Hati-Hati Pada Hal Sepele

Dalam sesi evaluasi keluarga, kami sempat mendiskusikan potensi konflik yang berujung pada perpisahan. Kami membahas itu sangat detail berdasarkan pengamatan kami kepada keluarga-keluarga yang ada di sekitar kami. Tujuannya, tak lain adalah agar kami bisa menghindari potensi konflik yang mengakibatkan perceraian tersebut. Atau, minimal kami memadamkan terlebih dahulu sebelum menjadi lebih parah.

Ada satu pola yang akhirnya bisa kami identifikasi setelah satu tahun pernikahan kami berjalan. Kebanyakan keluarga yang tidak harmonis atau bahkan bercerai, semuanya berawal dari potensi konflik yang sangat sepele. Lucunya, ada sebuah kontradiksi di sini. Justru ketika sebuah keluarga sedang mengalami konflik yang besar, mereka akan semakin kokoh dalam ikatan keluarganya. Ibarat sebuah benteng, temboknya tidak akan hancur jika dilempari batu besar atau dibom sekali waktu. Namun, tembok ini akan roboh dengan sendirinya, jika pondasinya dikikis sedikit demi sedikit.

Patofisiologinya begini, katakanlah salah seorang dari pasangan melakukan kesalahan yang sangat sepele. Saking sepelenya, mereka bahkan awalnya tidak menganggap itu sebagai sebuah kesalahan. Lama-kelamaan, kesalahan itu menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang tidak baik diulang terus akhirnya menimbulkan dampak yang tidak baik pula. Barulah kemudian keluarga ini sadar ada yang salah. Namun, karena sudah menjadi kebiasaan, sulit untuk berubah, bahkan akhirnya menjadi resisten. Maka, jika tidak ada yang bisa mengalah, pertengkaran jelas akan menjadi tontonan harian, dan percerian jelas akan segera terjadi.

*****

Skenario berikut ini akan menjelaskan patofisiologi di atas. Tersebutlah sebuah keluarga kecil. Mereka selama ini hidup cukup harmonis dan dekat hubungannya antara satu dengan lainnya. Suatu ketika sang suami kena penipuan dalam pekerjaannya yang menyebabkan keluarga tersebut kehilangan seluruh tabungannya. Bahkan, untuk menutup kerugian mereka harus berhutang. Kejadian ini kemungkinan besar hanya membuat goyang kapal keluarga, tidak akan karam.

Hari-hari berikutnya, keluarga ini berada dalam masa-masa yang sulit. Namun, masa itulah yang merekatkan ikatan keluarga tersebut. Mereka saling mendukung fungsi peran satu sama lain demi supaya keluarga ini tetap bertahan. Hingga akhirnya, keluarga ini menemukan masa jayanya kembali.

Di masa yang nyaman tersebut, sang suami mulai kehilangan arah. Ia terlalu sibuk bekerja sehingga tidak ada lagi waktu untuk keluarga di rumah. Ia tidak lagi memberikan perhatian pada istri dan anaknya. Ia tidak lagi menyambut pelukan istrinya sepulang kerja. Istrinya tak lagi mendapat pujian atas masakannya. Ia bahkan sering melewatkan sesi makan malam bersama keluarga. Anak-anaknya bahkan tak lagi berani bertanya pada bapaknya karena terlalu sering dimarahi.

Hingga akhirnya, sang istri merasa dirinya hanya seperti pembantu saja. Anak-anaknya terlibat dalam perkelahian di sekolah dan tawuran antar pelajar. Masalah yang sangat sepele lama-kelamaan menimbulkan efek yang begitu besar. Di posisi inilah, sang suami tetap memiliki dua pilihan. Apakah ia akan memilih untuk merekatkan kembali hubungan yang menjauh, saling mendukung untuk menyelesaikan masalah bersama, atau sebaliknya, melepaskan semua ikatan yang sudah terjalin sekian lama.

*****

Apa yang hendak kami pelajari di sini adalah, kita tidak boleh meremehkan sesuatu apapun, yang baik maupun yang buruk. Hal ini karena Rasuulullaah saw sendiri juga sudah mewanti-wanti perbuatan menyepelekan tersebut. Dan tidak hanya menyepelekan keburukan saja, namun juga larangan menyepelekan kebaikan. Sebagaimana disebutkan dalam dua hadits berikut ini,

“Sesungguhnya kalian melakukan suatu amalan dan menyangka bahwa itu lebih tipis dari rambut. Namun kami menganggapnya di masa Nabi saw sebagai sesuatu yang membinasakan.” (H.R. Bukhari No. 6492).

“Janganlah meremehkan kebaikan sedikit pun walau hanya berbicara kepada saudaramu dengan wajah yang tersenyum kepadanya. Amalan tersebut adalah bagian dari kebajikan.” (H.R. Abu Daud No. 4084 dan Tirmidzi No. 2722).

Rasuulullaah saw sudah mengingatkan, tidak ada perkara yang sepele di hadapan Allaah swt selama ada niat ibadah atau mencegah dari maksiat. Bahkan, sekedar memasang wajah terbaik ketika masuk ke rumah untuk bertemu keluarga adalah kebaikan. Bahkan, sekedar memberi kejutan kecil setiap suami pulang adalah kebaikan. Untuk setiap usaha merubah suasana meja makan malam keluarga agar lebih erat adalah kebaikan. Untuk sekedar bertanya kabar anak-anak seharian di sekolah adalah kebaikan. Begitu pula dengan mendengarkan celotehan istri yang bercerita kegiatannya seharian tentu adalah kebaikan. Dan tidak ada kebaikan yang dinilai kecil dalam perbuatan-perbuatan di atas.

Barangkali, jika kebaikan-kebaikan di atas tidak kita lakukan, tidak akan ada yang merasa perlu, tidak ada yang merasa bermasalah. Namun, pelan tapi pasti, tanpa disadari, akan ada dampak yang dirasakan. Ada nilai yang bergeser dan kebiasaan baik yang hilang. Sehingga, untuk memperbaikinya butuh usaha lagi.

Maka saya bersyukur memiliki “ritual” khusus sebelum berangkat keluar rumah. Saya memiliki kebiasaan khusus ketika naik motor bersama istri. Saya memiliki cara khusus untuk menyambut istri yang pulang jika saya duluan sampai ke rumah. Begitu pula Dek Zahra. Dia tahu bagaimana cara mengejutkan saya setiap pulang koass. Sederhana tapi mengena di hati. Dia tahu bagaimana harus bersikap saat mimik muka saya menunjukkan respon tertentu seperti lapar, lelah, dan lain sebagainya. Dan hubungan seperti inilah yang saya maksudkan harus dibangun pada masa-masa honeymoon di awal pernikahan. Agar setiap hari setelahnya tetap terasa seperti bulan madu sepanjang masa.

Maka, hati-hatilah pada hal yang sepele, yang dalam pandangan kita kurang berharga. Bisa jadi itu menjadi celah dan titik lemah kita. Cukuplah kisah Muhammad Al-Fatih ketika menaklukkan Konstantinopel menjadi pelajaran untuk kita. Bahwa, menghancurkan tembok dari atas jelas hal hampir mustahil. Maka, dia membuat pasukan khusus untuk menggali dan masuk lewat bawah tanah lalu mengejutkan para tentara musuh di dalam benteng dan mengoyak pertahanan mereka dari dalam. Dan pada akhirnya, kita semua tahu bahwa strategi ini menjadi salah satu trik yang mampu menaklukkan kekokohan benteng konstantinopel. Jangan sampai benteng keluarga kita dirusak oleh setan dengan cara yang tidak kita sadari.

Yaa Allaah tanamkanlah rasa cinta dan sayang di antara keluarga kami. Jagalah ikatan tersebut dengan keimanan agar setan tidak berani mendekatinya untuk mengurai ikatannya. Sungguh, tidak ada daya dan upaya melainkan atas izin-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *