Mengembalikan Fungsi Masjid

Salah satu hal yang saya syukuri dari dulu adalah, saya diberikan kesempatan untuk selalu dekat dengan masjid. Saya dilahirkan di Bojonegoro bagian kota, di rumah kakek-nenek. Rumah mereka terletak kurang lebih 75 meter dari masjid. Berikutnya, saya dibesarkan di Ngruki bersama Bapak-Ibu. Rumah kami berjarak 100 meter dari masjid dengan lingkungan yang dekat dengan pondok pesantren.

Ketika masuk sekolah dasar, rumah kami pindah ke desa Daleman. Jarak dengan masjid kurang lebih 100 meter. Hanya saja, untuk menuju ke masjid, harus melewati kuburan. Dan lingkungan masyarakat di sana saat itu masih abangan. Kemudian saya masuk pondok pesantren saat SD dan SMP, lalu lanjut ketika SMA di asrama. Sudah jelas jika di sana pasti dekat dengan masjid.

Awal masuk kuliah, saya tinggal bersama teman-teman dalam sebuah kontrakan. Kontrakan kami ini juga dekat dengan masjid, kurang lebih 150 meter. Tantangannya, untuk mencapai masjid, kami harus menyeberangi jembatan bambu sepanjang 7 meter yang melintang di tengah derasnya arus sungai. Namun, ujian itu hanya sementara. Allaah swt memindahkan saya untuk tinggal di lingkungan masjid, tepatnya di Rumah Tahfidz Al-Falah. Tempat tinggal saya berada dalam satu bangunan berjejer dengan masjid. Tentu akses ke masjid begitu mudah.

Saat koass, beberapa kali saya mendapat jatah tugas ke luar kota. Ketika mencari kos, pertimbangan pertama adalah, berapa jarak kos tersebut dari masjid. Alhamdulillaah, Allaah swt mudahkan saya untuk menemukan tempatnya. Praktis, seumur-umur tempat tinggal saya tak pernah jauh dari masjid. Kondisi ini tentu meninggalkan bekas dalam diri saya.

*****

Ya, tanpa sadar, masjid telah menjadi tempat terdekat dalam diri saya. Di saat kebanyakan teman-teman saya lebih suka kongkow dan nongkrong di cafe atau taman, entah mengapa saya lebih nyaman di masjid. Ketika kebanyakan orang lebih nyaman belajar di perpustakaan, saya lebih suka belajar di masjid. Bahkan, pernah suatu ketika, saya berdebat dan akhirnya memboikot karena diajak rapat sebuah lembaga dakwah, namun tempatnya di candi. Tentu ini sebuah hal yang sangat kontradiktif, meski alasannya mencari suasana baru karena bosan rapat di masjid.

Ketika sedang bepergian bersama Dek Zahra atau dengan keluarga, kami sering berhenti di masjid sekadar untuk beristirahat sejenak. Kadang, untuk mencari kamar mandi, kami lebih memilih masjid dibanding berhenti di pom bensin. Ketika kami sampai di tempat baru, yang kami cari pertama adalah dimana letak masjidnya.

Karena bagi saya, tidak ada tempat yang paling nyaman selain dari masjid. Masjid bukan hanya sekedar tempat untuk beribadah mahdhoh saja. Masjid bukan hanya terbuka saat waktu sholat saja. Masjid adalah tempat untuk diskusi, tempat belajar, tempat istirahat, dan pusat kegiatan lainnya.

Maka, saya selalu sedih saat melihat pengunjung masjid adalah orang-orang yang sudah berumur. Sepanjang pengalaman saya di masjid, paling jauh presentase kehadiran pemuda dibanding orangtua adalah 60:40. Itupun sangat jarang, rata-rata hanya sepertiganya saja. Saya juga sedih jika melihat masjid yang tidak ada suara anak-anak di sana. Entah karena dilarang orangtua atau karena memang tidak berangkat. Saya sedih pula menjumpai masjid tampak sepi pada siang hari dan gelap saat malam hari. Seolah bangunannya teronggok tak maksimal digunakan.

Dan yang paling membuat saya sedih adalah, ketika sebuah masjid diklaim milik ormas atau lembaga tertentu, bahkan diberikan simbol-simbol khas. Lalu, berujung pada perseteruan, berebut jamaah, dan menonjolkan eksistensi ormas atau lembaga tersebut. Hal ini sudah sejak dulu disindir oleh Allaah swt dalam surat Al-Mu’minuun ayat 52-53,

“Sesungguhnya, (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu. Dan Aku adalah Rabb-mu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah-belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).”

Padahal di zaman kejayaan Islam dulu, masjid menjadi pusat kajian-kajian dan diskusi ilmu. Betapa banyak masyayikh yang berangkat dini hari lalu menghabiskan malamnya di masjid. Kemudian seba’da shubuh mereka membuat majelis-majelis ilmu yang dikelilingi oleh para jamaah. Para muridnya tinggal memilih kajian syeikh siapa yang akan diikuti. Dan mereka yang hadir, sudah tentu bukan dominasi orang-orang yang sudah berumur. Anak-anak muda berlomba mengisi shaf-shaf terdepan dalam majelis ilmu tersebut. Maka, sepanjang hari majelis tersebut akan berlangsung di masjid.

Sungguh, sebuah pemandangan yang luar biasa jika dibayangkan. Bayangkan, sepanjang hari masjid akan ramai oleh majelis ilmu. Sepanjang hari orang-orang duduk berdiskusi dan belajar ilmu. Sepanjang hari itu malaikat menaungi jamaah dalam halaqah tersebut. Sepanjang hari itu pula Allaah swt menyebut nama-nama mereka yang hadir dan menyuruh makhluk hidup lainnya untuk mendoakan mereka. Sehingga, sepanjang mereka duduk dalam majelis itu, dosa mereka diampuni oleh Allaah swt.

Dan kemunduran umat ini pun bermula saat masjid menjadi tempat pertikaian dan perdebatan para pengikut antar ulama madzhab. Harusnya masjid menjadi tempat yang produktif dengan pengembangan ilmu menjadi kontraproduktif. Harusnya sepanjang tinggal di masjid, digugurkan dosanya, malah menjadi panen dosa. Na’uudzubillaah.

*****

Selama masjid belum dipenuhi dan didominasi anak-anak muda, maka jangan harap kejayaan Islam akan hadir kembali. Paling banter, umat Islam akan dominan dan menguasai dunia, namun ruhiyah dan kekuatan spiritualnya masih lemah. Sehingga yang tampak adalah Islam simbolik. Islam yang dilambangkan dengan pakaian, gaya arsitektur, ritual, dan lainnya. Sementara, kesadaran dan keimanannya begitu lemah dan mudah goyah oleh sebab aqidah yang tidak kokoh.

Selama masjid masih menjadi tempat perebutan eksistensi ormas atau lembaga, maka mimpi mengembalikan kejayaan peradaban Islam adalah sebuah angan-angan kosong. Alih-alih menjadi pusat perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, masjid malah menjadi tempat yang paling kontraproduktif. Masjid hanya akan semakin megah bangunannya saja tanpa ada peningkatan kualitas dan kuantitas jamaahnya.

Padahal, sejak awal masjid adalah tempat terbaik untuk menjaga kualitas umat Islam sekaligus menunjukkan kemuliaannya. Kebiasaan Rasuulullaah saw dan para shahabat saat waktu luang adalah nongkrong dan diskusi di masjid. Kata Allaah swt dalam surat At-Taubah ayat 18,

“Hanyalah orang yang memakmurkan masjid-masjid Allaah swt ialah orang-orang yang beriman kepada Allaah swt dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allaah swt, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allaah swt).”

Yuk, geser tempat main kita ke masjid. Pindahkan majelis ngobrol kita ke masjid, inSyaaAllaah semakin berfaedah obrolannya. Geser tempat rapat kita ke masjid, inSyaaAllaah tambah berkah. Rajin-rajinlah hadir dalam kajian-kajian di masjid, inSyaaAllaah akan men-charge keimanan kita. Semakin umat ini dekat dengan masjid, inSyaaAllaah semakin kuat iman para pemeluknya. Semakin baik kondisi keimanan pemeluknya, semakin berkualitas umat secara keseluruhan. Dan itulah awal kebangkitan umat ini.

Maka, mari kembalikan masjid berfungsi maksimal. Sesuai dengan ayat di atas,

Kalau bukan kita yang memakmurkan masjid, lalu siapa lagi?

Yaa Allaah, satukanlah hati umat ini dalam keimanan kepada-Mu, kecintaan kepada-Mu, dan harapan akan keridhaan-Mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *