Kehormatan Sebuah Keluarga

Akhir Ramadhan lalu, kami ber-silaturrahmi ke rumah orangtua kakak ipar kami. Kami main ke rumah orangtua Mas Wafda dan Mbak Aya, yaitu Pak Sugeng dan Bu Ambar. Keluarga Pak Sugeng merupakan tipikal keluarga kecil dan sederhana. Dari pernikahannya, mereka dikaruniai dua orang anak perempuan yang saat ini sudah menikah semua. Karena kedua anaknya sudah menikah, maka biasanya ketika malam lebaran, rumah akan tampak sepi. Hal ini karena anak-anaknya masih berada di rumah keluarga besan atau bahkan belum mudik menunggu suaminya.

Maka, kedatangan kita malam itu benar-benar cocok. Kami berbincang panjang hingga larut malam. Kami banyak berbincang tentang makna sebuah keluarga. Kami mengobrol tentang pengalaman mengajar dan bergaul di lingkungan kerja. Kami juga bertukar pengalaman tentang bagaimana merawat hubungan dalam keluarga.

Untuk informasi, keluarga Pak Sugeng dan Bu Ambar ini tidak seperti keluarga kebanyakan. Pak Sugeng yang merupakan pensiunan sopir perusahan Coca-Cola adalah seorang lulusan SMA. Sementara, Bu Ambar yang merupakan guru Bahasa Indonesia adalah lulusan sarjana. Ada gap pendidikan dan perbedaan kelas dalam pekerjaan mereka.

Tentang hal ini, Bu Ambar sudah diwanti-wanti oleh Bapaknya sejak sebelum menikah. Sebelum menerima lamaran Pak Sugeng, Bapak dari Bu Ambar bertanya ke Bu Ambar terlebih dahulu,

“Kamu yakin bisa menerima Sugeng apa adanya? Jangan memaksa lho. Soalnya kamu sekarang calon sarjana, sementara calon suamimu lulusan SMA.”

“Memangnya kenapa, Pak?” Tanya Bu Ambar waktu itu.

“Kamu siap ndak untuk menghormati suamimu nanti? Meskipun pendidikannya lebih rendah dari kamu. Meskipun nanti gajimu lebih besar dari gajinya. Kamu siap, ndak?”

“Ya harus siap dong, Pak. Kan istri harus taat dan hormat dengan suami.”

“Jawabannya jangan cuma kata-kata saja ya. Buktikan nanti kalau sudah menikah. Tidak mudah memberikan rasa hormat pada orang yang menurut kita tidak lebih baik dari kita.”

“Tapi, yang namanya keluarga, kehormatannya tergantung bagaimana anggotanya saling menghormati. Kehormatan istri akan terkait erat dengan bagaimana dia menghormati suaminya. Begitu pula kehormatan suami, bergantung bagaimana dia berlaku dengan istrinya. Tak ketinggalan pula anak-anaknya. Kehormatan orangtua dijaga oleh anak. Sebaliknya, kehormatan anak dijaga oleh orangtua.”

Ketika itu, Bu Ambar hanya terdiam berusaha mencerna. Entah mengapa, nasehat itu cukup telak mengena di hatinya. Dan memang benar, adalah sebuah tantangan yang berat, untuk memberikan rasa hormat pada suami, yang menurut pandangan kebanyakan orang tidak lebih baik dari dirinya. Bersyukur sekali, Bu Ambar sudah mendapatkan nasehat sebelumnya. Beliau mampu berjuang melewati masa membangun kepercayaan dan kehormatan pada suami tersebut dengan baik.

*****

Saya jadi ingat, kebiasaan yang ditanamkan Bapak dan Ibu saya dulu di rumah. Bapak mengajarkan pada kami, bahwa rumah adalah aurat. Tidak bisa kita menceritakan keseluruhan isinya keluar. Tidak bisa kita membiarkan orang lain masuk terlalu dalam. Ada hal-hal yang harus kita jaga kerahasiaannya demi menjaga kehormatan keluarga.

Bapak juga mengajarkan, sekecil apapun prestasi dan usaha yang dilakukan oleh saudara kita, maka kita harus menghargainya. Karena, jika kita tak mampu menghargainya, siapa lagi yang akan menghargainya? Misalnya, ketika saya menyelesaikan hafalan Al-Quran dulu. Bapak dan Ibu adalah orang yabg pertama mengucapkan selamat dan memberi hadiah. Sehingga, rasa penghargaan itu saya terika pertama kali dari keluarga. Saya langsung merasa bahwa keluarga saya menghormati dan menghargai prestasi saya.

Begitu pula ketika nanti Bapak berbincang dengan rekan-rekannya, atau ketika Ibu bercerita dengan saudaranya, mereka akan menceritakan kebaikan yang kami raih. Di situlah, kami merasa dihargai dan dihormati sebagai anak. Efeknya, kami akan dengan senang hati memberikan kepercayaan terbesar kepada keluarga. Kami juga lebih mudah menghormati dan menaati Bapak-Ibu. Begitulah sebuah keluarga bekerja, masing-masing anggotanya saling berkaitan.

*****

Kalau kita perhatikan firman Allaah swt dan pesan Rasuulullaah saw, maka kita akan melihat bagaimana sebuah keluarga bekerja. Pertama kita lihat dari hubungan suami dan istri.

Dan pergaulilah mereka (istrimu) dengan cara yang baik.” (An-Nisaa’ ayat 19)

Ada tiga golongan yang shalat mereka tidak melewati telinga-telinga mereka, yaitu… , istri yang melewati malam hari sementara suaminya marah kepadanya,...” (H.R. At-Tirmidzi No. 360)

Kalau kita perhatikan ayat di atas baik-baik, ada satu kesimpulan yang sama. Suami atau istri yang baik adalah mereka yang mampu berbuat baik pada pasangannya. Derajat kebaikan dan kehormatan seseorang ditentukan dengan bagaimana dia berbuat baik dan menghormati pasangannya.

Begitu pula terhadap anak dengan orangtua, konsepnya sama. Seorang anak akan dinilai baik selama ia berbuat baik pada orangtuanya. Betapa kisah Uwais Al-Qarni menjadi pelajaran penting untuk kita. Betapa mudahnya Allaah swt memuliakannya karena baktinya pada ibunya. Bahwa berbakti kepada orangtua bisa jadi amalan yang lebih utama daripada jihad fii sabiilillaah. Sampai-sampai keridhaan dan kemarahan Allaah swt kepada kita digantungkan pada orangtua.

Sebaliknya, orangtua yang tidak mengasihi dan menyayangi anaknya, maka dicela oleh Allaah swt dan Rasul-Nya. Coba kita perhatikan hadits berikut ini, jelas sekali gambaran celaan tersebut.

Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (H.R. At-Tirmidzi No. 1842)

*****

Perkara saling menghormati dan menyayangi dalam keluarga ini seringkali disampaikan. Dalam setiap taushiyah dan kultum, tema yang paling sering muncul adalah tentang hal tersebut. Sampai-sampai terkesan normatif dan formalitas belaka. Namun, setelah berkeluarga, saya benar-benar merasakan bahwa melakukan keduanya tidak semudah mengucapkannya.

Karena konsekuensi dari nasehat tersebut adalah, kita harus tetap menghormati keluarga kita meskipun dalam pandangan kita, dia tak lebih baik dari kita. Kita harus tetap mengasihinya meskipun pada posisi kesal dan marah. Kita harus tetap menghargai dan mengapresiasi meskipun kita tak puas dengan hasil pekerjaannya. Kita harus menjaga keburukan anggota keluarga kita agar tak diketahui orang lain. Kita tak boleh membocorkan aib keluarga meski kita sedang diuji dengan rasa benci kepada mereka.

Tentu itu semua bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Wajar jika Rasuulullaah saw mewanti-wanti berulang kali. Orangtua juga mengingatkan dalam setiap kesempatan bertemu. Ini karena urusan menghormati dan menyayangi adalah soal perasaan. Berbicara perasaan tentu sangat terkait erat dengan hati. Dan hati, adalah titik terlemah manusia yang menjadi sasaran pertama setan menggoda.

Maka, tidak ada cara terbaik untuk berlindung selain memohon perlindungan pada Allaah swt. Na’uudzubillaah wal ‘iyaadzu bihii. Semoga Allaah swt senantiasa menjaga hati kita dan menanamkan rasa kasih dan sayang dalam hati kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *