Menjadi Istri Seorang Khoirul Fahmi

Hanya sedikit sekali teman yang saya kenal, yang kalau bahasa Stephen R. Covey, menang secara pribadi dan menang secara publik. Barangkali banyak orang yang menang secara pribadi, dalam arti memiliki disiplin diri yang begitu kuat, ibadah yang melangit, intelektualitas yang melejit, kedewasaan yang matang, dan aspek-aspek pribadi lain yang begitu sempurna. Tapi sayangnya, orang-orang ini melempem ketika terjun ke publik. Entah karena public speaking yang masih perlu diasah, skill menulis yang belum muncul, atau sosialisasi yang kurang.

Sebaliknya, tidak kalah banyaknya orang yang menang secara publik, tapi kalah secara kepribadian. Boleh jadi followers-nya banyak, kegiatan sosialnya se-abreg, jaringannya tersebar ke seluruh penjuru dunia, di media sosial begitu bersinar, tapi ternyata secara kepribadian ia masih lembek. Entah karena ilmu agamanya yang pas-pasan, interaksi dengan lawan jenis yang terlalu cair, belum selesai dengan dirinya sendiri dalam manajemen waktu, kurang disiplin, ibadah berantakan, dan aspek-aspek pribadi lain yang jauh dari sempurna.

Seperti yang saya katakan di awal, saya hanya mengenal sedikit sekali orang yang kuat di keduanya. Suami saya salah satunya. Salah satu yang lainnya adalah partner-in-crime saya di asrama, Alfath Bagus Panuntun Elnur Indonesia, yang baru saja menikah belum lama ini.

Keduanya tidak hanya dibentuk “by nurture”, tapi memang sejak dalam buaian mereka telah turut berjuang menghadapi kerasnya hidup bersama keluarganya. Keadaan dan didikan yang begitu keras membentuk karakter mereka menjadi begitu kokoh tak tertandingi. Orang-orang ini selalu bisa membuat orang lain takluk tanpa bisa membantah perintah atau sekedar pendapat sederhana yang keluar dari lisannya. Mereka bukan orang yang akan nyaman berada dalam sistem yang telah settle, tapi akan terus membuat sistem sesuai dengan yang mereka kehendaki.

Meski memiliki potensi yang begitu besar untuk “memimpin”, menjadi pendamping atau bawahan orang macam ini tidak mudah. Terlebih menjadi pendamping hidupnya, barangkali adalah sebuah perjuangan yang tidak mengenal kata akhir.

Maka, ketika Yara yang sekarang menjadi istri Alfath dulu bercerita pada saya hendak menikah dengan Alfath, saya bilang, ia harus punya stok kesabaran dan keikhlasan yang tiada batasnya. Apalagi dengan background keluarga yang susah dibilang mirip, tambahan skill “menahan air mata supaya tidak jatuh” akan sangat berguna dalam berrumahtangga.

*****

Somehow, 16 bulan menjadi istri seorang Khoirul Fahmi mengajari saya sangat banyak hal. Beruntung Allaah swt belum jadi menganugerahi kami keturunan. Karena ternyata beradaptasi menjadi pendamping hidup Mas Fahmi sama sekali tidak sederhana.

Barangkali banyak sekali suami yang di luar sana tunduk pada wanitanya. Entah dalam hal materi, rencana ke depan, atau sekedar hal-hal remeh macam makan di mana atau bagaimana langkah-langkah mencuci baju atau mencuci piring. Perempuan dibilang “selalu benar” sehingga segala pendapat dan keinginannya harus diterima dan dituruti saat itu juga. Terlebih saat tamu bulanan datang, sang suami harus siap dengan stok kesabaran dan senyum yang senantiasa terpasang.

Somehow, pernyataan “women are always right” tidak pernah hadir di keluarga kami. Betapa tidak, perempuan sendiri dibilang tidak sempurna akal dan agamanya tapi dibilang selalu benar? Saya rasa dunia ini sudah begitu desperate menghadapi kaum hawa. Pemimpin keluarga jelas adalah suami, sedangkan istri hanyalah seorang manajer. Meski pendapat istri didengarkan, tapi tetap yang memutuskan adalah sang suami. Dan keputusan apapun harus diterima dengan lapang dada tanpa keluh kesah. Karena menolak berarti tertolak pula dari ridho-Nya Allaah swt.

Prinsip ini dipegang sangat erat oleh Mas Fahmi dan entah bagaimana ia selalu bisa mempengaruhi saya untuk menerima pendapatnya. Meski saya rasa saya benar, tapi in the end of a long long long long discussion, pendapatnya selalu menang. Dan ternyata memang realitanya, pendapat Mas Fahmi-lah yang menyelamatkan kami dari berbagai marabahaya dan mendekatkan kami pada pintu-pintu keberuntungan. Sehingga sekusut apapun muka saya pasca kalah debat akan selalu berubah pias kala mengetahui hikmahnya.

Pengaruh Mas Fahmi juga membuat saya tidak mengenal kata “bad mood“. Karena “bad mood” tanpa kata-kata penjelas tidak akan mengubah apapun. Jangan harap mendapat perhatian lebih hanya dengan cemberut, ngomel-ngomel, menangis, atau cara cari perhatian lainnya, yang ada hanya akan memperparah masalah. Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah adalah dengan mengutarakannya baik-baik disertai dengan solusi praktisnya. Somehow, tidak ada kata “minta dimengerti” dalam kamus saya. Karena dalam dunia kami, kalau ingin dimengerti ya harus memahamkan dengan cara yang memang bisa dipahami.

*****

Pernyataan “mencintai apa adanya” adalah hal yang tidak pernah pula hadir di keluarga kami. Kalau saya ada kurangnya, ya saya harus berubah. Kekurangan seolah tidak punya tempat dalam “rak kepribadian” masing-masing.

Misalnya saya tidak bisa mengangkat galon ke dispenser. Tidak ada ceritanya kemudian Mas Fahmi yang akhirnya mengangatkan galon meski ia hanya sedang tiduran. Kalau bukan saya yang mengangkatnya, sampai tahun depan pun galon itu tidak akan terangkat dan kami tidak minum. Terkadang yang begini ini terasa kejam, tapi kata-kata berikutnya yang kemudian menyapu bersih segala kesal.

“Allaah swt itu mencintai orang yang kuat, Dek. Malu-maluin istrinya Mas Fahmi nggak bisa angkat galon.”

Kalau ada hal-hal yang saya harus saya lakukan tapi menemui kendala, entah bagaimana pun harus tetap dilakukan. Karena jika tidak, pasti di akhir akan keluar juga kata-kata sakti ini,

“Jadi, “nggak bisa” atau “nggak berusaha untuk bisa”? Kenapa nggak coba ini? Kenapa nggak gini aja?”

Oke, baiklah. Menjadi istri seorang Khoirul Fahmi haruslah siap untuk senantiasa berubah dan belajar apapun.

*****

Yang terakhir, ah, barangkali ini yang terberat. Bahwa menikah jangan sampai membuat pola konsumsi berubah. Tumbuh di keluarga dengan banyak anak dan penghasilan orangtua yang “cukup” pada akhirnya membuat pola konsumsi Mas Fahmi begitu sederhana. Ia tidak akan membeli barang yang masih ia miliki, meskipun barang tersebut sudah rusak dan sobek-sobek. Pun kalau terpaksa sekali membeli, ia akan membeli yang paling murah. Masalah makan pun ia akan memilih yang paling mengenyangkan dan cukup gizi tapi jauh dari kata mahal.

Somehow, saya yang terbiasa dengan gaya hidup “anak FKG” shock dengan keadaan ini. Restoran yang dulu sering sekali saya datangi untuk makan di sana, sejak menikah belum pernah saya makan di sana lagi. Pakaian, jilbab, tas, sepatu, yang dulu hampir setiap bulan beli, kini belum pernah berganti sejak menikah. Pun kota-kota yang dulu saya singgahi naik mobil, kini terjamah hanya dengan motor.

Sungguh, ini bukan tentang materi. Karena kalaupun dicari, pasti ada saja untuk memenuhi standar gaya hidup seperti sebelum menikah. Hal ini adalah tentang pertanggungjawaban di akhirat kelak. Bahwa apa-apa yang kita pakai sendiri haruslah seminimal mungkin supaya hisabnya di akhirat kelak tidak berat dan lama. Pun dengan modal yang Allaah swt beri, haruslah kembalinya untuk ummat jauh lebih banyak dari apa yang kita pakai sendiri.

Alasan lainnya adalah supaya kita senantiasa merasakan hidup orang-orang yang belum seberuntung diri kita. Kalau sejak awal keluarga dibangun untuk menjadi kolaborasi terbaik untuk memberikan kontribusi terbaik untuk ummat, maka dalam berkeluarga pun kita harus mengerti dan merasakan betul kehidupan dan kesulitan yang ummat hadapi. Jangan sampai kita tinggal di istana dengan fasilitas tak terperi tapi ummat sengsara tak bisa makan sama sekali.

*****

Saya ingin menutup tulisan ini dengan mengingatkan pembaca kisah ketika para istri berkumpul untuk meminta Rasulullaah saw menaikkan uang belanja. Dipikir-pikir, wajar saja para istri ini minta uang belanjanya naik. Karena uang belanja sebelumnya sedikit sekali hingga tidak mampu mengepulkan asap dapur lebih dari 40 hari.

Tapi saat itu, “demo” minta uang belanja naik dipandang sebagai bentuk kekurangajaran. Hingga kemudian Abu Bakar memarahi dan memukul tengkuk Aisyah dan Umar memarahi dan memukul tengkuk Hafshah. Rasulullaah saw pun tidak tinggal diam. Ia menunggu wahyu turun untuk memutuskan apa yang harus ia lakukan terhadap istri-istrinya. Demi menunggu petunjuk dari Allaah swt, Rasulullaah saw tidak menggauli istri-istrinya selama satu bulan.

Jawaban Allaah swt kemudian turun melalui surat Al-Ahzab ayat 28-29.

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut’ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allaah swt dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allaah swt menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.”

Yang menarik kemudian adalah, setelah ayat tersebut turun, Rasulullaah saw bersabda,

“Sesungguhnya Allaah swt tidak mengutusku sebagai seorang yang menyusahkan ataupun menjerumuskan orang lain pada kesusahan. Allaah swt mengutusku sebagai pemberi pelajaran dan kemudahan.”

Somehow, menjadi istri seorang rasul tidaklah mudah. Tapi kesulitan yang ada bukanlah dimaksudkan untuk menyulitkan istri-istrinya. Kesulitan tersebut hadir justru sebagai pelajaran dan kemudahan untuk mereka di akhirat kelak. MaaSyaaAllaah.

Pun, menjadi istri, terlebih istri orang-orang yang berpotensi “menjadi orang besar” tidaklah mudah. Tapi kesulitan itulah yang kemudian menempa diri untuk bisa menghadapi hari-hari ke depan yang tidak ringan. Jika hari ini sudah jutaan keluh terucap, bagaimana nasib ummat kelak? Karena sungguh, kondisi ummat di kemudian hari ditentukan oleh seberapa banyak kita melatih diri dan mengambil hikmah hari ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *