Mendamba Keturunan

Baiklah, mau tidak mau, saya tetap harus menulis review buku ini. Karena review ini adalah prasyarat saya bisa melanjutkan membaca buku yang lainnya. Kata Mas Fahmi,

“Belum boleh baca buku lain kalau belum bikin review Sarahza”.

Sebenarnya saya enggan membuat review ini. Karena di luar sana sudah banyak sekali review Sarahza bertebaran. Menulis review I Am Sarahza, tentunya hanya akan menambahi garam pada lautan. Maka, saya hanya ingin mensarikan apa-apa yang saya dapat dari pengalaman saya beberapa bulan ke belakang dan pelajaran dari buku ini.

*****

Semua orang yang saya temui bilang mereka kehabisan air mata membaca buku ini. Ya, saya juga. Saya pergi tidur dengan mata bengkak, hidung mampet, dan kepala pening. Hingga paginya, saya dilarang pergi ke masjid demi tidak menimbulkan prasangka yang bukan-bukan di benak jama’ah. Segitunya banget ya? Iya, banget.

Saya ingat sekali, terakhir menangis dengan sama hebatnya sekitar 4 bulan yang lalu. Waktu itu saya pulang dari rumah sakit, dengan vonis Intra Uterine Fetal Death tertulis di album USG saya. Sampai di rumah, saya peluk erat Ummi yang sedang tidur. Saya menangis begitu hebat hingga tidak bisa bicara dan sulit bernafas. Semua orang bertanya ada apa, tapi sungguh saya tidak kuasa untuk menjawabnya.

Setelah hampir satu jam menangis sambil memeluk Ummi, barulah saya bisa ‘terhubung dengan dunia luar’. Saya tunjuk album USG saya. Sontak semua berkata, “Innalillaahi wa innailaihi raji’uun”. Ya, memang. Yang milik Allaah pasti akan kembali kepada Allaah.

Obat peluruh kemudian saya minum. Beberapa jam kemudian perut saya terasa sakit sekali. Hingga di satu titik saya memutuskan untuk berdiri, darah dengan cepat mengucur bak air dituangkan dari gayung. Seketika karpet dan lantai berubah warna menjadi merah pekat. Badan saya tiba-tiba jadi begitu lemas dengan pandangan berkunang-kunang. Saya limbung dan terduduk di atas luberan darah saya sendiri.

Ketika itu, saya sendirian. Semua orang sedang mengaji di ruang samping. Saya berteriak minta tolong sekencang-kencangnya. Tapi tidak satupun orang bergerak. Saya teruskan berteriak sembari memukul-mukul jendela dengan botol air mineral. Barulah orang-orang datang dengan wajah kagetnya dan menolong saya untuk berdiri dan bebersih diri.

Saya tidak ingat apa yang saya pikir dan rasakan ketika itu. Saya tidak ingat pula apa yang saya pikir dan rasakan ketika menggenggam janin saya sendiri di kamar mandi. Saya sungguh tidak ingat apa yang saya pikir dan rasakan ketika membuang janin itu ke kloset dan menyentornya dengan air hingga tidak berbekas lagi. Saat-saat itu sungguh tidak terdefinisi. Dan bahkan menjadi momok untuk diingat kembali.

*****

Banyak orang bertanya bagaimana kejadian itu bisa terjadi. Banyak pula yang memunculkan asumsi-asumsi apa sebab janin tidak berkembang dan akhirnya mati. Beberapa ada juga yang terang-terangan menyalahkan saya karena begini dan begitu. Pada kesemuanya itu, saya hanya berpura-pura mendengarkan tanpa memasukkannya dalam hati sama sekali.

Pun dengan jurnal-jurnal yang kami baca tentang kasus ini, rasanya kami hanya bisa skeptis dan cenderung apatis. Karena bahkan etiologi yang mungkin, tidak berhubungan dengan apa yang kami lakukan atau apa yang terjadi pada kami. Hanya faktor ‘takdir’ yang pada akhirnya menjawab rasa penasaran kami.

Di titik itulah, saya kemudian tersadar. Barangkali Allaah memang mengambil kembali apa yang sempat Allaah titipkan untuk kami sebagai ‘peringatan’ karena saya tidak mempersiapkan dengan sebaik-baiknya. Begitu besar cita-cita saya untuk dapat melahirkan generasi terbaik. Tapi cita-cita itu somehow baru terbersit dalam do’a dan level niat saja, belum menjamah menjadi sebaik-baiknya ikhtiar. Barangkali Allaah ambil lagi karena saya tidak serius ziyadah, tidak serius muroja’ah, tidak serius tahajjud, tidak serius belajar, tidak serius dalam tiap-tiap shalat, dan tidak serius dalam hal-hal lainnya. Barangkali, saya memang belum pantas untuk betul-betul menjadi ibu. Dan ketika menyadari hal itulah, air mata saya kembali merembes karena perasaan bersalah yang terus menyeruak tanpa bisa dihentikan.

*****

Di tengah tangis-tangis kehinaan itulah, terbayang ketika Hannah, Ibunda Maryam, mengerahkan semua tenaga, pikiran, waktu, dan biaya untuk merayu Allaah supaya memberi keturunan padanya. Sudah semua amalan wajib dan sunnah ia kerjakan. Bahkan waktu malamnya tidak lagi tersisa kecuali untuk bermunajat kepada-Nya. Air matanya pun telah habis ia gunakan untuk mengiringi do’a-do’a terbaiknya. Hingga di titik ia tidak lagi tahu apa yang bisa dipersembahkan lagi untuk Allaah, ia berkata,

“Sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa yang dalam kandunganku kelak menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu, maka terimalah nazar dariku.”

Usia Hannah saat itu sudah senja. Sedang, keinginannya memiliki keturunan sudah ia pendam sejak muda. Melahirkan seorang anak, adalah cita-cita terbesar Hannah dalam hidupnya. Tapi ketika tak pula dirinya hamil, ia malah mempersembahkan anaknya untuk menjadi pengabdi Allaah penuh waktu. Yang mana, ini berarti, seumur hidup anaknya kelak hanya akan habis untuk menjadi penghamba Allaah. Anaknya kelak tidak akan dapat merawatnya di hari tuanya.

Nazar itulah yang akhirnya menyampaikan Hannah pada takdirnya. Akhirnya ia hamil juga. Usia yang sudah begitu renta, suami yang telah meninggalkannya lebih dulu, dan fisik yang tidak lagi prima pada akhirnya menumbangkan Hannah sebelum dapat merawat putri semata wayangnya. Hannah kiranya menutup mata dengan begitu damai dan bahagia. Cita-cita terbesar dalam hidupnya terwujud sudah.

Kisah ini seolah memberikan satu pelajaran. Bahwa Allaah swt tidak pernah menyia-nyiakan do’a dan ikhtiar hamba-Nya. Meski, keduanya tidak serta merta terwujud begitu saja. Senantiasa diperlukan penambahan kuantitas dan kualitas di setiap do’a dan ikhtiar yang kita panjatkan. Do’a dan ikhtiar inilah yang seolah akan terus mengetuk pintu Allaah saw hingga di satu titik, Allaah berkenan untuk membuka pintu tersebut bagi hamba kesayangan-Nya.

Hal ini lah yang kemudian patut kita renungi dan teladani. Yang paling penting dari sebuah ujian atau cobaan bukanlah pada hasilnya. Tapi pada sebaik-baik proses yang kita jalani untuk  lulus dari ujian tersebut. Karena hasil adalah murni kehendak Allaah, sedangkan proses adalah satu-satunya dimensi yang masih bisa kita intervensi. Maka ketika do’a tak kunjung dikabulkan atau ikhtiar tak kunjung berhasil, tak pantas bagi kita untuk marah dan kecewa pada Allaah swt. Barangkali Allaah masih ingin mendengarkan rintihan do’a kita, barangkali Allaah masih ingin kita berbenah, barangkali Allaah ingin menaikkan derajat kita di sisi-Nya. Allahu ‘alam….

*****

Somehow, kisah hidup Hannah di atas mampu menegakkan kepala saya yang tadinya tertunduk. Saya masih jauh lebih beruntung, karena kehamilan saya kemarin menandakan saya tidak infertil. Sedang di zamannya dulu, pastilah begitu banyak orang mengalamatkan cercaan ‘mandul’ padanya. Pun dalam puluhan tahun periode hidupnya, bisa jadi ia pun beranggapan dirinya mandul. Tapi imannya mangalahkan semua anggapan dan realita yang ia hadapi. Ia masih begitu kuat berdo’a, berikhtiar, serta berpegang teguh pada janji Allaah yang ia yakini betul akan mengabulkan do’anya. Sedang imanmu, sampai mana, Zah?

Ah, sesungguhnya kita ini termasuk dalam orang-orang yang dzalim…

 

 

One thought to “Mendamba Keturunan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *