Kredibilitas Orang Tua

Dari sekian banyak komik tentang sepakbola, saya sangat menyukai komik Giant Killing. Komik ini begitu detail menggambarkan kehidupan orang-orang yang hidup melalui olahraga ini. Mulai dari pemain, pelatih, staf, manajemen, sponsor, suporter, bahkan sampai penduduk lokal. Semuanya diceritakan sesuai dengan konfliknya masing-masing. Yaaah, meski pada akhirnya setiap saya baca komik tersebut, Dek Zahra selalu mengganggu. Hehe.

Bagian yang paling menarik menurut saya adalah, saat Masaya Tsunamoto sebagai penulis membuat penokohan untuk Tatsumi Takeshi, sang pelatih, sebagai tokoh utama. Dalam berbagai plot, digambarkan bagaimana Tatsumi membuat strategi counter berdasarkan perkiraan strategi musuh. Dari musuh yang ringan sampai yang berat berisikan para pemain bintang. Pertimbangan strateginya pun tak main-main, tidak hanya berdasarkan materi starting lineup saja, tapi juga kemampuan dan psikologis individual pemain, bahkan pelatih. Meski begitu, tidak mudah bagi pemain untuk percaya penuh kepada sang pelatih muda tersebut.

Seiring berjalannya waktu, para pemain mulai memahami kecerdasan dan kejelian strategi Tatsumi. Semakin pemain percaya pada apa yang dikatakan pelatih, strategi berjalan lancar, dan hasil pertandingan akan sesuai dengan perkiraan, bahkan kadang terlampaui. Sebaliknya, saat masih awal-awal, ketika banyak dari pemain belum percaya pada pelatih, kekompakan tim pun kacau. Begitu pula dengan hasil pertandingan yang dijalani.

Membaca komik tersebut, mengingatkan saya pada kisah Nabi Ibrahim as dan anaknya Nabi Ismail as. Ketika itu, Allaah swt menguji Nabi Ibrahim as melalui mimpinya, diperintahkan untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail as. Satu-satunya anak yang ditunggu sekian tahun lamanya. Begitu lahir, Allaah swt langsung meminta Nabi Ibrahim as untuk berpisah dengan Nabi Ismail as sekaligus ibunya. Ketika Nabi Ismail as beranjak dewasa dan Nabi Ibrahim as menjumpainya sebagai pemuda yang cerdas dan tangguh, Allaah swt malah menyuruhnya untuk menyembelih. Sungguh sebuah ujian yang sangat berat bagi seorang ayah.

Namun, yang luar biasa adalah ketika Nabi Ibrahim as mulai merasa ragu dan meminta pendapat Nabi Ismail as, dia mendapat jawaban yang di luar dugaan. Jawaban yang kemudian diabadikan Allaah swt dalam surat Ash-Shaffaat ayat 102 berikut ini,

“Wahai, ayah. Kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, inSyaaAllaah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Jawaban ini menggambarkan bagaimana Nabi Ismail as memberikan kepercayaan penuh kepada Allaah swt dan kepada ayahnya, Nabi Ibrahim as. Kepercayaan yang muncul karena kredibilitas Nabi Ibrahim as sebagai seorang ayah yang tidak diragukan sedikitpun oleh anaknya.

Sekian lama Nabi Ismail as bergaul dengan ayahnya, Nabi Ibrahim as, dia belajar tentang bagaimana menjadi seorang hamba Allaah swt yang sebaik-baiknya. Baginya, Nabi Ibrahim as adalah inspirasi dan teladannya. Inilah yang membuat saya langsung teringat kisah mereka berdua saat membaca komik Giant Killing. Ketika kredibilitas seorang pelatih sudah mendapatkan kepercayaan penuh dari pemain, maka arah perkembangan strategi sebuah tim akan kompak dan jelas. Begitu pula, ketika kredibilitas orangtua sudah dipercayai oleh anak, maka arah perkembangan pendidikan anak akan lebih optimal.

Tentu tidak mudah menjadi orangtua yang memiliki kredibilitas yang baik. Butuh persiapan tidak hanya teori namun juga harus memiliki improvisasi yang baik. Orangtua perlu berusaha memainkan peran dengan apik, kapan menjadi kawan, menjadi orangtua, menjadi guru, menjadi sparring partner, dan lainnya. Orangtua juga perlu membangun kepercayaan diri dari anak-anaknya. Kalau perlu, orangtua juga memprediksi dan meng-counter apa yang ditakutkan oleh anaknya. Ini akan lebih mudah jika orangtua memiliki pengalaman yang mendalam tentang hal-hal yang ditakutkan anaknya. Dengan begitu, anak akan menjadikan orangtua sebagai teladan dan inspirasi bagi kehidupannya. Di situlah, orangtua memiliki kredibilitas yang baik dan terbukti.

Membayangkan hal tersebut, saya jadi teringat bagaimana Bapak, Ibu, dan kakak saya menjadi orang-orang yang senantiasa menjadi inspirasi dan teladan dalam kehidupan. Bagaimana ketika saya ragu menghafal Al-Quran, kakak saya meyakinkan sedemikian rupa. Kakak saya pula yang membantu saya survive belajar di pondok sejak SD. Bagaimana ketika saya takut untuk berbicara di depan umum, Bapak meyakinkan dan mengajarkan strategi khusus yang saya pakai sampai hari ini. Bapak yang menyarankan saya belajar beladiri dan saya menemukan manfaat yang tidak kecil darinya. Bapak lah yang meyakinkan saya untuk mengambil kedokteran meski berat dan mahal. Bapak pula yang menginspirasi untuk bisa seimbang dalam qanaah dan ikhtiar maksimal. Bagaimana pula ketika saya ragu untuk melangkah ke jenjang pernikahan, lalu Ibu saya meyakinkan dengan prediksinya yang terbukti. Ibu saya pula yang banyak menguatkan kehidupan saya setelah pernikahan dengan nasehat dan teladannya. Dan banyak hal lain yang membuat saya menjadikan mereka sebagai inspirasi dalam meniti kehidupan ini.

Setiap orang tentu memiliki idola masing-masing. Dan seseorang yang dijadikan idola tentu bukan sembarangan. Dia harus memiliki kredibilitas yang terbukti dan terpercaya. Maka, ketika seorang anak menjadikan orangtuanya sebagai idola, tentu itu adalah sebuah keberhasilan yang besar bagi orangtuanya. Ada sisi-sisi dalam kehidupan orangtua yang senantiasa menginspirasi anaknya.

Pertanyaanya adalah, sudah cukupkah kredibilitas kita untuk menjadi orangtua? Atau minimal cukupkah kredibilitas kita sebagai pasangan hidup orang yang kita cintai? Semoga Allaah swt mudahkan kita untuk memiliki kredibilitas yang sesuai dengan amanah kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *