Mempersiapkan Penerus

“Ini bukannya yang dulu nikahnya barengan itu, kan?”

Kalimat di atas seolah sudah menjadi prosedur tetap orang-orang saat bertemu saya. Saya sudah menebak pertanyaan yang akan muncul berikutnya. Pasti tentang hal itu. Ya, kurang lebih setahun lalu, saya menikah beberapa saat setelah kakak saya melangsungkan pernikahannya. Pernikahan kami ketika itu menjadi kabar bahagia keluarga besar orangtua maupun mertua kami masing-masing. Boleh dibilang, tahun lalu adalah tahun yang membahagiakan bagi keluarga besar kami.

Dan ketika momen lebaran ini, ketika kami berkumpul dan bersilaturrahmi, tentu orang-orang ingin mengetahui kabar kami. Ditambah kakak saya yang sudah memiliki amanah sebagai ayah dari bayi laki-laki yang lucu dan menggemaskan. Kelahirannya menjadi salah satu kebahagiaan besar keluarga kami tahun ini. Ya, saya memiliki keponakan langsung. Doa kami untuk kebaikan dan keberkahan hidupnya selalu kami langitkan.

Maka, pertanyaan berikutnya dari pembuka di atas adalah,

“Lha mana momongannya? Sudah isi belum? Kok belum ada baby-nya?”

Dan berbagai pertanyaan sejenis lainnya.

*****

Benar kata guru saya, pertanyaan seperti itu tanpa sadar bisa menyakiti yang ditanya. Pertanyaan tersebut jika salah ditanggapi bisa merusak suasana bahagia lebaran. Dan itulah yang saya rasakan ketika ditanya pertanyaan serupa.

Sakit. Sedih. Kecewa. Merasa gagal. Dan semua perasaan kontraproduktif lainnya.

Tapi, bukankah Rasuulullaah saw sudah mewanti-wanti untuk bersabar? Dan kalau kita perhatikan lafadz hadits-nya tentang sabar, justru inilah momentum paling tepat di mana saya harus bersabar. Yaitu momen ketika first hit dengan ujian dan cobaannya.

Innamash shabru ‘indash shadmatil uulaa. Sesungguhnya sabar adalah ketika di awal musibah.” (H.R. Bukhari).

Alih-alih saya meneruskan bersedih, saya berusaha menutupi dengan senyuman, dan saya balas dengan sedikit bercanda,

“Maaf, keduluan sama hilal syawwal. Jadi belum nampak sekarang. Mungkin bulan depan.”

Atau dengan jawaban,

“Kemarin pas ngambil undian, dapet kertasnya masih yang isinya, “Maaf, anda belum beruntung. Silakan coba lagi.”

Biasanya, candaan tersebut sukses mencairkan suasana dan membuat kami tertawa lepas.

Setelahnya, tergantung dengan siapa kami bicara. Jika dengan orang-orang yang sudah berumur, biasanya kami mendapatkan banyak nasehat. Jadi, inilah saatnya kami diam mendengarkan. Jika dengan teman-teman sebaya, biasanya kami akan mengobrolkan hal lain. Maka, ini saatnya kami bercerita pengalaman sehari-hari kami. Biasanya, saya cerita pengalaman dan hikmah ketika koass atau ketika perjalanan mudik.

*****

Kami sadar penuh, bahwa kami ingin mendapatkan keturunan terbaik untuk mewariskan jalan perjuangan kami. Namun, kami juga paham bahwa Allaah swt paling tahu kapan memberi amanah tersebut kepada kami. Amanah tidak akan salah memilih pundak. Impian kami memiliki keturunan yang terbaik, maka kami juga harus mempersiapkan dengan cara terbaik. Saya mempersiapkan pernikahan sejak SMP, maka persiapan memiliki anak tentu harus sudah dilakukan jauh sebelum menikah.

Setidaknya, ikhtiar kami belum semaksimal rekan kami, saudara kami, senior kami, yang sudah habis sekian juta. Kadang harus menjalani pengobatan tertentu selama beberapa waktu. Bahkan, harus pergi ke luar kota atau luar negeri supaya bisa menghasilkan keturunan. Mereka mengorbankan waktu, tenaga, dan uang yang tak sedikit.

Bagi kami, menunggu adalah soal waktu. Selama kami ikhtiar mempersiapkan, maka Allaah swt akan memberikan petunjuknya kapan kami diberikan keturunan. Sehingga, kami merasa belum perlu ambil pusing untuk ikhtiar untuk menghasilkan keturunan selain selayaknya sebuah keluarga pada umumnya.

*****

Ada dua kisah yang disebutkan di Al-Quran, yang menjadi pengingat, sumber harapan, dan motivasi syukur serta sabar kami. Kisah tersebut adalah surat Hud ayat 69-76 dan surat Maryam ayat 2-15.

Kisah pertama di surat Hud ayat 69-76 adalah tentang kehidupan Nabi Ibrahim as dengan istrinya, Sarah. Mereka yang hidup bersama sekian tahun lamanya tidak memiliki anak keturunan. Padahal, gerakan dakwah tauhid Nabi Ibrahim as sudah membutuhkan kader penerus. Maka, Allaah swt pun menghadirkan Hajar untuk diperistri Ibrahim as. Dari pernikahannya tersebut, melahirkan sosok pemuda yang cerdas dan kuat, yaitu Nabi Ismail as.

Tentu ini sebuah kebahagiaan bagi keluarga tersebut. Namun, tidak bagi Sarah, yang semakin merasa tidak berguna sebagai istri. Kecemburuannya begitu besar pada Hajar hingga kemudian Allaah swt menyuruh Ibrahim as untuk memisahkan mereka. Allaah swt meminta Ibrahim as meninggalkan Hajar dan Ismail di padang pasir nan tandus. Kelak, tempat itu menjadi tanah yang dimuliakan, yaitu Makkah Al-Mukarramah.

Sementara, Ibrahim as dan Sarah terus berikhtiar dan berharap diberikan keturunan yang terbaik untuk melanjutkan dakwah Ibrahim as. Dan benarlah bahwa Allaah swt tak pernah menyia-nyiakan mereka yang tak pernah berhenti harap. Ibrahim as dan Sarah diberikan kabar gembira.

Dan istrinya (Sarah) berdiri (dibalik tirai) lalu dia tersenyum. Maka, Kami sampaikan kepadanya berita gembira tentang (kelahiran) Ishaq. Dan dari Ishaq (akan lahir puteranya) Ya’qub.” (Hud ayat 71).

Betapa kesabaran menanti keturunan diberikan balasan oleh Allaah swt dengan kemuliaan yang luar biasa. Di tengah penantiannya, Nabi Ibrahim as tak pernah kecewa ataupun memaksa Allaah swt. Beliau hanya fokus mempersiapkan keturunannya, mendakwahkan ajaran-Nya kepada kaum demi kaum yang dilaluinya. Beliau mendidik istrinya agar menjadi wanita-wanita yang tangguh dalam menyokong dakwahnya.

Maka, begitulah kemudian Allaah swt mengabulkan ikhtiar Nabi Ibrahim as. Kedua anaknya menjadi utusan Allaah swt. Dari keduanya lahir manusia-manusia terbaik di muka bumi. Hingga kemudian, sejarah mencatat bahwa Nabi Ibrahim as sebagai “Abul Anbiyaa‘, Bapak Para Nabi”.

*****

Cerita kedua di surat Maryam ayat 2-15. Adalah kisah tentang seorang tua renta yang tak pernah kurang harap pada Rabb-Nya. Sejak muda, ia mendamba keturunan yang akan mewariskan dakwahnya. Namun, Allaah swt tak kunjung mengabulkan keinginannya untuk menguji keseriusannya. Bukannya berputus asa, memaksa Allaah swt, atau bahkan mencela-Nya, kakek ini bahkan semakin semangat dalam berdoa dan berikhtiar dalam usaha mewariskan keturunannya.

Dialah Nabi Zakaria as yang doanya tak pernah berubah, hatinya tak pernah kecewa, dan harapannya tak pernah berubah arah. Bahkan dikatakan dalam Al-Quran, beliau berdoa dengan suara yang paling lembut setiap kali menemui Rabb-Nya.

Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban. Dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku.” (Maryam ayat 4).

Beliau berdoa dan ikhtiar sekian lama sampai tanpa sadar dirinya telah menua. Dalam ilmu dan teknologi hari ini, hampir mustahil seorang lelaki tua seperti beliau dengan istri yang sama tua, bisa memiliki keturunan.

Namun, begitulah ketika Allaah swt telah berkehendak. Tak ada satu pun yang bisa menghalanginya. Allaah swt berkata, “Kun (jadilah), fa yakuun, maka terjadilah apa dikehendaki-Nya”.

Di tengah khusyu‘-nya Nabi Zakaria as berdoa pada Rabb-Nya, Allaah swt menurunkan kabar gembira. Disebutkan dalam Al-Quran berikut ini,

Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya. Yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan dia.” (Maryam ayat 7).

Betapa kagetnya Nabi Zakaria as mendengar kabar gembira tersebut. Saking tidak percayanya, beliau mempertanyakan Allaah swt, bagaimana mungkin aku seorang lelaki tua dengan istriku yang sudah mandul sekian tahun, bisa memiliki anak? Barangkali, kita juga akan bertanya hal serupa. Lagi-lagi, inilah kehendak Allaah swt. Tak ada yang bisa menghalangi, dan tak ada yang bisa mempengaruhi selain sesuai izin dan kehendak-Nya.

Dan bukan main-main anak yang diberikan Allaah swt. Allaah swt sendiri yang memberi nama dan langsung mengutusnya untuk melanjutkan perjuangan dakwah ayahnya kepada Bani Israil. Benar-benar balasan yang sesuai dengan ujian yang diberikan.

*****

Dua kisah inilah yang senantiasa membuat kami sangat malu. Malu karena kami jauh dari kata siap kalau minta disegerakan memiliki keturunan. Malu karena persiapan kami masih terlalu banyak kurangnya dibanding kedua pendahulu tersebut. Terlepas dari fakta bahwa keduanya adalah seorang Nabi dan Rasul, Allaah swt sudah menyebutkan ceritanya dalam Al-Quran. Dan tidak ada pelajaran yang paling baik untuk dijadikan pengingat selain Al-Quran.

Dua ayat inilah bekal kami. Kami memang ingin memiliki keturunan, cita-cita kami pun besar, membangun keluarga peradaban. Maka, persiapan menuju ke sana pun jelas tak akan mudah. Kalau kami kalah di awal, maka jelas cita-cita besar tersebut tidak akan pernah kami rain. Kalau kami sudah kecewa pada Allaah swt hanya karena urusan seperti ini, maka kemana lagi kami harus menggantungkan harapan? Bukankah Allaah swt adalah sebaik-baik tempat berharap?

Jadi, menghadapi berbagai pertanyaan di atas, kami hanya tersenyum saja. Barangkali Allaah swt menganggap kami belum pantas menerima amanah keturunan jika memiliki cita-cita seperti di atas. Allaah swt ingin kami lebih banyak berbenah dan lebih serius dalam mempersiapkan diri menggapai cita-cita tersebut. Maka, sekali lagi, menunggu hanya soal waktu.

Saksikanlah Yaa Allaah, bahwa kami ingin memiliki keturunan terbaik. Keturunan yang kelak akan mengantarkan agama Islam ini menuju kejayaan peradabannya kembali. Keturunan yang akan mampu menyelamatkan orangtuanya, keluarganya, keluarga besarnya, dan orang-orang di sekitarnya dari azab-Mu yang keras. Keturunan yang akan senantiasa ikhlas dan istiqomah menjaga kemuliaan dan menegakkan agama-Mu.

Allaahumma innaka samiii’un qariib, fa taqabbal haadzad du’aa waa haadzal amal. Yaa Allaah, Engkau lah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Dekat, maka kabulkanlah doa dan harapan kami ini.

One thought to “Mempersiapkan Penerus”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *