Ketika Kode Berbalas Kode

“Sayang, doain yaaa. Semoga Ramadhan ini aku bisa puasa sebulan penuh.”

Itulah permintaan Dek Zahra menjelang Ramadhan kemarin. Awalnya, saya bingung dengan permintaan tersebut. Belakangan saya baru sadar, itu adalah doa yang berupa kode ke Allaah swt agar kami diberikan hadiah berupa kehamilan. Mengingat ketika lebaran, pasti akan muncul pertanyaan sensitif seperti, “Sudah isi belum?”, “Kok belum hamil?”, atau “Mana momongannya?”, dan sejenisnya.

Harapannya, kami bisa menjawab dengan pernyataan yang jelas bahwa minimal sudah hamil. Itulah kenapa, kami benar-benar memohon pada Allaah swt agar diberikan tanda berupa Dek Zahra puasa sebulan penuh. Dan benar ternyata, Ramadhan kemarin, Dek Zahra bisa menyelesaikan puasa sebulan penuh sesuai doa kami bersama. Namun, sepertinya Allaah swt ingin menguji keimanan dan pengharapan kami. Tanda dua strip di testpack yang kami coba tak kunjung muncul.

Maka, sesuai perkiraan kami, ketika berkumpul bersama sanak saudara saat lebaran, kami harus mempersiapkan jawaban lelucon dan memasang senyum lebar agar tidak merusak suasana hari raya. Cerita itu sudah kami tulis di sini.

*****

Pasca lebaran, kami masih terus berharap agar Allaah swt berkenan memberi kami keturunan. Karena inilah salah satu tujuan kami berkeluarga. Tapi rupanya, Allaah swt masih ingin mempanjang ujian-Nya pada kami. Tanda dua strip itu belum muncul. Apalagi tanda-tanda kehamilan Dek Zahra.

Bahkan, Allaah swt menguji kami kembali dengan meminta kami untuk pindah tempat tinggal. Kami diminta oleh Pengurus Yayasan untuk pindah ke kamar atas yang baru dibuat dengan ukuran yang lebih besar. Tentu kami merasa tidak nyaman mengingat sudah pewe di kamar bawah. Apalagi, kalau di kamar atas aksesnya harus melewati kamar santri. Lagi-lagi kami tak mampu memahami kehendak Allaah swt dengan baik.

Awalnya, kami tetap bersikeras merasa nyaman di kamar bawah. Tapi, setelah beristikharah dan musyawarah keluarga, kami sepakat untuk naik ke atas. Pertimbangannya, jika kami pindah, maka bekas kamar kami bisa dijadikan kantor untuk Yayasan karena aksesnya lebih cocok. Mengingat itu adalah kebutuhan umat dan khususnya yayasan, maka kami pun menerima keputusan untuk pindah ke kamar atas. Kami belum paham jika ternyata ini adalah kode dari Allaah swt atas doa-doa kami kemarin.

Dan begitulah, setelah saya menyesuaikan jadwal libur, kemarin kami baru saja menyelesaikan pindahan. Alhamdulillaah, kamarnya cukup luas, sekitar satu setengah kali kamar yang lama. InSyaaAllaah lebih kondusif untuk keluarga kecil meski aksesnya harus melewati kamar santri dan naik ke atas. Pada akhirnya, kami tetap berusaha mensyukuri nikmat upgrade kamar ini.

Bagian paling membahagiakannya adalah, yang saya sebut bahwa upgrading ini adalah kode dari Allaah swt. Ya, kode bahwa Dia akan segera mengabulkan doa-doa kami beberapa waktu terakhir. Sementara kami masih belum sadar karena sibuk menikmati kamar baru. Malam pertama di sana, kami memutuskan langsung istirahat dan tidur cepat karena merasa sangat lelah.

Paginya, ketika bangun, saya merasa sangat lelah. Badan dan otot saya terasa sakit semua karena memaksa mengangkat barang-barang berat saat pindahan kemarin. Ketika saya masih mencoba memaksa diri untuk bangun, tiba-tiba Dek Zahra datang sambil bilang,

“Sayang, aku mau ngasih kejutan, deh.”
“Hmmm, kejutan apa pagi-pagi gini…” Saya menjawab sambil masih berusaha bangun untuk duduk.
“Taraaa…! Nih, lihat.” Dek Zahra menunjukkan testpack dengan dua strip di depan mata saya.
“Hmmmm, punya siapa itu…?” Saya bertanya sok kalem padahal dalam hati saya terkejut dan merasa so excited.
“Yaaa punyaku laaah. Emang punya siapa lagiii…?” Dek Zahra tampak kesal melihat reaksi saya yang “B aja”.
“Ohiya, yaudah besok segera cek ke Puskesmas yaaa. Biar dapat buku KIA sama dimasukin program ibu hamil.” Saya membalas sambil mempertahankan supaya tidak tampak berlebihan. Meski sebenarnya, saya merasa sangat bahagia. Saking bahagianya, hilang rasa sakit dan pegal di otot-otot badan saya.

*****

Ada dua hal yang lagi-lagi membuat kami harus belajar kembali. Setelah melalui semua penantian tanda kehamilan ini, saya dan Dek Zahra berusaha untuk me-review, apa yang hendak Allaah swt ajarkan untuk kami. Maka, kami mengambil dua ayat yang cukup kuat menimbulkan perasaan dalam hati kami saat ini.

Ayat pertama adalah ayat yang sudah sangat terkenal, yaitu surat Ibrahim, ayat 7.

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu (Allaah swt) memaklumkan, “(Wahai hamba-Ku, jika kalian mensyukuri (nikmat-Ku), maka akan Aku tambahkan (berkahnya) untuk kalian. Dan jika kamu kufur (terhadap nikmat-Ku), maka sungguh azab-Ku sangatlah keras.”

Ayat di atas benar-benar kami rasakan faedahnya. Ketika kami menerima kondisi kami yang belum memiliki anak dan bersabar atas ikhtiarnya, maka Allaah swt akhirnya memberikan hadiah berupa pengabulan atas harapan kami. Begitu pula, saat kami mensyukuri nikmat kamar yang baru, Allaah swt mengejutkan kami dengan menganugerahkan calon keturunan kami yang baru.

Betapa Allaah swt sangat menyayangi pada mereka yang senantiasa menggantungkan harapan pada-Nya. Kami berdoa dengan kode, Allaah swt mengabulkannya dengan didahului kode juga. Kami harus pindah ke kamar yang lebih besar di atas. Tujuannya, tentu agar kami bisa menambah kehadiran calon anggota keluarga baru. Toh, di kamar atas, suasananya relatif lebih tenang karena tidak terlalu terganggu suara kendaraan dan anak-anak yang mengaji. Sungguh, kami kurang peka menangkap kode-Nya yang begitu jelas.

Ayat kedua, adalah surat Al-Hadid ayat 23 berikut ini,

“Agar kamu tidak terlalu bersedih hati terhadap apa yang luput darimu. Dan agar kamu tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan kepadamu. Dan Allaah swt tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.”

Kalau kita perhatikan lebih lanjut di Al-Quran, ayat sebelumnya adalah pernyataan Allaah swt tentang takdir yang baik maupun yang buruk. Allaah swt sudah menentukan setiap kejadian di dunia ini dalam lauhul mahfudh. Allaah swt mempergilirkan untuk setiap makhluk-Nya kejadian baik dan buruk dengan tujuan sebagaimana disebutkan ayat di atas.

Inilah yang kemudian saya lakukan ketika dikabari oleh Dek Zahra tentang kehamilannya. Jelas itu sebuah nikmat yang kami harap-harapkan datang. Jelas pula jika saya sangat berbahagia. Tapi, bukan laki-laki namanya jika tidak pandai menyembunyikan perasaan. Meski begitu membuncah, di depan Dek Zahra, saya hanya mengeluarkan reaksi yang katanya “B aja”.

Bukan apa-apa, ini bagian dari cara saya mengajarkan keluarga untuk men-tadabburi ayat-ayat Al-Quran. Perjalanan pernikahan kami selama ini, sudah banyak kejadian enak dan tidaknya. Beberapa waktu lalu, kami pernah menerima nikmat serupa dengan penuh sukacita. Tiga bulan berikutnya, Allaah swt berikan ujiannya. Dan beberapa bulan setelahnya, kami menanti nikmat serupa.

Maka, ketika nikmat tersebut akhirnya datang, kami sudah belajar bagaimana menghadapinya. Meskipun sangat bahagia, kami harus bisa mengontrol diri agar tidak lalai. Bahkan, seharusnya ini menjadi pemicu bagi kami agar bisa beramal lebih baik lagi. Hanya, saya memaklumi Dek Zahra sebagai perempuan. Perempuan paling tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Wajar jika pagi itu Dek Zahra sangat bersukacita.

Tentu perjalanan masih panjang. Bahkan, ini baru awal untuk checkpoint berikutnya, yaitu kelahiran anak kami kelak. Banyak hal yang harus dipersiapkan dan dikejar demi menyambut kehadiran penerus kami. Kami harus memastikan bahwa ketika kelak Allaah swt berikan amanah tersebut seutuhnya, kami telah siap menerimanya.

Yaa Allaah, berikanlah petunjuk kepada kami tentang apa yang harus kami lakukan untuk persiapan ini. Berilah kami kekuatan dan kesabaran dalam menjalani proses persiapan ini. Jadikan anak yang lahir dalam keluarga kami ini kelak menjadi orang yang senantiasa ikhlas dan istiqomah menegakkan dan mendakwahkan agama-Mu sebagaimana visi rumah tangga kami.

One thought to “Ketika Kode Berbalas Kode”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *