatan merendah itu mostly terjadi di masa kecil dan remaja saya. Pasca hijrah, niat untuk melompat lebih tinggi itu InsyaaAllaah terus ada. Yah, meski, kadang niat itu belum tentu termanifestasi jadi perbuatan sih.

*****

Masa remaja saya boleh jadi dibilang sulit, sangat sulit. Kala kakak-kakak saya pergi jauh untuk menuntut ilmu agama, saya dibenturkan dengan lingkungan sekolah negeri yang begitu bebas dan sekuler. Keadaan ini mempengaruhi masa puber saya, hingga membuat saya menjadi begitu pemarah selama berbulan-bulan dan menghasilkan diary yang tertulis di seluruh dinding kamar saya.

Masa itu begitu sulit, sungguh. Nilai-nilai yang orangtua saya dulu tanamkan saling tabrak dengan realita yang saya hadapi. Di sekolah, saya tidak punya banyak teman yang betul-betul dekat karena tidak ada yang memahami cara saya berpikir dan bertindak. Di lingkungan rumah, tidak ada teman yang sebaya. Padahal, masa itu adalah masa di mana seseorang begitu bergantung pada teman-temannya. Keadaan ini turut menyumbang karakter saya yang cenderung independen dan semau gue.

Dan, yeah, hal ini membuat saya bergerak berdasarkan apa yang saya suka, bukan yang orang lain inginkan. Apalagi didukung oleh kondisi keluarga yang demokratis, dan mendukung apapun yang kami lakukan sepanjang ibadah masih terjaga.

Di organisasi, sifat ini membuat saya sering sekali berbeda pendapat dengan yang lain. Terkadang saya menang dengan pendapat saya, tapi tidak jarang juga konflik timbul dan saya memilih untuk mundur teratur. Somehow, organisasi kampus memberitahu saya bahwa saya bukanlah orang yang cocok berada di sebuah sistem dan di bawah tekanan orang lain. Saya terlalu nyaman dengan diri dan pikiran saya sendiri.

*****

Hal ini juga menyebabkan saya tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah. Selain karena saya tidak suka, pekerjaan-pekerjaan itu sudah paripurna di tangan Ummi, anak-anaknya yang lain, atau penyedia jasa.

Misalnya perkara mengurus pakaian. Sebelum menikah, sungguh saya tidak pernah tahu bagaimana cara mencuci karena orang serumah pakai jasa binatu. Pernah mencuci tangan waktu KKN, tapi itu hanya berdasar insting tanpa diajari. Menyetrika pun jarang sekali. Pernah saya menyetrika baju yang akan digunakan untuk akad, yang saking tidak terampil dan tidak terlatihnya jari saya sampai melepuh.

Ah, jangan ditanya masalah bebersih rumah. Waktu di asrama dulu, saya langganan mendapat ‘surat cinta’ dari staff pembinaan karena di antara 29 kasir yang lain, kasur saya paling berantakan. Saya juga langganan terkena denda kebersihan karena lupa tidak piket, walau sebenarnya lupa itu adalah turunan dari malas.

Berbicara urusan domestik, hanya memasak yang saya suka. Yah, meski cuma bisa bikin kue lebaran karena dulu saya jualan.

Kemudian, negara api menyerang. Pernikahan dadakan memaksa saya untuk melakukan banyak sekali lompatan. Saya begitu susah diatur, independen, dan payah sekali dalam urusan domestik. Tapi barangkali menikah cepat adalah cara Allaah untuk mendidik saya, untuk membantu saya melompat ke tempat yang lebih tinggi.

****

Lompatan pertama saya adalah demi menjadi istri yang taat. Tidak heran kalau istri yang taat itu berhak masuk pintu surga yang mana saja. Karena taat kepada orang yang mulanya asing itu tidak tanggung-tanggung sulitnya. Apalagi untuk orang seperti saya, yang sejak awal susah diatur, menundukkan ego untuk menurut adalah sebuah pantangan.

Butuh berbulan-bulan bagi saya untuk memunculkan ketaatan itu. Dalam prosesnya, dududu, laksana sedang akan menjalani ujian nasional. Butuh belajar banyak dulu, baik dari buku atau kajian, maupun dengan mengambil sebanyak-banyaknya hikmah dari setiap kejadian yang ditemui. Dari semua yang saya pelajari, intinya satu.

Andai saya memandang suami sebagai individu, ketaatan itu akan timbul tenggelam. Kadang bisa taat, tapi seringnya tidak, karena toh Mas Fahmi juga manusia biasa. Maka paradigma yang dipakai adalah memandang ketaatan pada suami sebagai ketaatan kepada Allaah. Menaati suami adalah menaati Allaah. Dan kalau saya ingin menjadi hamba terbaik-Nya, maka saya harus menaati-Nya, saya harus menaati suami saya. Dengan paradigma itu, InsyaaAllaah jadi lebih istiqomah untuk taat. Karena kalau tidak, hukumannya bukan dari suami semata, tapi dari Allaah ta’ala.

*****

Lompatan kedua saya adalah mengerjakan pekerjaan domestik. Awal-awal nikah dulu, Mas Fahmi hampir setiap hari memberi kuliah bagaimana cara mengerjakan pekerjaan domestik. Mulai dari cara mencuci dan menyetrika pakaian, cara membuat teh yang enak, cara menyapu dan mengepel lantai, cara mencuci piring, dan masih banyak lagi cara melakukan pekerjaan yang terkesan remeh-temeh itu. Remeh bagi orang lain, tapi sungguh bagi saya itu pelajaran besar. Saking beratnya pelajaran itu, saya hampir-hampir menyerah dan masa bodoh saja.

Kalau saya tidak ingat bagaimana dulu Fathimah Az-Zahra dulu mengerahkan seluruh upayanya seorang diri demi melayani keluarga dan para Ahlus Shuffah hingga Rasul pun menangis melihatnya, barangkali menyapu pun saya enggan. Kalau saja saya tidak ingat kalau Ibu mertua saya yang begitu tough mengerjakan pekerjaan rumah sendirian sembari berdzikir hingga bisa melahirkan anak-anak yang begitu hebat, barangkali semua pakaian kami sudah saya antar ke laundry. Ah, sungguh, kalau saya tidak ingat akan mimpi saya untuk melahirkan generasi terbaik ummat ini, barangkali sudah porak-poranda rumah saya sekarang.

*****

Lompatan ketiga saya adalah meletakkan keluarga di atas segalanya. Perkara yang ini, hmmm, berjuta rasanya. Ummi saya seringkali berpesan untuk kami mengutamakan urusan ummat di atas segalanya. Dan memang dalam prakteknya, Ummi seringkali mendahulukan orang lain daripada keluarga sendiri. Misalnya dalam pakaian, baju-baju terbaik Ummi seringkali tidak bertahan di almari karena sebelum dipakai sudah diberikan kepada orang lain. Bahkan terkadang kami hampir tidak memiliki uang untuk keperluan kami sendiri, karena uang yang ada habis untuk membiayai anak-anak di rumah. Karena inilah, dalam benak saya dulu, yang utama adalah mendahulukan orang lain.

Tapi rupanya menjadi istri tidaklah begitu. Kalau surga seorang anak terletak di kaki ibunya, sungguh surga seorang istri terletak di keridhoan suaminya. Pahala dan kewajiban terbesar seorang istri bukan ketika mendahulukan orang lain, tapi ketika meletakkan kepentingan suami di atas segalanya.

Dulu, awal menikah saya sempat stress karena mengalami post power syndrome. Setelah berkecimpung di hingar bingar pergerakan kampus yang menggairahkan, tiba-tiba masa pasca kampus dan peran baru sebagai istri membuat saya diam di rumah tanpa something big untuk dikerjakan. Saya merasa sangat sedih karena merasa tidak bermanfaat.

Tapi kemudian, waktu akhirnya mengajari saya bahwa pahala terbesar saya kini bukan pada kebahagiaan orang lain, tapi pada kebahagiaan suami saya. Karena bagaimanapun, fitrahnya, pengabdian terbesar seorang istri itu adalah kepada suaminya. Menyadari hal itu, kini, saya jadi tergugah betul untuk memberikan service terbaik dan kejutan-kejutan kecil setiap Mas Fahmi membuka pintu rumah. Melihat Mas Fahmi tersenyum, tertawa, dan merona wajahnya karena bahagia, somehow, menjadi kebahagiaan terbesar saya saat ini.

*****

Saya bersyukur sekali, Allaah berkenan berikan saya banyak lompatan di usia ini. Meski saya begitu ‘mentah’ sebagai perempuan dan menikahpun hanya bermodal niat baik dan basmallah, tapi justru dengan begitu apa-apa yang bagi orang lain menjadi rutinitas karena saking biasanya, pelajaran yang saya temui pada akhirnya mendorong saya untuk terus memperbarui niat dan memberi pemaknaan di setiap aktivitas saya.

Ah, terimakasih banyak atas usia 22 saya yang mungkin tampak tidak produktif, tapi sesungguhnya saya banyak sekali belajar. Kini saatnya untuk lebih mengencangkan ikat pinggang, dan melesat mengangkasa di usia 23 ke depan.

Allaah, mohon berkahi setiap detik usia kami dan mudahkan kami untuk terus menuju-Mu…

One thought to “Lompatan-lompatan”

  1. Skill urusan domestik kuncinya dalam pembiasaan.
    Cubitan bagi diriku untuk menyiapkan gadis-gadisku dimasa pranikahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *