Mr. Rempong

Ada sebuah kebiasaan baik Mas Fahmi yang bagi saya, terkadang menjengkelkan. Yakni ke-rempongan-nya atas segala sesuatu. Ya, segala sesuatu.

Kalau biasanya perempuan yang rempong dan cerewet, dunia kami berbeda. Mas Fahmilah yang justru begitu. Ia sangat rempong dan cerewet urusan kebersihan. Misal urusan menyapu lantai. Kalau ada sedikit saja bagian yang kurang bersih atau masih ada debunya, ia akan protes dan dengan muka gemasnya yang lucu menyuruh saya menyapu ulang.

Ia juga sangat rempong dan cerewet masalah tulisan. Dulu, skripsi saya diteliti satu per satu hurufnya untuk memastikan tidak ada tanda baca atau kata yang salah. Untuk tulisan di blog pun, ia akan sangat teliti masalah tanda baca, penggunaan bahasa, hingga miring dan tebalnya huruf. Dalam urusan chatting, tidak pernah ia menyingkat kata, sama sekali tidak pernah. Ia juga selalu menggunakan tanda baca yang 100% tepat, bahkan meski hanya mengirim pesan “oke” atau “iya” atau bahkan “wkwk”, ia akan selalu membubuhkan tanda titik di belakangnya.

Tidak ketinggalan urusan makan, ia juga begitu rempong dan cerewet. Kalau ketahuan menyisakan sebutir nasi atau setitik lauk atau sayur, ia akan menunjuknya dan berkata, “Ini belum habis, habisin“. Kadang bahkan disertai ancaman tidak jadi pergi atau nonton film kalau saya belum benar-benar menghabiskannya.

Bagusnya, kerempongannya ini juga mencakup masalah amanah. Saya berani bertaruh, ia adalah orang yang sangat amanah. Mas Fahmi begitu rempong dan cerewet kalau saya belum menyelesaikan suatu pekerjaan. Bahkan untuk sesepele mengembalikan buku perpustakaan tepat waktu. Pernah suatu kali saya protes, “Kan murah dendanya. Lagian emang waktunya nggak memungkinkan”. Setelahnya saya diceramahi panjang lebar tentang menjaga amanah.

*****

Mulanya saya begitu sebal, sungguh. Belum pernah dalam periode hidup saya, saya berada di bawah orang yang begitu detail dan ribut dengan segala hal-hal sepele. Dulu bahkan saya sempat depresi dan kehilangan beberapa kilogram berat badan.

Tapi kemudian, ketika mulai belajar untuk khusyu’ dalam shalat, saya jadi paham kenapa Mas Fahmi begitu. Bahwa, tidak lain dan tidak bukan karena sebuah hal bernama ihsan.

*****

Tentu kita telah dengar kisah tentang pemuda dan ayamnya. Ada tiga pemuda yang masing-masing diberi ayam oleh gurunya. Sang guru menginstruksikan ketiganya untuk menyembelih ayam tersebut di tempat yang tidak tampak oleh siapapun.

Pemuda pertama menyembelihnya di hutan belantara, sedangkan pemuda kedua menyembelihnya di sebuah gua. Pemuda ketiga kembali kepada guru mereka dengan masih membawa ayam hidup. Ketika ditanya kenapa ia tidak menyembelih ayam tersebut ia menjawab,

Aku tidak menemukan tempat yang paling aman dan tidak dilihat siapapun. Karena Allaah melihatku”

Surprisingly, jawaban inilah yang diinginkan oleh sang Guru.

Somehow, kisah ini mengajarkan kita akan sebuah sikap bernama ihsan, sikap yang timbul karena kita senantiasa merasa diawasi oleh Allaah. Karena merasa diawasi itulah, kita jadi punya kontrol diri untuk tidak melakukan maksiat. Lebih jauh, ihsan juga termanifestasi dalam bentuk sikap untuk senantiasa totalitas dalam melakukan sesuatu. Bagaimana tidak total, kalau Allaah, Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu, senantiasa mengawasi kita? Bagaimana tidak total, kalau Allaah, yang akan membalas semua perbuatan kita, senantiasa mencatat perbuatan kita lewat malaikatnya?

*****

Begitulah juga yang tertanam dalam diri Mas Fahmi. Ia menjadi rempong dan cerewet begitu bukanlah atas dasar kepribadiannya semata, tapi atas dasar ihsan, atas dasar iman. Dalam hatinya barangkali telah terpatri sebuah tekad untuk senantiasa memberikan yang terbaik untuk Allaah.

Meski kemudian terasa menyebalkan, tapi ketika menyadari bahwa ia berbuat begitu karena Allaah, saya jadi malu sendiri dan bertanya-bertanya.

“Sejauh mana imanku termanifestasi dalam perbuatanku?

Sejauh mana imanku tercermin dalam setiap aktivitasku?

Sejauh mana imanku membawaku menjadi sebaik-baik insan?”

Ah, semoga Allaah senantiasa meneguhkan iman kita, dan membimbing kita menjadi sebaik-baik hamba-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *