Monitoring Diri Dengan Menulis

Dulu, saya tak pandai menulis. Bahkan sampai sekarang, saya masih tak cukup pandai menulis. Itulah kenapa saya selalu bingung ketika ditanya bagaimana kaidah dan tatacara menulis. Saya hanya mengalirkan apa yang saya pikirkan ke jari jemari sehingga menjadi tulisan.

Awalnya, saya menulis hanya agar memiliki profil media sosial yang baik. Waktu itu, kebetulan saya diterima sebagai penerima beasiswa Baktinusa. Oleh Mas Budi, salah satu mentor saya di sana, semua penerima beasiswa diminta untuk membuat jejak digital. Kita diminta untuk membuat personal branding melalui media sosial. Simpelnya, ini ibarat curriculum vitae informal yang bisa diakses oleh siapapun untuk mencari track record kita.

Jadilah sejak itu, saya mulai rajin menulis di media sosial. Awalnya saya menulis satu paragraf setiap hari. Apapun gagasan baik yang terlintas, saya akan tuliskan. Semakin hari, tulisan saya semakin panjang, dari satu menjadi tiga hingga lima paragraf. Kebiasaan saya membaca buku sangat menunjang isi dari tulisan yang saya buat. Dua kebiasaan tersebut, membaca dan menulis, pun akhirnya bisa saya lakukan beriringan.

Kebiasaan membaca dan menulis tersebut berlanjut hingga setelah menikah. Bedanya adalah, jika dulu menulis gagasan yang saya dapatkan atau saya baca saja, setelah menikah saya memaksa diri untuk menulis rutin khusus untuk keluarga kami sendiri. Tulisan tersebut berisi pembelajaran serta hikmah yang kami dapatkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai sebuah keluarga. Biasanya, kami berangkat dari sebuah peristiwa, lalu direfleksikan dengan suatu ayat atau hadits, dan voila! Jadilah sebuah tulisan pengingat untuk saya.

Supaya mudah diakses dan diingat, saya dan Dek Zahra pun membuat website khusus yaitu fahmizahranotes.com. Kami juga berharap tulisan tersebut bisa menjadi cara anak-anak kami mengenal orangtuanya kelak. Pelan tapi pasti, tulisan tersebut tersebar hingga menemukan pembacanya. Kami bersyukur sekali saat ada orang yang merasa mendapatkan manfaat dan motivasi dari tulisan kami. Bahkan, pernah kami ditegur karena tidak segera update tulisan terbaru.

Hingga akhirnya, saya baru sadar. Ada satu pelajaran penting dari proses menulis yang ada dalam keluarga kami. Kebiasaan kami menulis yang berdasarkan pembelajaran dan hikmah yang kami dapatkan tersebut, menjadi parameter kontrol diri kami. Ada hubungan yang kuat, saat kami jarang menulis, maka amalan yaumiyah kami pasti kendor. Logisnya, saat kami jarang menulis, artinya kami tak memiliki ide atau tak mendapat hikmah untuk dicatat. Tandanya, kami tak lagi peka dalam menerima hikmah dari Allaah swt. Kondisi tersebut merupakan konsekuensi wajar saat amalan yaumiyah kami tak lagi istiqomah.

Maka, kami pun membuat target amalan yaumiyah baru. Demi meningkatkan kepekaan kami terhadap hikmah dan pelajaran dari Allaah swt, kami memaksimalkan kembali amalan yaumiyah lagi. Kami juga mengikuti gerakan yang pernah dikampanyekan Mas Syukri yaitu, Gerakan Baca 25 Halaman per hari, agar tulisan kami lebih berbobot. Kami juga menargetkan minimal update dua tulisan per bulan agar website yang kami kelola tidak terbengkalai.

Ini semua kami lakukan dalam rangka ber-istibaaqul khairaat supaya benar-benar bisa melahirkan keluarga basis peradaban. Kami ingin masuk ke dalam golongan orang-orang yang dimudahkan menerima hidayah dan taufik dari Allaah swt. Bukankah Allaah swt sudah berfirman yang diulang dengan ayat yang semakna berikut ini,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab.” (Surat Ali Imran ayat 190)

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (Ulil Albab).” (Surat Az Zumar ayat 21)

Kalau kita lihat ayat di atas, ciri-ciri ulil albab yang paling utama adalah kepekaan mereka dalam menerima pembelajaran dan hikmah dari Allaah swt. Maka, kalau kami tak rajin menulis, berarti kepekaan kami berkurang. Artinya, kami semakin jauh dari sosok ulil albab tersebut. Jika itu terjadi, maka cita-cita kami melahirkan keluarga basis peradaban hanyalah angan-angan kosong. Na’uudzubillaah.

Rabbanaa hablanaa hukman, wa alhiqnaa bish shaalihiin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *