Refleksi Syawwal Keluarga

Syawwal, bulan peningkatan. Alhamdulillaah kami mendapatkan nikmat peningkatan itu walau tidak langsung. Ya, kami akhirnya resmi memiliki anggota keluarga baru. Kakak ipar kami, Mas Imov menikah dengan teman Dek Zahra juga, Mbak Suci. Jelas sudah siapa orang yang menjadi perantara Allaah swt menjodohkan keduanya.

Bagi saya, kisah mereka sangat menarik. Kalau dulu saya pernah bercerita di sini, saat saya datang melamar Dek Zahra, saya bahkan harus berhutang untuk membeli buah tangan. Bersyukurnya, saat itu saya sudah memiliki pekerjaan walau hanya bersifat part time. Maka, Mas Imov ini luar biasa. Beliau menantang dirinya yang bahkan tak memiliki tabungan sedikit pun dan belum bekerja. Maklum, sebelumnya beliau banyak menghabiskan hidupnya untuk mengabdi di pondok pesantren. Tepatnya, tiga setengah tahun di Gontor Kediri dan tiga tahun di Pondok Pesantren Al-Muqaddasah.

Di sinilah yang membedakan santri dengan orang kebanyakan, yaitu kekuatan iman. Barangkali, karena pengabdiannya di pondok lebih lama, saya kalah yakin dengan Mas Imov. Beliau hanya berbekal keterampilannya yang segudang, hasil belajar otodidak selama mengabdi sekian tahun lamanya. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa mengabdi pada pondok, berarti harus siap belajar ilmu dan keterampilan apapun. Karena kebutuhan SDM di pesantren seringkali terbatas, maka sumbangsih para pemuda yang giat belajar dan rela mengabdi merupakan sebuah jariyah yang luar biasa. Dan Mas Imov berani mengambil peran itu.

Inilah yang di buku kami, “Mengukir Peradaban”, dalam urusan rezeki lebih penting untuk tetap berpenghasilan daripada berpenghasilan tetap. Maka, daripada sibuk mempersiapkan lamaran pekerjaan, atau menanti diterima kerja, atau bahkan menunggu hingga mapan, lebih baik mempelajari banyak keterampilan untuk bisa survive dengan persaingan zaman. Misalnya yang sedang tren sekarang, belajar coding, desain animasi dan visual, dan sejenisnya. Dan itulah yang dilakukan Mas Imov.

*****

Awal Ramadhan lalu, ketika ditanya Abah memastikan kesanggupan dan keyakinannya untuk menikah, Mas Imov hanya menjawab,

“Tak pikir, Gusti Allaah swt ki mboten pelit kok, Bah. Asal aku ikhtiar inSyaaAllaah ya ada jalan.”

Deg! Ketika saya mendengar Mas Imov berucap seperti itu, entah kenapa saya langsung yakin, bahwa prosesnya akan lancar dan mudah. Sekedar informasi, ketika Abah bertanya pada Mas Imov, sejujurnya ketika itu belum ada calon yang Mas Imov tawarkan pada Abah. Mas Imov hanya meminta izin pada Abah-Ummi untuk menikah bulan Syawwal.

Saya sampai berpikir, ini Mas Imov benar-benar sudah menjadi santri luar dalam. Beliau yakin betul, jika niat menikahnya lurus, untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allaah swt, untuk menyempurnakan agama, maka Allaah swt akan memberi jalan. Sebagaimana pepatah Arab berkata,

Idzaa shaduqal ‘azmu, wadlahas sabiilu. Kalau tekad sudah bulat, maka jalan akan terang.”

Dan begitulah, ketika Mas Imov sudah memasang target waktu, sudah siap, maka Allaah swt berikan sisanya. Hanya sekitar seminggu sejak ditanya Abah, Dek Zahra langsung mencoba menawarkan Mbak Suci sebagai calonnya. Setelah ta’aruf sebentar melalui tukar CV dan foto lewat WA, mereka langsung sepakat untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Maka, Mas Imov pun langsung ke Tangerang untuk meminta izin untuk melamar Mbak Suci ke Bapaknya.

Singkat cerita, sampailah Mas Imov ke rumah Mbak Suci. Keluarga Mbak Suci menerima dengan hangat dan ramah sekali. Obrolan awal-awal hanya bersifat basa-basi untuk perkenalan dan terkesan agak canggung. Kurang lebih begitulah yang diceritakan Mas Imov. Bagian paling menariknya bagi saya adalah, ketika kemudian Mas Imov menceritakan kondisi seutuhnya dirinya saat ini, tidak ada perubahan penerimaan dari keluarga. Bahkan, ketika disampaikan bahwa Mas Imov belum bekerja dan sementara masih bergantung pada Abah-Ummi.

Yang lebih luar biasa lagi, ketika akhirnya lamaran tersebut diterima, Mas Imov sempat bertanya pada Mbak Suci,

“Dek, kok kamu berani bilang siap dasarnya apa? Kan kita belum pernah kenal sebelumnya. Kondisiku juga masih kaya gini.”

Waktu itu, Mbak Suci hanya menjawab pendek,

“Allaah swt yang menyiapkan dan membuat saya yakin.”

Klop! Sejujurnya, saya sampai terharu ketika mendengar cerita tersebut. Betapa kepasrahan kepada Allaah swt akan melahirkan kemudahan-kemudahan sesuai yang Dia takdirkan. Dan entah kenapa, saya begitu excited dengan pernikahan mereka. Sebuah pernikahan yang dibangun dari dasar yang paling berharga, ketinggian keimanan kedua mempelai kepada Allaah swt.

Dan kini, penantian keduanya sudah selesai. Mereka telah resmi sebagai sepasang suami istri.

Baarakallaah lakuma wa baaraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fii khaiir.

Semoga Allaah swt senantiasa menjaga keluarganya dari godaan syetan yang terkutuk, menjadikan keluarganya sebagai keluarga peradaban, dilahirkan keturunannya sebagai orang-orang yang senantiasa ikhlas dan istiqomah mendakwahkan agama-Nya, dan kelak dikumpulkan di surga yang tertinggi. Aamiiin.

*****

Catatan khusus.

Cerita ini, menjadi pengingat kita, bahwa iman kepada Allaah swt adalah segalanya. Ikhtiar harus sekuat dan semaksimal mungkin, namun tidak boleh meninggalkan kepasrahan kepada Allaah swt. Barangkali pula, kita bisa menjemput jodoh dengan cara begitu, namun kebanyakan sulit terulang. Yang pasti, Allaah swt sudah menyiapkan skenario terbaik untuk masing-masing hamba-Nya yang serius dalam beriman kepada-Nya.

Kemudahan yang saya ceritakan adalah kemudahan yang tampak. Jangan lupa, bahwa di Al-Quran, Allaah swt sudah menjamin,

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Dan
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Al-Insyirah ayat 5-6).

Jadi, meski tampaknya mudah, tentu Mas Imov dan Mbak Suci tentu pernah mengalami fase sulitnya. Fase dimana ujian keseriusan keimanan mereka kepada Allaah swt. Tak mungkin Allaah swt memberikan kemudahan begitu saja. Karena jelas, dunia ini bukanlah tempat permainan yang begitu mudahnya dilalui dan dinikmati. Kemudahan adalah sebagai hiburan dan motivasi dari Allaah swt.

Maka, yakinlah bahwa setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Setiap keluarga pun sama, ada fase dimana kemudahan-kemudahan itu Allaah swt berikan begitu saja. Ada pula yang Allaah swt uji terlebih dahulu dengan banyak hal. Yang pasti, apapun yang kita terima, ada balasan dan pertanggungjawaban di sisi Allaah swt. Kunci untuk selamat adalah tetap menjaga determinasi iman kita pada-Nya.

Selamat memperbaiki hubungan dengan Allaah swt. Semoga Allaah swt senantiasa menjaga hati, amal, dan fisik kita agar istiqomah menuju pada-Nya.

2 thoughts to “Refleksi Syawwal Keluarga”

  1. Kisah yang menginspirasi. Kisah yang menjadikan setiap pembaca terasa terbangun dari tidurnya untuk sibuk memperbaiki hubungan dirinya dengan sang pengatur alam semesta ini, Allah SWT.

    *******

    Semoga Al-Ustadz Sulthan Karimov bisa membina keluarga sakinah, mawaddah, rahmah, barakah, dan menjadikan pernikahan yang senantiasa bernilai ibadah disisi Allah SWT.

    Dan doakan kami, semoga bisa mengikuti jejak guru kami yang telah menyempurnakan agamanya, bisa menyongsong masa depan sesuai dengan hajat kami, dan tentunya atas izin, taufiq, dan ridha Allah SWT.

    *Salam ta’dzim dari murid beliau di Al-Qalam Magazine dan ITQAN Group – Pondok Modern Darussalam Gontor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *