Don’t Take Homework

Saya adalah orang yang tak pernah menyukai PR. Entah ada hubungannya atau tidak, bisa jadi ini karena saya hampir selalu tinggal di asrama saat sekolah. Di pesantren atau asrama, kami tidak mengenal PR. Saya sekolah SD di pesantren, SMP di pesantren, SMA juga berasrama. Begitupun ketika kuliah, saya di asrama. Bedanya, ketika kuliah saya yang mengelola asrama.

Sependek pemikiran saya yang sederhana, PR diberikan oleh guru ke siswa karena suatu alasan. Alasan paling simpel adalah supaya memastikan siswa belajar ketika malam hari di rumah. Maka, wajar jika di sekolah yang tidak berasrama, biasanya guru sering memberi PR agar siswa tidak keluyuran atau bermain larut malam. Sementara, ketika di pesantren, tidak perlu diberi PR pun, siswa akan tetap belajar karena tidak bisa keluyuran keluar asrama. Satu-satunya kesibukan yang bisa dilakukan ketika malam hari adalah belajar atau mengaji. Maka, saya sebagai orang yang selalu belajar di lingkungan asrama, wajar jika tak pernah menyukai PR.

Berbeda lagi kondisinya jika PR diberikan oleh atasan atau rekan kerja. Hal ini dilakukan biasanya untuk mengejar tenggat waktu tertentu atau karena beban kerja yang semakin berlebih. Penyebabnya ada dua, bisa karena memang ada target baru. Atau yang kedua, bisa jadi lebih sering, karena manajemen waktu kita di tempat kerja yang kurang baik. Akibatnya, beban pekerjaan yang harusnya selesai di tempat kerja, kita bawa pulang ke rumah karena tak ada waktu lagi.

*****

Ketika koass, PR adalah sesuatu yang hampir mustahil untuk dihindari. Seringkali ketika diskusi, lalu deadlock pada satu permasalahan atau kasus, kami otomatis mendapat PR untuk mempelajarinya lagi. Atau misalnya ketika sedang pelayanan, tiba-tiba konsulen menanyakan sesuatu yang kami tak bisa menjawab, otomatis kami mendapat PR lagi. Atau barangkali untuk kaum koass yang sering disebut “pato kanan”, jika mereka bertemu kasus menarik, maka itu berarti PR untuk dipelajari malam harinya.

Saya yang tidak pernah menyukai PR sempat kelabakan dengan kebiasaan baru tersebut. Beberapa kali saya pulang ke rumah, lalu ujung-ujungnya hanya di depan laptop atau sibuk scrolling smartphone mencari bahan bacaan. Mulai dari yang sumbernya paling valid sampai yang hanya sekadar blog yang berbau kesehatan. Ini paling sering dilakukan jika saya harus mengerjakan media presentasi kasus untuk refleksi atau tutorial.

Lama-lama, saya merasa bersalah. Saya berpikir sederhana, istri saya, keluarga saya, sudah menunggu lebih dari delapan jam setiap harinya, kadang enam hari dalam seminggu, untuk bertemu dengan saya. Mereka menantikan kehadiran saya sepenuhnya untuk mereka. Namun, karena saya sibuk dengan PR tersebut, harapan mereka seolah sia-sia. Ini pernah ditulis oleh Dek Zahra di sini.

Maka, saya pun membuat kesepakatan baru. Saya tidak akan mengerjakan PR di rumah sebisa mungkin. Saya hanya akan mengerjakan PR di rumah jika dan hanya jika itu sebuah hal yang darurat dan waktu mengerjakannya adalah saat masing-masing anggota keluarga memiliki kegiatan. Jadilah, saya mencuri-curi waktu seharian ketika pelayanan di Rumah Sakit untuk mengerjakan PR. Pun kalau saya harus membawanya pulang, saya hanya mengerjakan jika Dek Zahra sedang mengaji, sedang membereskan rumah, atau kegiatan rumah lainnya. Selebihnya, waktu di rumah adalah “our beloved fam-time“. Tak ada yang boleh mengganggu waktu tersebut kecuali kondisi darurat.

Mau tidak mau, saya pun harus bersiap dengan semua konsekuensinya. Pernah suatu ketika, saya belum selesai mengerjakan PR yang diberikan oleh konsulen. Meskipun belum sampai tenggat waktu, tiba-tiba beliau menagih dadakan.

“Gimana PR-nya? Yang kemarin saya suruh cari itu gimana?”

Saya dan beberapa teman yang belum mengerjakan pun hanya terdiam dan meminta maaf kalau PR kami belum selesai. Sayangnya, konsulen kami yang ini adalah orang yang mudah naik emosinya. Jadilah, kami semua dimarahi. Sorenya, sebelum pulang, saya datangi kantor beliau untuk memohon maaf lagi. Saya sampaikan permohonan maaf dan saya berikan alasan bahwa saya sudah memiliki keluarga dan ada tanggungan bekerja mengajar di rumah tahfidz kalau malam. Jadi, waktu saya mengerjakan PR hanya di rumah sakit atau mencuri-curi waktu ketika malam hari.

Saya sudah siap dengan respon terburuk yang akan saya dapatkan. Namun,  ternyata beliau merespon sebaliknya. Beliau merespon baik permohonan maaf dan alasan yang saya berikan. Bahkan, beliau salut dengan saya yang berani mengambil keputusan dan bersiap dengan semua konsekuensinya. Pada akhirnya, kami malah berbincang banyak soal keluarga, urusan laki-laki, dan obrolan tentang kehidupan lainnya.

Pernah juga, saya bergegas menyelesaikan PR pagi-pagi setelah follow up pasien sembari menunggu konsulen visite. Kebetulan, saya maju kasus hari itu setelah konsulen visite. Jadilah, saya mengerjakan secepat mungkin dengan modal aplikasi UpToDate dan Medscape. Saya juga pernah sengaja berpamitan kepada Dek Zahra untuk berangkat pagi-pagi, demi bisa mengerjakan PR dan tidak menyalahi kesepakatan yang sudah saya buat sebelumnya. Dan masih banyak hal yang membuat saya harus belajar beradaptasi dan berimprovisasi demi memaksimalkan waktu di rumah untuk keluarga.

*****

Sekilas, mungkin itu adalah hal yang sepele sekali. Tapi bagi saya, adalah sebuah kegagalan jika saya tak mampu memenuhinya. Saya tak habis pikir, jika saat koass saja saya tak mampu meluangkan waktu untuk keluarga, lalu bagaimana bisa saya meluangkan waktu saat menjadi dokter? Apalagi kelak menjadi residen? Atau nanti ketika menjadi konsulen? Yang saya tahu, semakin tinggi ilmu dan kompetensi seseorang di dunia kesehatan, ritmenya akan semakin cepat dan aktivitasnya semakin padat. Hal ini karena kemampuannya semakin dibutuhkan banyak orang dan tanggung jawabnya semakin luas.

Maka, ini menjadi sebuah pembelajaran penting bagi saya untuk bisa fokus dalam mengatur waktu. Dalam artian, saya menggunakan waktu sesuai dengan tujuannya. Saat di rumah sakit, maka saya menjadi koass. Saat di rumah saya menjadi bagian dari sebuah keluarga. Saat di rumah tahfidz, saya menjadi pengajar tahfidz. Begitu pula saat di masyarakat, saya menjadi bagian mereka. Saya tak bisa mencampur-adukkan atau menumpang-tindih satu dengan lainnya karena masing-masing memiliki tanggung jawab dan risiko yang berbeda.

Satu prinsip penting yang saya gunakan untuk bisa bertahan dalam kondisi seperti ini adalah, tidak menunda sesuatu. Kalau bisa dikerjakan sekarang, mengapa harus menunggu nanti. PR bisa diselesaikan ketika di rumah sakit, selesaikan. Beres-beres rumah bisa dikerjakan sekarang, kerjakan. Setoran santri bisa dipercepat, percepat. Ini karena saya merasakan betul, bahwa waktu saya untuk suatu tujuan yang saya kehendaki sangat terbatas. Waktu koass hanya delapan jam, sisanya harus dibagi untuk keluarga, rumah tahfidz, dan masyarakat. Maka, yang sedikit itu harus dimaksimalkan agar bisa berdampak. Tak ada kata menunda untuk sesuatu yang baik.

Rasuulullaah saw sudah mengingatkan kita sejak dahulu,

Manfaatkanlah¬†lima perkara sebelum datang lima perkara. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu. Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu. Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu. Waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu. Dan hidupmu sebelum datang matimu.” (H.R. Al-Hakim)

Yaa Allaah, perbaikilah urusan agama kami, yang merupakan penjaga keselamatan urusan kami. Dan perbaikilah untukku urusan dunia kami, yang di dalamnya terdapat mata pencaharian kami. Dan perbaikilah untuk kami urusan akhirat kami, yang akan menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah hidup ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan, dan jadikanlah kematian sebagai pemutus dari setiap keburukan.

One thought to “Don’t Take Homework”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *