Mengganti Kacamata

Setiap syariat yang Allaah swt berikan kepada umat manusia tentu menyimpan manfaat di baliknya. Jika belum kita ketahui, barangkali kita masih kurang ilmu dan pengalaman untuk memahami rahasia Allaah swt. Ini adalah salah satu bentuk logika husnudhon yang kita kedepankan dalam berhubungan dengan Allaah swt. Dan itulah yang saya rasakan ketika menikah.

Ada hal-hal tentang syariat yang baru kita ketahui manfaatnya setelah kita menikah. Bisa jadi aturan-aturan syariat tersebut saling berkaitan erat sehingga begitu satu terpenuhi maka akan membuka rahasia syariat lainnya. Dan terkait dengan menikah ini, setidaknya ada beberapa hal yang saya rasakan betapa syariat diturunkan oleh Allaah swt untuk menjaga keseimbangan dan fitrah alam semesta. Meski, pada beberapa aturannya, tampak tidak adil atau berat sebelah pihak.

Misalnya tentang keutamaan laki-laki atas perempuan dalam surat An-Nisa’ ayat 34 berikut ini,

“Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri). Karena Allaah swt telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan). Dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).”

Kami baru merasakan betapa pentingnya seorang laki-laki harus mampu menjalani perannya sebagai qawwam dalam keluarga. Tidak hanya sebagai teladan dan pelindung saja, namun juga harus mengetahui ke arah mana keluarganya akan dibawa. Ketika laki-laki lemah dalam hal agama, maka keluarganya akan sangat rentan. Terutama ketika istri sedang mood swing karena lonjakan hormonal yang musiman.

Sementara, perempuan akan merasakan betapa pentingnya ketaatan dibutuhkan dalam sebuah ikatan pernikahan. Begitu istri mudah membantah dan tak mau taat pada suami, maka simpul keluarganya akan mudah lepas. Terutama ketika fase mood swing, mungkin akan banyak terjadi cekcok. Istri yang kurang taat juga akan mempersulit suami dalam menentukan visi dan grand design keluarganya karena selalu berbeda pendapat.

Dan bagi kedua belah pihak, mempersiapkan keduanya bukanlah perkara yang mudah. Untuk memiliki karakter qawwam, ada banyak hal yang harus dipersiapkan dan dibentuk dalam diri laki-laki. Begitu pula perempuan, ada banyak hal yang perlu dilatih supaya mudah menaati suaminya. Pada akhirnya, menikah adalah soal implementasi sifat qawwam dan ketaatan antara suami dan istri.

Contoh lainnya adalah soal menikah yang lebih menundukkan pandangan dan anjuran bagi perempuan untuk tinggal di rumah. Aturan ini berasal dari sabda Rasuulullaah saw,

Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena menikah itu lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan.”

Dan juga firman Allaah swt dalam surat Al-Ahzab ayat 33 berikut ini,

Dan hendaklah kamu tetap tinggal di rumah-rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu. Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, wahai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”

Keduanya adalah sesuatu yang bersifat implikatif, bahkan biimplikatif. Ketika laki-laki lebih menundukkan pandangannya di luar rumah, maka ketika pulang ia akan menjumpai istrinya seakan bidadari yang paling cantik di dunia. Begitu juga dengan perempuan, ketika ia cukupkan dirinya untuk tinggal di rumah memberikan pelayanan terbaik untuk suaminya, maka ia akan mendapatkan penghargaan yang luar biasa dari suaminya.

Katakanlah misalnya, laki-laki tak mampu menjaga pandangannya selama di luar rumah. Maka, ia akan mulai membanding-bandingkan setiap perempuan yang dilihatnya dengan istrinya. Jika, ia mendapati istrinya tak lebih baik dari asumsinya tentang perempuan yang dilihatnya, maka mudah bagi setan untuk menggoda hatinya. Maka, celah ini bisa ditutup oleh istri dengan memberikan pelayanan terbaik bagi suaminya. Sehingga, suami akan senantiasa menjaga dirinya, menjaga cintanya, selama di luar rumah, dan meluapkannya ketika pulang ke rumah bersama keluarganya.

Katakanlah seorang istri tak mau tinggal di rumah. Ia tak mau mengerjakan urusan rumah tangga sesuai bagiannya yang ditentukan bersama suaminya. Konsekuensinya, ia tak akan mampu melayani suaminya dengan cara yang terbaik. Terlebih, di luar rumah, dengan dandanan terbaiknya, ia berpotensi menarik pandangan mata yang tidak halal dari lelaki di sekitarnya. Akibatnya, ketika suaminya pulang, sering tak mendapati istrinya di rumah. Masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Maka, ia akan mulai berpikir dan membandingkan dengan perempuan lain yang dilihatnya di luar rumah. Celah ini bisa ditutup oleh suaminya dengan menundukkan pandangan agar orientasi kecantikan perempuan hanya pada istrinya.

Yang menarik adalah, kedua syariat tersebut juga berlaku sebaliknya antar suami-istri. Misalnya, istri mampu memberikan pelayanan yang terbaik bagi suami dan keluarganya dan masih memiliki waktu sisa untuk beraktivitas di luar rumah. Maka, ia juga harus mampu menundukkan pandangannya dan menjaga dirinya dari berdandan yang berlebihan. Katakanlah suaminya sudah mampu mencukupi nafkah keluarga tanpa harus pergi keluar rumah. Maka, ia harus mampu dan mau membantu urusan rumah tangga dengan baik agar meringankan tugas istrinya. Tidak sebaiknya ia pergi keluar rumah dan menghabiskan waktu dengan orang lain sementara waktu untuk keluarganya sangat kurang.

Dan ada banyak hal lainnya, yang baru saya sadari manfaatnya setelah merasakan nikmat pernikahan. Kebanyakan adalah hal-hal yang sifatnya privasi dan sebaiknya ditemukan kenikmatan dan manfaatnya setelah menikah sebagai kejutan dari Allaah swt. Tapi pada intinya, setiap aturan Allaah swt pasti menyimpan manfaat yang luar biasa pengaturannya dalam rangka menjaga keseimbangan alam semesta. Dan kehidupan setelah menikah adalah kehidupan yang berbeda. Minimal berbeda cara pandangnya. Maka, itulah kenapa saya seringkali menyebut bahwa pernikahan itu seperti orang yang mengganti pintu rumahnya. Ia mengganti kacamatanya untuk menemukan cara pandang baru yang lebih jelas dalam memahami syariat Allaah swt.

Yuk, ganti kacamata, 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *