Relativitas Ambang Batas Perasaan

Kamu nggak capek bolak-balik Klaten-Jogja setiap hari buat koass, Mi?” Tanya salah seorang teman koass saya suatu ketika.

Enggak, kok. Asal masih bisa dijangkau dan nggak perlu nginep di luar kota, itu sudah cukup membahagiakan.” Saya menjawab sambil berjalan ke arah parkiran.

Memangnya kalau harus nginep di luar kota kenapa?” Tanyanya lagi.

Ya tentu aku kehilangan waktu untuk bersama keluarga dan yang penting juga adalah waktu untuk mencari nafkah. Kan kalau malam aku nyambi kerja ngajar di Rumah Tahfidz.

Ooh, jadi gitu. Pantes, kalau pembagian RS jejaring kamu selalu minta yang sekitar Jogja.” Teman saya ini mencoba menyimpulkan.

Yap, bener banget. Dengan tetap di sekitar Jogja, aku kan tetep bisa koass dan memenuhi tanggung jawab sebagai kepala keluarga.” Saya menegaskan lagi.

*****

Ya begitulah risiko yang harus diambil. Sebagai pasangan muda yang sama-sama masih memiliki amanah tugas belajar, tentu bukanlah hal yang mudah. Kami masih terikat oleh aturan-aturan kampus tempat kami belajar. Maka, sebisa mungkin saya selalu melobi teman kelompok, admin bagian, staf, bahkan konsulen agar saya bisa menyesuaikan waktu untuk keluarga maupun koass.

Sebenarnya, kalau boleh jujur, tentu saya ingin seperti teman-teman lainnya yang bisa bebas menginap di asrama luar kota. Tidak perlu bolak-balik setiap pagi dan sore bahkan malam. Tidak perlu harus melobi teman untuk bertukar tempat. Tidak perlu harus mendapatkan omelan admin bagian. Tidak perlu harus dimarah-marahi konsulen.

Namun, bukankah itu adalah sebuah pilihan? Dan setiap pilihan ada konsekuensi dan harga yang harus dibayar.

Saya rela melakukan dan mendapatkan itu semua demi supaya saya tidak dzalim terhadap keluarga saya. Barangkali, ada yang berpikir dan bertanya, kenapa saya begitu menyusahkan diri untuk hal-hal yang seharusnya tidak terlalu penting seperti di atas. Tentu jawabannya kembali kepada persepsi dan nilai masing-masing pribadi. Bagi saya, keluarga adalah yang prioritas dan senantiasa menjadi perhatian utama.

*****

Dan inilah yang saya rasakan selama kurang lebih menjalani pendidikan koass selama setahun ini. Berangkat pagi buta dan pulang sore kadang menjelang malam. Apakah capek, tentu. Bosan, jelas. Namun, ada hal yang bisa menyembuhkan itu semua dengan instan. Kami begitu mudah tersenyum dan tertawa hanya sekedar saling melihat sehingga hilang rasa lelah. Kami sering memberikan kejutan-kejutan kecil agar tidak mudah bosan.

Ya, menikah benar-benar membuat selera humor dan ambang batas kemarahan saya menurun. Kami sering memanfaatkan waktu bersama untuk bermain game yang aneh dan absurd namun sukses membuat kami tertawa lepas. Misalnya main kedipan mata, main ombak laut, dan lainnya yang sangat sederhana dan sungguh absurd. Momen seperti ini sungguh berharga. Saya akan melakukannya bahkan jika harus menunda mengerjakan tugas/PR atau barangkali belajar untuk ujian.

Lain waktu, kami saling membuat kejutan dari yang paling spesial sampai yang paling absurd. Misalnya, pulang bawa oleh-oleh makanan sampai mengejutkan dengan tiba-tiba muncul dari balik tirai. Hal-hal yang aneh namun berhasil memecah suasana bosan dan kangen dalam keluarga kecil kami. Entahlah, barangkali akan semakin heboh kalau kami kelak memiliki momongan cilik. Ya, keluarga adalah segalanya. Dan I am a family man, orang yang tak bisa jauh dari keluarga. Walaupun jarak memisahkan, hati tak pernah bisa berdusta.

*****

Saya sadar betul, setelah menikah, saya tidak akan memiliki banyak waktu lagi untuk jalan-jalan bersama teman. Saya tidak akan punya banyak waktu untuk ngobrol dan nongkrong hingga larut malam. Saya tidak memiliki banyak waktu untuk berhibur bersama teman-teman terdekat saya. Bahkan, saya sering dibilang lupa dengan teman. Namun, itulah harga yang harus dibayar. Menikah menimbulkan banyak konsekuensi. Salah satunya adalah, lebih serius menjalani hidup ini.

Maka, hal-hal sederhana yang saya lakukan dalam keseharian dengan Dek Zahra adalah dalam rangka menghilangkan kelelahan dan kejenuhan tersebut. Sungguh abstrak dan absurd. Barangkali kalau orang melihat, akan nyinyir dan mengatakan kami ini kurang hiburan. Namun, inilah cara kami berbahagia, sangat sederhana dan ternyata begitu mudah. Banyak hal yang biasa kami lakukan dan baru kami sadari ternyata bisa menjadi hiburan yang luar biasa untuk kami.

Misalnya lagi, seperti obrolan kita pagi ini. 

“Siang ini kita makan kentang, yuk?”

“Kentang siapa?” Tanyaku. 

“Kentang kita lah. Kan kemarin masih sisa.” Ujar Dek Zahra mengingatkan.

“Bukannya Kentang Kita itu lagunya Peterpan yang dulu itu ya?”

“Hmmmm…?”

Dan kita pun tertawa ngakak bersama. 

Saya benar-benar merasakan batas kebahagiaan saya menurun sehingga lebih mudah bahagia. Begitu pula dengan ambang batas kemarahan saya, menjadi semakin sulit untuk marah. Menikah benar-benar mendidik saya dan membuat ambang batas perasaan menjadi relatif.

Yaa Allaah, tanamkanlah rasa ketentraman dan kecenderungan dalam hati kami, tumbuhkanlah cinta yang berpupuk iman dari hati kami, dan jagalah ikatan ini hingga kami menghadap Engkau kelak, Aamiiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *