Meninggalkan Smartphone

Liburan lebaran seminggu. Dua kali lebaran selama masa koass, saya mendapatkan jatah libur lebaran semua. Sungguh merupakan sebuah nikmat yang tidak terkira. Banyak teman maupun kakak tingkat yang “protes” ke saya, betapa enaknya bisa mendapatkan semua momen libur lebaran bersama keluarga ketika masa koass. Karena banyak sekali koass yang menghabiskan hari lebaran dan liburnya untuk berjaga di bangsal. Beberapa harus mengatur jadwal jaga supaya bisa bertemu keluarga walau sejenak. Bahkan, saya pernah mendengar, di beberapa universitas lain, ada istilah membayar jasa joki jaga bangsal supaya bisa pulang dan bertemu sanak saudara. Tarifnya tak main-main, antara Rp250.000,00 sampai Rp500.000,00 sesuai kesepakatan dan beban kerja.

Maka, ketika saya mendapatkan dua kali lebaran selama koass bisa libur dan berkumpul bersama keluarga, ini adalah sebuah nikmat tak terkira yang harus saya syukuri. Wajar jika kemudian libur seminggu itu saya maksimalkan untuk urusan yang berhubungan dengan keluarga. Mulai dari silaturrahmi keliling, mudik, hingga quality time dengan mereka. Karena momen pertemuan itu jarang sekali terjadi, sehingga tak ada aktivitas yang lebih baik selain bercengkerama, bercanda, bertanya kabar, berdiskusi tentang masa depan, dan kegiatan nyata lainnya.

Satu hal, yang kemudian menjadi bentuk rasa syukur saya terhadap momen liburan ini adalah, meninggalkan smartphone saya sejenak. Terlalu mahal waktu saya rasanya untuk menanggapi chat yang menumpuk di grup atau jaringan pribadi. Bukannya tidak menghormati, namun bagi saya, chat tersebut bisa dibalas lain waktu karena aksesnya bisa kapan saja. Kalaupun ada yang urgen dan penting, saya akan memilih menjawabnya ketika waktu istirahat. Dalam artian ketika saya tak lagi berkumpul bersama keluarga. Misalnya ketika jam tidur, atau jam urusan belakang. Hal ini saya lakukan karena momen berkumpulnya keluarga kami sangat terbatas dan belum tentu bisa terulang lagi tahun depan.

*****

Sejujurnya, saya seringkali bersedih, ketika ada acara paguyuban keluarga besar, acara silaturrahmi keluarga, atau dalam perjalanan mudik keluarga, masing-masing anggota keluarga sibuk dengan smartphone masing-masing. Sibuk membalas ucapan tahniah hari lebaran. Sibuk membuat kalimat yang puitis untuk mengucapkan selamat lebaran. Sibuk membuat foto profil atau foto cover edisi lebaran. Sibuk berkomunikasi dengan kawan dan teman nun jauh di sana.

Padahal, bersama dengan mereka, ada keluarganya, orang-orang yang menanti kehadirannya. Orang-orang yang menunggu pertanyaan sederhana macam, “Gimana kabarnya?”, “Gimana hasil ujiannya?”, “Lebaran sudah ke mana aja?”, dan lainnya. Mereka menunggu kehadiran kita secara utuh. Mereka rindu dengan senyum kita untuknya, rindu dengan tepukan ringan dari kita di punggung atau pundaknya.

Mereka rindu pelukan kita kala berjalan bersama menikmati matahari terbit di pinggir sawah dengan suara gemericik air sungai. Mereka ingin kita mendengarkan cerita lucu mereka yang terdengar jayus. Mereka ingin mendengarkan suara tawa bersama yang pecah menertawakan hal yang kadang kurang lucu. Bahkan, dalam perjalanan, bisa jadi nyanyian suara sumbang kita bisa menjadi obat mereka yang mual dan ingin muntah.

Tapi, itu tinggal harapan.

Dan di tengah keputusasaannya, mereka pun melakukan hal yang sama. Pelarian mereka juga ke smartphone. Mereka merasa tak dihargai kehadirannya. Sehingga, mereka pun mencari orang yang mau menerima kehadirannya, yaitu di ruang chat dan dunia smartphone mereka. Maka, tampaklah sebuah gambaran keluarga, yang pada kenyataannya mereka berkumpul, namun hakikatnya terpisah. Masing-masing menunduk dan asyik dengan smartphone-nya.

Dan inilah yang seringkali saya amati ketika melaju mendahului mobil dalam sebuah perjalanan. Ketika saya pulang dengan naik bus umum. Ketika saya berkumpul bersama keluarga besar. Ketika acara paguyuban keluarga besar. Ketika acara jalan-jalan bersama trah keluarga. Masing-masing hidup dalam dunianya sendiri, sambil sesekali menyapa dan melihat sekitar. Barangkali hanya sekedar formalitas setor muka untuk penanda bahwa mereka sudah hadir di sana. Namun, hakikatnya mereka sedang pergi jauh dari tempatnya sekarang.

Smartphone autism. Dunia mereka berbeda.

*****

Padahal, jika smartphone itu sejenak saja ditinggalkan, maka rasa kebersamaan itu akan lebih nikmat. Pertemuan yang didasari rindu itu akan terus tumbuh. Obrolan-obrolan ringan akan bergulir dengan sendirinya tanpa ada rasa sakit karena sama-sama bahagia. Akan ada momen pertukaran pengalaman hidup, akan ada ilmu baru yang diperoleh, dan yang pasti ada ikatan persaudaraan yang semakin terjalin kuat.

Benarlah kata Rasuulullaah saw yang mengatakan,

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allaah swt, niscaya Allaah swt akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (H.R. Ahmad)

Kita meninggalkan smartphone, kita dapatkan rasa kekeluargaan. Kita mendapatkan pengalaman hidup yang berharga dari para sesepuh. Kita mendapatkan kenyamanan dalam keluarga. Kita mendapatkan bahan bercandaan baru. Dan yang pasti, kita mendapatkan kebahagiaan yang nyata, yang tampak dari sinar wajah kita.

Maka, inilah yang saya tinggalkan. Smartphone, benda kotak yang saya khawatirkan merampas kebersamaan kelaurga kami. Sengaja saya tak langsung membalas ucapan tahniah lebaran yang masuk. Sengaja saya tak menggubris komentar yang menarik. Sengaja saya tak menuliskan momen-momen berharga ketika lebaran. Kali ini, saya lebih suka menyimpannya untuk menuliskannya jika sudah kembali ke perantauan. Meski saya harus bersusah payah mengingat strukturnya.

Jadi, beginilah hasilnya, tulisan pertama setelah lebaran yang tak jelas tujuannya. Tapi, saya tetap akan men-publish-nya. Karena yang saya pahami dulu ketika belajar dan diskusi tentang kepenulisan,

“Apa yang disampaikan dari hati akan langsung mencapai hati”

Sesuai dengan tujuannya. Innamal a’maalu bin niyyaat, wa innamaa likulli imriin maa nawaa. Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan mendapatkan balasan amalnya sesuai apa yang dia niatkan.

Semoga kita terhindar dari apa yang disindir oleh Allaah swt dalam firman-Nya berikut ini,

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,…”
(An-Nahl ayat 92)

Semoga kita terhindar dari orang-orang yang mencerai-beraikan ikatan keluarganya, atau bahkan na’uudzubillaah wal ‘iyaadzu billaah, memilih untuk mencerai-beraikan keluarganya.

Taqabalallahu minnaa wa minkum, shiyaamanaa wa rukuu’anaa wa sujuudanaa waqiyaamanaa wa kulla a’maalinaa, wa tammim taktsiiranaa yaa Allaah, yaa rabbal ‘aalaamiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *