Atas Nama Iman

Seseorang pernah bertanya, bagaimana cara saya mengatur urusan domestik tanpa menghabiskan banyak waktu. Jujur, saya butuh waktu yang sangat lama untuk memikirkan jawabannya. Karena sejujurnya, saya pun masih belajar untuk itu. Dan saya kira, daripada mengerti teknis bagaimana caranya, jauh lebih penting membangun paradigma dalam mengerjakan urusan domestik tersebut.

Kenapa begitu? Karena urusan teknis itu tidak bisa diduplikasi begitu saja. Pasti ada saja perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya. Pun, kemampuan dan keadaan setiap orang berbeda. Tapi ketika yang dibangun adalah paradigmanya, setiap orang akan bisa meletakkan pekerjaan seefisien mungkin sesuai kemampuan dan keadaannya.

*****

Begini, saya terbiasa berpikir kritis. Kadang mungkin terlalu kritis. Saya seringkali belum akan melakukan sesuatu kalau tidak tahu esensi dari sesuatu tersebut. Begitu pula dengan urusan domestik.

Sebelum menikah, saya malas sekali mengerjakan urusan domestik. Alasan utamanya adalah saya tidak mengerti esensinya. Tapi setelah menikah, saya berusaha betul untuk dapat maksimal mengerjakannya. Selain karena alasan-alasan yang sudah tertulis di sini, saya coba untuk menggali esensi dari setiap pekerjaan.

*****

Salah satu contohnya adalah urusan mencuci pakaian. Kenapa sih harus mencuci pakaian? Jawabannya adalah supaya pakaian kita senantiasa suci sehingga dapat digunakan untuk shalat. Lagipula, Allaah mencintai hamba-Nya yang mensucikan diri.

Nah, setelah ketemu aksiologinya, perlu sekali kemudian untuk mengetahui epistemilogi atau metodenya. Bagaimana sih cara mensucikan pakaian yang benar dan sesuai syariat? Jawaban ini harus terjawab supaya tujuan yang tadi sudah dicanangkan tercapai.

Dalam konteks mencuci pakaian, tujuan utamanya adalah membuatnya suci dari najis dan kotoran lain. Nah, maka di awal sekali sebelum merendam pakaian, kita harus memastikan bahwa pakaian tersebut terbebas dari najis supaya air yang digunakan untuk merendam telah suci. Caranya adalah dengan mengucek pakaian di bagian yang rawan terkena najis di bawah air mengalir. Setelah semua basah, barulah di rendam dengan sabun. Kalau mencuci dengan mesin cuci, menghilangkan najis dapat dilakukan dengan memutar mesin cuci tanpa sabun terlebih dahulu. Setelah airnya dibuang, barulah dicuci sungguhan.

Setelah direndam, pakaian baru dapat dikucek dan dibilas seperti biasa. Ketika dikucek, pastikan noda-noda sudah rontok semua. Dan ketika dibilas di bawah air mengalir, pastikan air sudah bersih dari sabun. Karena kalau airnya masih bersabun, bisa jadi masih ada najis yang tertinggal.

Untuk menyingkat waktu, kita bisa menyingkat langkah-langkah mencuci di atas. Tapi tentu dengan tetap memastikan tidak ada najis yang tertinggal. Caranya adalah dengan memaksimalkan kucekan di daerah yang rawan terkena najis, sedang daerah lainnya dikucek sipintas lalu saja sembari membilas.

Nah, di situlah uniknya. Ketika kita sudah set tujuan di awal, kita jadi bisa mengatur metodenya supaya tetap bisa mencapai tujuan tersebut. Jadi, tujuan tercapai, waktu dan energi tidak terbuang percuma. Lain halnya kalau kita tidak tahu apa tujuan kita. Bisa jadi apa yang kita kerjakan, meski memakan waktu dan energi, tapi tujuannya tidak tercapai.

*****

Contoh yang lain adalah memasak. Kenapa harus memasak? Bagi saya, memasak bukan sekedar menyediakan makanan sebagai bekal untuk ibadah saja, tapi juga untuk memastikan makanan yang dikonsumsi keluarga adalah makanan halal, thayyib, dan berkah. Nah, keberkahan inilah yang seringkali tidak ditemui ketika makan di luar.

Untuk mencapai tujuan itu, maka, selain saya memastikan bahan-bahan yang digunakan adalah bahan-bahan terbaik, adalah juga dengan berdo’a dan berdzikir sepanjang memasak. Do’a dan dzikir inilah yang InsyaaAllaah akan menambah keberkahan dalam makanan tersebut.

Masalah makanan ini, sudah mendarah daging di budaya kita untuk makan dari piring yang ada nasi, lauk, sayur, sambal, dan segala tetek-bengeknya. Maka tidak heran butuh waktu yang sangat lama hanya untuk sekali makan. Padahal Rasulullaah sendiri di rumahnya jarang sekali asap mengepul karena jarang masak. Maka sebetulnya, kalau titik tolak kita adalah halal, thayyib, dan berkah, akan sangat memudahkan kita untuk mengefisienkan waktu dan tenaga. Salah satu caranya dengan mengganti menu biasa dengan makanan yang lebih praktis (bisa dibaca di sini).

*****

Somehow, dalam mengerjakan urusan domestik, pasti ada saja saat-saat di mana kita begitu malas. Kalau sudah begitu, seringkali kita jadi menunda untuk mengerjakannya atau mengerjakannya dengan kurang maksimal.

Saat itulah, sungguh keimanan kita sedang diuji. Dan derajat keimanan kitalah yang nantinya menentukan sejauh mana kita berjuang mengalahkan kemalasan diri kita sendiri.

Katakanlah kita sudah mencanangkan tujuan atau niat kita untuk melakukan suatu pekerjaan, yang berujung pada niat karena Allaah. Tapi kemudian kemalasan menghinggapi.

Nah, maka kemudian, iman kitalah yang akan menentukan akhir dari suatu pekerjaan tersebut. Jika dengan niat itu kita menunda-nunda, berarti iman kita masih kalah dengan malas. Jika dengan niat itu kita mengerjakannya dengan sekenannya saja, berarti malas masih menguasai. Tapi jika dengan niat dan kemalasan yang mendera itu, kita tetap dapat menyelesaikan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, maka di situlah iman kita menang dan berada di tingkat yang lebih tinggi.

*****

Sesungguhnya, tugas kita hanyalah untuk beribadah. Tapi terkadang kita lupa bahwa ibadah itu tidak hanya shalat, puasa, zakat dan haji saja. Pekerjaan domestik pun adalah ibadah. Hal itulah yang kemudian membedakan seorang yang beriman dengan yang kafir. Karena semestinya, meski yang dilakukan sama, orang beriman selalu mempersembahkan apa yang ia kerjakan untuk Allaah saw semata.

Semoga Allaah senantiasa teguhkan iman kita, dan mengikat hati-hati kita dengan sebaik-baik iman kepada-Nya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *