Meletakkan Pendidikan pada Tempatnya

Judul : Pendidikan Islam, Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045 (Kompilasi Pemikiran Pendidikan)
Penulis : Dr. Adian Husaini
Penerbit : Yayasan Pendidikan Islam At-Taqwa Depok
Tahun terbit : 2018
Tebal : xxii + 336 halaman

“Al-Adab qablal Ilmi, Al-Ilmi qablal Amal”
“Adab itu sebelum ilmu, dan ilmu itu sebelum amal”

Segala penyebab masalah sosial yang terjadi di dunia ini sejatinya bisa dijelaskan dengan satu hal, yakni hilangnya adab. Setidaknya begitulah menurut seorang ulama Melayu, Syekh Naquib Al-Attas. Kenapa begitu? Karena adablah yang akan membentuk manusia menjadi insan yang baik. Sedang, insan yang baik (insan adabi) itulah yang pada akhirnya membuat tatanan kehidupan (peradaban) menjadi baik.

Maka, dengan logika di atas, ketika kehidupan bermasalah, pasti ada yang salah dengan insannya, dengan manusianya. Ketika manusia bermasalah, maka pasti ada yang salah dengan adabnya.

Pentingnya adab yang Al-Attas kemukakan sebenarnya bukanlah hal baru. Telah menjadi tradisi ulama kita dahulu untuk benar-benar mengutamakan adab di atas apapun. Imam Syafi’i pernah ditanya, “Bagaimana engkau mencari adab?” Ia menjawab, “Seperti seorang perempuan yang kehilangan anaknya dan ia tidak memiliki apapun selain anak itu”. Kita barangkali mengenal Imam Syafi’i sebagai ulama besar yang ilmunya seluas samudra. Tapi bahkan bagi Imam Syafi’i yang waktunya habis untuk belajar dan mengajar, ilmu itu tidak lebih penting dari adab. Menjadi manusia yang beradab jauh lebih penting daripada manusia yang berilmu.

Tugas pendidikanlah yang kemudian menanamkan adab sehingga terbentuk manusia-manusia beradab. Abdurrahman bin Al-Qasim, salah satu murid Imam Malik pernah berkata, “Aku berkhidmat kepada Imam Malik selama 20 tahun, 18 tahun hanya dihabiskan untuk mempelajari adab dan hanya dua tahun mempelajari ilmu.” Keutamaan adab atas ilmu ini selain karena hal tersebut merupakan tujuan utama pendidikan, adalah juga karena dengan adab yang baik, ilmu yang kemudian diajarkan meski sebentar akan menjadi ilmu yang menghujam, berkah dan bermanfaat. Sebaliknya, ilmu tanpa adab ibarat api tanpa kayu bakar. Ia akan sia-sia saja dan bahkan dapat menjadi musibah.

Yang Disebut Adab

Adab, jika diserap ke dalam bahasa Indonesia berarti sopan santun. Tapi sebetulnya sopan santun belumlah sepadan untuk menjelaskan pengertian adab. Dalam Al-Quran, pendidikan adab dijelaskan dengan begitu indah di surah Luqman: 13-19,

Ayat 13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Ayat 14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.

Ayat 15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Ayat 16. (Luqman berkata): “Wahai anakku! Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di bumi, niscaya Allah akan memberinya (balasan). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Mahateliti.

Ayat 17. Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting.

Ayat 18. Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Ayat 19. Dan sederhanalah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Luqman memberikan pelajaran yang begitu berharga tentang adab, yang dimulai dengan adab kepada Allaah SWT: “Yaa Bunayya, jangan menyekutukan Allaah. Sesungguhnya syirik itu adalah kedzaliman yang besar!”. Luqman menekankan bahwa syirik itu dzalim kepada Allaah, syirik itu suatu bentuk kekurangajaran kepada Allaah.

Barangkali frasa “jangan menyekutukan Allaah” telah sangat familiar di telinga kita kita. Tapi tahukah kita bahwa riya’ adalah bagian dari syirik? Riya’ disebut syirik kecil karena mempersembahkan amal perbuatan kepada makhluk, bukan mengharap pujian dan ridha dari Allaah. Riya’ ini begitu halus hingga terkadang kita tidak sadar kalau telah melakukan riya’. Apalagi di era sosial media sekarang ini, riya’ dapat dengan sangat mudah menggelincirkan niat awal kita untuk berdakwah menjadi niat untuk mendapat banyak pengikut dan pujian.

Frasa “jangan menyekutukan Allaah” ini juga berarti taat dan bersegera dalam memenuhi perintah serta menjauhi larangannya. Sedang dalam 5 waktu yang Allaah perintahkan untuk kita shalat, berapakalilah kita bersegera untuk memenuhi panggilannya? Sedang dalam setiap adzan yang kita diperintahkan untuk menjawabnya, berapakalilah kita menghentikan aktivitas lisan, mendengarkan adzan dengan seksama, dan menjawabnya? Sedang selepas isya’ ketika kita diperintahkan untuk segera istirahat dan bangun untuk shalat malam, berapakalilah kita justru menunda-nunda tidur untuk menonton film atau piala dunia hingga terlewat shalat malam bahkan subuhnya?

Somehow, adab terhadap Allaah SWT ini adalah adab yang mestinya kita utamakan. Tapi ketika kita refleksikan, bisa jadi selama ini kita masih lebih banyak ‘biadab’-nya ketimbang ‘beradab’-nya.

Adab kedua adalah adab kepada orangtua, terutama adab kepada Ibu. Ridhallah fii ridhal walidain, ridho-Nya Allaah adalah ridhonya orangtua. Dan sejauh mana kita memuliakan orangtua adalah sejauh mana pula Allaah memuliakan kita. Seperti kisah Uwais Al-Qarni, yang konon seluruh penduduk langit mengenalnya. Khalifah Umar bin Khattab sampai rela mencium tangan Uwais yang miskin lagi papa demi menyampaikan rasa hormatnya. Semua itu karena adab Uwais terhadap ibunya.

Dalam kisah lain, kita mengenal Juraij sang ahli ibadah. Yang karena lebih mementingkan shalat daripada panggilan ibunya, membuat sang Ibu murka dan menyumpahi Juraij. Sumpah itu terbukti hingga suatu ketika Juraij difitnah telah menghamili seorang wanita, padahal seumur hidupnya ia habiskan untuk menyendiri dan beribadah. Adab Juraij kepada ibunya saat itu menjadi pelajaran penting hari ini untuk meletakkan ridha orangtua di atas segalanya selama tidak melanggar ketentuan-Nya.

Adab ketiga yang Luqman ajarkan adalah kesadaran untuk berbuat ihsan. Bahwasannya, Allaah senantiasa mengawasi dirinya, dimanapun ia berada. Sekecil apapun suatu benda, di tempat gelap sekalipun, Allaah pasti mengetahui. Dan sekecil apapun perbuatan kita, pasti akan dibalas dengan balasan yang setimpal.

Selanjutnya Luqman mendidik anaknya untuk menegakkan shalat dan senantiasa melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Aplikasinya, sepatutnya orangtua memahami betul potensi anak dan mengerahkan mereka supaya menjadi para pejuang di lapangan kehidupan. Terlebih, dalam menuntut ilmu, ditanamkan betul bahwa belajar bukanlah untuk materi, tapi untuk menjadi bekal beramar ma’ruf nahi munkar kelak.

Terakhir, Luqman berpesan kepada anaknya, supaya memiliki adab yang baik terhadap sesama. Baik terhadap yang lebih tua, yang lebih muda, yang lebih berilmu, dan lainnya. Dan yang terpenting, menghilangkan segala bentuk kesombongan dalam diri.

Lima mutiara yang Luqman ajarkan ini meski tampak sedikit, tapi aplikasinya dapat menjadi begitu panjang dan rinci. Itulah mengapa para ulama terdahulu menghabiskan waktu sekian lama untuk belajar adab daripada ilmu. Karena adab hanya dapat dipelajari dengan mengamati langsung bagaimana adab tersebut diterapkan. Sehingga seorang murid perlu waktu lama untuk mengamati gurunya, mengambil hikmah dari setiap perilaku guru tersebut, dan menerapkan adab tersebut hingga menjadi kebiasaan yang mustahil untuk dihilangkan.

Pendidikan Kita Hari Ini
Surprisingly, tujuan untuk membentuk manusia beradab ini sudah tertulis dengan begitu jelas di Pancasila sila kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab. Implikasi sila ini adalah sistem pendidikan, yang di Pasal 31 (ayat 3) UUD 1945 tertulis: “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Sedangkan Pasal 31 (ayat 5) UUD 1945 menyebutkan: “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Artinya, sebetulnya pendiri bangsa ini telah sepenuhnya sadar akan tujuan pendidikan dan pentingnya adab. Tidak mungkin kata adil, adab, iman, taqwa, dan akhlak di atas terlepas dari terminologi dalam agama Islam. Karena kata-kata tersebut asalnya pun dari Bahasa Arab yang menarasikan nilai-nilai agama Islam.

Yang perlu digarisbawahi dan menjadi PR bersama adalah, aplikasi dari sila dan undang-undang tersebut. Tujuan mulia untuk membentuk insan beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia tersebut terreduksi menjadi tujuan untuk membentuk manusia berkarakter. Dijelaskan Kemendiknas dalam buku Panduan Pelaksanaan Pendidikan Karakter: “Pendidikan karakter ditempatkan sebagau landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.” Frasa berdasarkan falsafah Pancasila ini kemudian menjadi rancu, karena belum ada contoh atau teladan nyata sebagai figur Pancasilais sejati. Sedangkan dalam agama Islam, teladan untuk menjadi insan adabi telah sangat jelas, yakni Nabi Muhammad SAW.

Pun, dalam prakteknya, pendidikan karakter ini masih sangat jauh dari apa yang dicanangkannya di UUD 1945 dan Pancasila. Sebab dalam buku ajar sejarah untuk SMA/MA saja, tertulis: “Manusia sekarang adalah bentuk sempurna dari sisa-sisa kehidupan purbakala yang berkembamg dari jenis hominid, bangsa kera”. Terdapat pula statement fatal yang berbunyi: “.. Agama dan sains memiliki otonomi masing-masing. Itu berarti keyakinan agama tidak rasional. Singkatnya, agama dan sains tidak perlu dicampuradukkan.” Bagaimana bisa pelajaran sekularistik begini dapat membentuk manusia yang beradab seperti Luqman ajarkan kepada anaknya?

Contoh di atas baru segelintir dari realita yang terjadi hari ini. Masih banyak hal dari sistem pendidikan kita yang perlu dikritisi karena justru malah semakin menjauhkan kita dari tujuan mulia yang telah dicanangkan.

Untuk Direnungkan Bersama

Bahwa, memang benar bahwa negara bertanggungjawab untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi adalah hak seorang anak untuk diajari adab oleh orangtuanya. Kita tidak bisa bergantung pada pemerintah dan sekolah saja dalam mendidik anak kita. Justru di tangan kitalah nasib pendidikan anak-anak kita.

Sebagai bentuk realisasi pendidikan adab dalam keluarga, anak-anak dikenalkan dengan berbagai hal, sesuai dengan harkat dan martabat yang ditentukan oleh Allaah SWT. Mereka wajib beradab kepada Allaah, kepada Nabi dan sunnah-sunnahnya, kepada para upama, terhadap ilmu, guru, orangtua, saudara, teman, dan sebagainya.

Jika sejak usia dini anak-anak sudah membiasakan diri dengan adab, maka InSyaaAllaah ia sudah memiliki fondasi yang kokoh untuk menjadi manusia yang baik di masa yang akan datang. Dengan terbentuknya manusia-manusia beradab dari setiap rumah, maka dapat dipastikan peradaban yang terbentuk adalah peradaban madani yang kokoh lagi hebat. Wallahu ‘alam bish shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *