Taat Pada Yang Utama

Minggu lalu, Dek Zahra tiba-tiba mengirimkan sebuah gambar brosur pada saya. Brosur yang berisi informasi pendaftaran camp seminggu Madrasah Al-Filaha. Tentu ini sebuah kabar bahagia. Mengingat kami memang memiliki cita-cita sebagai petani. Dan camp tersebut merupakan binaan Ust. Muhaimin Iqbal, petani modern yang mendasarkan ilmunya pada kitab klasik pertanian Al-Filaha. Dan bagi kami, ini ibarat sebuah jackpot, terlebih kesempatan ini bisa didapat dengan gratis.

“Sayang, boleh ikutan ini nggak?”

“Boleh banget.” Saya langsung menjawab tanpa pikir panjang karena berharap mendapatkan peluang baik tersebut.

Dek Zahra pun mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi peserta. Nantinya, peserta yang lulus akan berangkat ke Purwakarta karena lokasinya berada di sana. Alhamdulillaah, semuanya berjalan lancar, wawancara dilalui dengan mudah karena lewat WhatsApp. Beberapa menit kemudian, kami mendapatkan kabar bahwa Dek Zahra lulus.

Sip.

*****

Tugas kami berikutnya adalah, mencari tiket karena waktu pemberangkatan sangat singkat. Pengumuman hari Ahad, dan mulai pesantren hari Senin. Maka, minimal sore ini harus dapat tiket. Kereta tentu sudah habis. Kami pun mencari info tiket bus, namun sayangnya hanya mendapatkan tiket bus yang sampai ke Purwakarta malam hari. Sementara Dek Zahra akan pergi seorang diri karena tidak ada peserta lain yang berasal dari Jogja. Saya juga tidak bisa menemani karena sedang koass.

“Dek Zahra masih tetap mau berangkat?” Saya bertanya memastikan.

“Nggak papa yaaa? Boleh kan?” Dek Zahra merengek meminta izin.

“Hmmm, aku kok rasanya nggak sreg kalau Dek Zahra berangkat sendiri ya. Kalau ada temennya, mungkin aku masih mengusahakan memberi izin pergi. Tapi ini sendiri soalnya. Kalau nyampai sana malam hari, Dek Zahra mau gimana?” Saya kembali bertanya.

“Nggak papa, kok. Kan aku juga udah besar. InSyaaAllaah bisa nanti nunggu di stasiun atau ke Mushola gitu.” Dek Zahra mencoba membuat alasan.

“Hmmm, sebenarnya bukan masalah Dek Zahra udah besar atau belum. Bukan soal Dek Zahra bisa menjaga diri atau tidak.” Saya mencoba menjelaskan sudut pandang Dek Zahra. Karena menurut saya, ada yang kurang tepat dalam cara pandangnya.

“Ini soal menaati aturan syariat bahwa perempuan tidak boleh pergi seorang diri. Bahkan, sekalipun untuk laki-laki, Rasuulullaah saw juga mengkhawatirkan bepergian seorang diri.” Saya menjelaskan alasan melarang rencana berangkat malam nanti.

Dek Zahra hanya terdiam dan tampaknya belum mau menerima.

“Ini juga soal tanggungjawabku menjaga amanah Abah-Ummi. Kalau dulu mungkin Dek Zahra bisa keluar malam, pergi sendirian, itu urusan Abah-Ummi karena tanggungjawab beliau. Tapi sekarang, amanah itu sudah beralih ke aku. Dan, aku bukan tipikal orang yang bisa membiarkan keluargaku pergi sendirian, terutama untuk yang perempuan.”

“Kenapa nggak boleh pergi sendiri? Karena sendiri jelas lebih mudah diganggu setan, baik dari golongan jin maupun manusia. Maka, pilihan untuk pergi bersama, berjamaah, itu tetap yang terbaik. Bahkan, sekelas ‘Aisyah ra saja, yang tertinggal rombongan Rasuulullaah saw, dan pulang diantar oleh Shafwan ibn Al-Mu’aththal saja terkena fitnah yang sedemikian kejam. Kejadian itu cukup membuat Rasuulullaah saw menyesal dan sedih. Meski akhirnya, isu tersebut hanyalah kabar bohong.”

“Cukuplah kejadian itu menjadi pelajaran buat kita. Itu kalau kita benar-benar mengutamakan syariat dan keimanan kita diatas segalanya. Toh, Allaah swt lewat Rasuulullaah saw sudah menjanjikan, jika kita meninggalkan sesuatu karena Allaah swt, kita akan diberikan pengganti yang jauh lebih baik. Dan barangkali ini menjadi ujian keimanan kita pada-Nya.” Ujar saya menjelaskan panjang lebar.

Dek Zahra pun sedikit banyak akhirnya bisa memahami alasan saya.

*****

Peristiwa kemarin itu benar-benar memberikan pelajaran kepada kami. Bahwa, kami masih sulit menentukan pilihan untuk taat pada syariat Allaah swt. Bahkan, pilihan yang kami ambil kemarin pun barangkali akan mendapat cibiran dari teman-teman kami. Sebagian juga barangkali menyayangkan pilihan yang kami ambil. Tapi, bukankah seharusnya sebuah keluarga begitu? Harus saling menjaga dan mendukung pilihan satu sama lainnya.

Dan pada akhirnya, nilai-nilai yang kita tanamkan dalam keluarga bisa jadi tidak sesuai dengan orang lain. Sementara, keluarga saya adalah milik Allaah swt yang dititipkan pada saya. Maka, tak ada nilai-nilai yang lebih baik dibanding menanamkan syariat Islam. Tak ada dasar yang lebih baik untuk dibangun selain iman.

Yaa Allaah, terima kasih atas ujian yang Engkau berikan kepada kami. Berikanlah hidayah, taufik, dan ilham agar kami tidak salah dalam memilih jalan kami.

One thought to “Taat Pada Yang Utama”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *