Belajar Sabar Mengasuh

Beberapa hari yang lalu, kami sempat pulang ke rumah Abah-Ummi untuk suatu urusan. Sebenarnya, kami pulang ke sana adalah hal biasa yang sering kami lakukan, entah sekedar menanyakan kabar, say Hai, sampai jika Abah-Ummi yang meminta untuk pulang karena ada hajat tertentu. Namun, pulang kali ini terasa berbeda. Sampai ke rumah, Abah-Ummi tidak nampak ada di sana. Rumah tampak kosong dan tertutup rapat. Jadilah kami harus menunggu sejenak sekalian sholat ashar. Untungnya, Dek Zahra tahu jalan mana yang bisa menjadi pintu masuknya.

Selepas ashar, Abah-Ummi belum juga datang. Kami pun menunggu di kamar Ummi dan Dek Khansa sembari merebahkan badan sejenak. Saya memandangi sekitar sampai tiba-tiba mata saya tertuju pada papan tulis kecil yang tergantung rendah di pojok ruangan. Di sana ada tulisan yang kurang lebih begini,

“Besok nukar uang dan beli jam baru.”

Spontan, saya dan Dek Zahra tertawa bersama. Barangkali, inilah alasan kenapa Abah-Ummi dan Dek Khansa tidak tampak di rumah sore ini. Sepertinya sedang membeli jam untuk Dek Khansa. Tapi saya masih ndak habis pikir, seusia Dek Khansa, dia sudah membuat papan rencana kegiatan.

“Itu kemarin Dek Khansa minta dibeliin, biar kaya papan tulisnya Ummi itu.” Dek Zahra tiba-tiba menjelaskan sambil menunjuk papan jadwal kegiatan Ummi.

Hmmm, berarti sudah masanya Dek Khansa suka mencontoh dan mengikuti apa-apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya. Dalam ilmu sosiologi, ini disebut fase imitasi, meniru. Maka, wajar jika kemudian sekarang Dek Khansa meminta dibelikan jam tangan. Karena saya, Dek Zahra, Mas Wafda, Mbak Aya, Mas Imov, dan Mbak Suci, semuanya memakai arloji. Barangkali teman-temannya di sekolah juga memakai jam tangan juga, pantas jika Dek Khansa ikut meminta dibelikan.

Konsekuensinya, kita yang ada di sekitarnya harus bisa mengkondisikan agar tujuan pendidikannya tercapai. Hal-hal yang kita tunjukkan di depannya harus kita jaga supaya senantiasa baik. Saya sempat kesal karena beberapa hari sebelumnya, karena ada anak saudara jauh kami seusia Dek Khansa yang sedang main ke rumah, dan mengajak untuk nonton Tik-Tok di YouTube. Ketika saya tahu, saya langsung tegas melarang, dan meminta untuk mengganti dengan tontonan yang lain.

*****

Di tengah saya berpikir dan mencoba memasukkan pengalaman barusan ke long term memory, saya dikejutkan dengan kehadiran Dek Khansa yang tiba-tiba masuk kamar. Begitu masuk, langsung mengunci pintu kamar dan datang dengan seragam sekolah yang masih lengkap sambil menangis tersedu-sedu. Saya langsung refleks memberi tempat untuk bersanda dan memeluk.

“Dek Khansa kenapa?” Saya bertanya.

Tak ada jawaban, hanya tangisan. Yasudah, saya biarkan Dek Khansa menyelesaikan hajat menangisnya.

Sementara di luar, Abah-Ummi mengetuk pintu, meminta dibukakan pintu, khawatir terjadi apa-apa. Dek Zahra pun lalu mengirim pesan lewat WhatsApp ke Ummi dan mengatakan kalau kita di dalam dan menanyakan tentang apa yang terjadi.

“Itu, tadi Dek Khansa minta dibelikan jam tangan yang kaya hape. Sudah muter-muter kemana-mana nggak ada yang disuka. Sudah habis barangnya. Nggak ketemu terus nangis di jalan.”

Oke, noted.

Begitu mulai mereda, saya coba tanya lagi ke Dek Khansa,

“Dek Khansa kenapa?”

Tak ada jawaban, malah Dek Khansa kembali menangis tersedu-sedu lagi. Beberapa saya coba, hasilnya sama. Celakanya, saya tak boleh keluar dan pintu tak boleh dibuka. Abah-Ummi beberapa kali mencoba menggedor untuk menggertak Dek Khansa agar dibukakan, namun Dek Khansa tetap keukeuh tidak boleh dibuka pintu kamarnya. Walaupun sebenarnya, Dek Khansa tampak ketakutan setiap kali pintu digedor.

Saya coba membujuk dengan beberapa cara lain, namun tetap gagal.

“Dek Khansa nggak laper?”

“Sepatu sama seragamnya dilepas dulu, yuk.”

“Atau tidur dulu aja gimana?”

“Tarik nafas panjang, yuk. Biar nggak sesenggukan.”

Dek Khansa hanya merespon dengan menggeleng dan menambah volume tangisan. Saya mulai kehabisan bahan bujukan dan frustasi. Ingin rasanya saya langsung berlaku tegas, dan membuka pintu begitu saja. Tapi, saya sadar itu bukan pilihan yang terbaik.

Saya langsung teringat beberapa waktu lalu, Dek Khansa pernah bilang ke Dek Zahra ketika sedang dimandikan,

“Mbak, nanti kalau Mbak Zahra punya adik kecil, adiknya lebih rewel dari aku lho. Jadi Mbak Zahra itu latihan sabar.”

Ya, hari ini saya belajar sabar. Sabar menghadapi kelakuan anak kecil seusia Dek Khansa yang kalau menangis tak bisa dipahami kemauannya. Saya yang hampir putus asa akhirnya hanya bisa diam dan berpikir.

“Yaa Allaah, kasih petunjuk, pliiis.” Saya membatin sementara Dek Khansa masih menangis.

*****

Tiba-tiba, saya teringat cara dosen saya, konsulen Spesialis Kejiwaan ketika menangani pasien sakit jiwa yang mengganggap dunia akan kiamat. Pasien itu langsung menggenggam tangan si Dokter dengan erat dan tidak mau melepaskan. Si Dokter awalnya membiarkan dan meladeni pembicaraan pasien karena ingin meng-anamnesis dan memeriksa. Ketika selesai dan akan pergi, si Dokter ini pun mencari cara supaya tangannya bisa dilepaskan dan tidak menyakiti perasaan pasien.

Singkatnya, si Dokter mengatakan bahwa, jika memang kiamat akan segera tiba, dan pasien ingin selamat, maka dia harus membiarkan Dokter ini untuk mencarikan kendaraan khusus yang bisa menyelamatkan mereka dari kiamat. Si Dokter berjanji akan mencarikan sesuai kriteria yang diminta pasien, tapi dengan syarat pasien melepaskan genggamannya dulu. Akhirnya, pasien mau melepaskan dan si Dokter ini bisa pergi keluar.

Intinya di poin, apakah keperluan yang dibahas itu penting dan menguntungkan bagi pasien atau tidak. Asal buat pasien menguntungkan, maka dia akan mengikuti keinginan kita. Begitu pula pola pikir anak-anak, sangat sederhana. Saya pun mencoba cara tersebut untuk membujuk Dek Khansa.

“Dek, itu tulisan di papan yang nulis Dek Khansa?”

Dek Khansa masih terdiam dan sesekali menangis.

“Kalau iya, Dek Khansa berarti pingin beli jam tangan?”

Dek Khansa pun mengangguk untuk pertama kalinya. Yes! Berhasil. Saya bersemangat untuk melanjutkan.

“Maunya jam tangannya yang kaya gimana?” Saya bertanya melanjutkan.

“Yang…ko..tak…ka..ya…ada..hape…nya…” Kata Dek Khansa terbata-bata.

“Tadi udah keliling toko kan? Ada nggak?”

“Ng..g..gak ada…”

“Nah, kalau nggak ada kan berarti harus nunggu dulu. Pilihannya cuma dua. Pertama, nunggu penjualnya beli barangnya baru ada. Atau kita beli online. Tapi kalau beli online, kita juga harus nunggu. Dan kita juga harus keluar dulu supaya bisa beli online. Kan di kamar sinyal WiFi-nya nggak kuat. Pintunya boleh dibuka ya?”

“Nggak mauuu!” Dek Khansa menangis lagi. Sepertinya saya terburu-buru masuk dan memaksakan keinginan saya.

“Yasudah, Dek Khansa mau di sini sampai kapan? Sampai jam tangannya ada?”

Dek Khansa mengangguk.

“Kalau gitu, misal nih, kita nanya ke penjualnya, kan juga nunggu barangnya ada, bisa seminggu lebih. Kalaupun beli online, barangnya sampai ke sini ya nunggu, sekitar tiga sampai empat hari. Nggak bisa sore ini langsung. Dek Khansa mau di kamar tiga hari terus? Kalau mau makan gimana? Nggak mandi? Nggak sekolah?”

Dek Khansa masih terdiam seperti berpikir. Berpikir untuk menuruti logikanya yang mulai beranjak matang atau menuruti kemauan kanak-kanaknya.

“Nah, kalau nggak mau kaya gitu, yuk, keluar, pintunya dibuka. Nanti diluar kita cari online ada nggak. Kalau ada nanti kita beli.” Hmmmm, saya sudah diatas angin.

Tiba-tiba Dek Khansa berdiri, menghadap ke saya, dan menarik tangan saya untuk berdiri juga. Dek Khansa lalu menunjuk pintu tanda minta dibukakan, dan minta digendong.

Alhamdulillaah, akhirnyaaa… Yaa Allaah…

Kami pun keluar kamar dan Abah-Ummi sudah siap di depan untuk bernegosiasi lagi. Saya tidak akan menceritakan bagaimana negosiasinya supaya tidak terlalu panjang. Inti negosiasinya tentang kalau sudah dibelikan jam tangan baru, Dek Khansa harus tetap mau mengaji, tidak teledor dan malah mainan jam tangannya. Urusan itu, saya serahkan ke Abah-Ummi yang lebih jago negosiasi ke Dek Khansa.

Sekedar informasi, total waktu yang saya butuhkan untuk membujuk Dek Khansa adalah sekitar satu setengah jam. Sangat lama, menguras kesabaran, dan memaksa untuk berpikir keras. Tapi, saya bersyukur tidak ada trauma bagi Dek Khansa dan solusinya menguntungkan kami maupun Dek Khansa.

Dan sebelum pulang sore itu, saya bilang ke Dek Khansa,

“Besok lagi, kalau minta nggak usah pakai nangis. Itu cara lama, sudah ketinggalan zaman. Sekarang Dek Khansa sudah masuk SD. Cara mintanya harus lebih baik, disampaikan yang jelas dengan alasannya kenapa. Jadi Abah-Ummi mudah memahaminya. Kalau Dek Khansa mintanya sambil nangis, nanti kaya Mas Fahmi tadi, pahamnya butuh waktu satu jam, hehe.”

*****

Pulang sore itu, benar-benar memberi saya pelajaran yang sangat penting. Mendidik anak adalah tanggung jawab dan amanah yang luar biasa beratnya. Tak bisa hanya dengan teori maupun praktek pribadi, tapi juga lingkungan sekitar yang harus kita kondisikan. Dan tantangan masing-masing orangtua ketika mendidik anaknya akan sangat berbeda sesuai situasi dan kondisinya masing-masing. Poin paling pentingnya adalah soal kesabaran, nilai-nilai yang diajarkan, dan kecerdasan menemukan solusi bersama.

Ya, sore itu memang akhirnya kami memang tak bisa menyelesaikan urusan sesuai rencana. Namun, kami dapat bonus besar, seolah Allaah swt sengaja mengatur kami agar pulang sore itu. Supaya kami belajar dan bersiap lebih baik lagi untuk menerima amanah berikutnya, keturunan yang kelak akan menjadi bagian umat ini menuju kejayaannya.

*****

Sepanjang perjalanan pulang, saya terus berpikir apa yang Allaah swt inginkan dari saya untuk belajar. Sampai akhirnya, saya jadi ingat tiga nasehat dari Al-Quran dan Al-Hadits berikut ini,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam (mengajarkan dan mengerjakannya). Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” Surat ThaaHaa ayat 132.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” Surat Luqman ayat 14.

“Siapa yang memiliki 3 anak perempuan, lalu dia bersabar, memberinya makan, minum, dan pakaian dari hasil usahanya, maka semuanya akan menjadi tameng dari neraka pada hari kiamat.” (H.R. Ahmad 17403).

Salah satu kunci dari mendidik anak adalah bersabar dan membutuhkan waktu yang panjang. Ya, mungkin sore itu saya kehilangan sebagian besar waktu. Tapi pelajaran dan pengalamannya belum tentu terulang.

Yaa Allaah, jadikanlah keluarga dan penerus kami menjadi pilar-pilar kejayaan peradaban agama-Mu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *