Delapan Jam Penantian

Sebelum berproses menuju pernikahan, pernah suatu kali Mas Fahmi membuat janji dengan saya untuk menyerahkan sesuatu. Saat itu ia datang dari arah fakultasnya yang terletak persis di utara fakultas saya. Menunggu di pinggir jalan, tampak Mas Fahmi datang dengan kemeja warna merah. Saya tahu betul kulitnya gelap. Tapi entah kenapa siang itu wajahnya tampak bersinar dan berseri-seri, dengan senyum super lebar yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Etdah, kesambet apa ini orang senyum-senyum sendiri kayak gitu, pikir saya ketika itu.

Beberapa hari setelah menikah, uneg-uneg saya terjawab.

“Aku waktu itu cuma praktekin hadist nabi yang ini, janganlah engkau meremehkan suatu kebaikan, walaupun sekedar bermuka manis ketika engkau bertemu dengan saudaramu.” [HR. Muslim]”

Entah jawaban itu jujur atau tidak, tapi hadist itu mengajarkan kami sesuatu. Yakni untuk senantiasa berwajah ceria ketika bertemu siapapun, terlebih bertemu dengan pasangan. Yang terakhir itulah kemudian, yang menjadi komitmen kami untuk terus dilakukan hari-hari ke depan.

*****

Setelah berkeluarga, segala mimpi kita bukan lagi menjadi mimpi pribadi, tapi mimpi keluarga. Suami bekerja, istri menanti di rumah, anak-anak belajar di sekolah, dan aktivitas lainnya adalah dalam rangka mewujudkan mimpi bersama untuk kemudian bertemu kembali di surga.

Pemaknaan tersebut juga akan menjadikan rumah sebagai sumber energi dan kebahagiaan. Di rumahlah mimpi dibangun. Meski kemudian mimpi itu diwujudkan di luar, tapi energi utamanya didapat dari dalam rumah lewat masakan istri dan tawa canda. Dan ketika energi itu habis digunakan untuk berjuang di luar, sang pejuang kembali ke rumah membawa ‘batu bata’ yang ia hasilkan untuk betul-betul mewujudkan bangunan mimpi itu.

Dengan analogi begitu, terang bahwa satu momen krusial yang semestinya dipersiapkan adalah momen ketika suami pulang dan istri menyambut di rumah. Di titik itu, energi suami sedang berada di titik terendahnya. Pekerjaannya di luar terlampau berat. Barangkali di luar sana, selain harus menyelesaikan pekerjaan yang menggunung, ia masih mendapatkan umpatan dari senior, dikhianati teman, tidak sempat makan siang, berpanas-panas di jalanan, menembus kemacetan, dan sederet kesulitan hidup lainnya.

Pun kehidupan sang istri di rumah bisa jadi tidak juga bisa dikata ringan. Membersihkan rumah, belanja, memasak, mengurus anak-anak, mencuci dan menyetrika baju, dan sederet pekerjaan lain yang mungkin tampak sepele tapi tidak ada habisnya.

Di titik ini, sudah semestinya masing-masing anggota keluarga menyiapkan sambutan terbaik untuk yang lainnya. Karena selain titik tersebut sangat rawan menjadi titik konflik, sebaliknya, titik tersebut justru bisa menjadi titik balik yang akan membuat energi dan kebahagiaan tiba-tiba naik. Serta, bisa jadi perekat ikatan cinta antar pasangan.

*****

Salah satu rule yang kemudian kami terapkan demi membuat sambutan terbaik adalah hadist yang Mas Fahmi ajarkan di atas. Kami berkomitmen untuk senantiasa memasang wajah berseri ketika bertemu.

Maka demi dapat melakukan itu, waktu di mana Mas Fahmi pulang, adalah waktu di mana saya harus berada di rumah. Meski ada kajian yang sangat ingin saya hadiri, meski ada teman mengajak meetup, meski ada tawaran untuk pekerjaan ini dan itu, meski ada kelas yang begitu menarik, sebisa mungkin saya atur supaya agenda-agenda tersebut sudah selesai sebelum Mas Fahmi pulang. Atau kalau tidak bisa, maka saya memilih untuk tidak datang atau tidak mengambil kesempatan tersebut.

Barangkali hal tersebut menyulitkan saya dan membuat saya kurang berkembang. Memang pilihan yang seringkali sulit. Tapi ketika kembali di visi awal, ketika keluarga menjadi ranah utama perjuangan kita, itu semua tidak menjadi masalah.

Rule lain yang kami terapkan supaya family time benar-benar berkualitas adalah salah satunya adalah kami menghindari pekerjaan rumah. Jika ada tugas atau PR, kami sebisa mungkin menyelesaikannya di luar rumah. Kalau terpaksa sekali harus dikerjakan di rumah, maka kami mengerjakannya saat yang lain sudah tidur.

Hal ini menjadi sangat krusial. Karena sambutan sebaik apapun kalau kemudian dirusak oleh sibuknya salah satu dengan pekerjaannya sendiri hanya akan menjadi sambutan yang semu. Barangkali hanya beberapa menit saja bahagianya, sedang seterusnya justru kelelahan semakin mendera. Yang satu ruwet dengan pekerjaannya, sedang yang lain lagi merasa tidak diperhatikan dan tidak didengarkan.

Rule yang lain lagi ada perkara gadget. Barangkali PR sudah selesai semua di luar rumah, tapi ketika sibuk dengan gadget masing-masing, maka sama seperti tadi, sambutan sebaik apapun tidak akan memberi dampak apa-apa. Dalam hal ini, sebenarnya kami masih sering khilaf. Saya sering tidak bisa menahan diri membuka sosial media, sedangkan Mas Fahmi seringkali asyik dengan game atau membaca manga. Kalau sudah begini, salah satu akan berkata,

“Aku nungguin 8 jam (atau bahkan 2 hari), ternyata dapetnya cuma gini ya”

Atau ketika kata-kata tersebut masih belum juga mempan, sebisa mungkin salah satu menarik perhatian yang lainnya. Karena bisa jadi ‘phubbing’ terjadi karena pasangan kalah menarik dibandingkan HP. Caranya adalah dengan menggelitik, mengajak nonton film, mengajak jalan-jalan keluar, membuat es atau makanan ringan, atau hal-hal sederhana lain yang menghindarkan kami dari HP.

Yah, tapi kadang cara-cara tersebut belum berhasil juga. Kalau sudah begitu, maka yang dapat dilakukan adalah ikhlas dan bertawakkal kepada Allaah swt. Barangkali memang ‘phubbing time’ tersebut akan menjadi manfaat yang besar. Atau kalaupun menjadi mudharat, biarlah Allaah swt yang mengingatkan dengan caranya sendiri. Karena bagaimanapun, apa-apa yang tidak bisa kita rubah, adalah kuasa Allaah untuk merubahnya.

*****

Menutup tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah hadist yang menjadi pelecut saya ketika sedang lengah,

Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku” (HR. At-Tarmidzi)

Somehow, keluarga merupakan orang-orang yang paling berhak dengan wajah manis dan cara bergaul yang baik, curahan kebaikan, dilindungi dari bahaya, dan diusahakan mendapatkan manfaat. Karena disitulah letak surga yang sebenarnya. Baik surga kecil ketika di dunia, maupun sebenar-benar surga di akhirat kelak.

One thought to “Delapan Jam Penantian”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *