Ibu Seperti Apakah Aku?

Judul : Battle Hymn of the Tiger Mother
Penulis : Amy Chua
Penerbit : Penguin Book
Tahun Terbit : 2011
Jumlah Halaman : 269 Halaman

*****

Hari-hari ini, kalau saja kuasa Allaah swt masih sama seperti 8 bulan lalu, barangkali akan menjadi hari-hari yang paling kami tunggu-tunggu. Betapa tidak, hari-hari ini adalah hari perkiraan lahir calon bayi pertama kami.

Tapi kemudian, Allaah swt kuasakan pula untuk menggugurkannya jauh sebelum hari ini datang. Saya tidak bisa berbohong bahwa kala itu saya sedih. Tapi hikmah yang kemudian hadir pada akhirnya menghapus segala kesedihan itu, berganti dengan syukur yang tiada terkira. Allaah swt sungguh memberikan ganti yang jauh lebih baik.

Di kehamilan kedua ini, Alhamdulillaah kami jadi lebih siap. Hamil pertama dulu rasanya begitu berat. Bukan berat secara fisik, tapi lebih karena kurangnya dukungan dari orang-orang sekitar. Dulu saya masih mencuci baju dan mengangkat cucian ke lantai dua sendirian, mengurus pindah KK sendiri, kemana-mana naik motor sendiri, dan bahkan saya takut untuk sekedar bilang saya mual atau sedang mengidam makanan tertentu. Dulu, as a tiger husband, Mas Fahmi menanamkan dengan begitu kuat bahwa tidak semestinya hamil menjadikan seseorang menjadi lemah dan rewel.

Bagaimanapun, hormon tetaplah hormon dan hamil tetaplah hamil. Saya tidak sekuat itu melawan segala kelemahan yang tiba-tiba saja datang tanpa diminta. Keguguran itu seolah menjadi pengingat kami untuk lebih menjaga dan perhatian terhadap apa yang Allaah amanahkan.

Meski masih menjadi a tiger husband, di kehamilan kedua ini Mas Fahmi dan keluarga besar Alhamdulillaah menjadi lebih suportif. Sedikit saja lelah saya disuruh istirahat, kalau ada pekerjaan saya tidak dipaksa membantu, tidur awal dimaklumi, ngidam dituruti, dan bentuk perhatian lain menjadi begitu berarti kali ini. Alhamdulillaah, rasanya senang sekali.

Ditundanya memiliki anak pada akhirnya membuat saya lebih punya banyak waktu untuk bersiap. Terlebih, dalam menjawab pertanyaan,

“Akan menjadi ibu yang seperti apakah aku?”

*****
Battle Hymn of the Tiger Mother adalah buku yang sudah sejak lama ingin saya baca dan saya pikir akan membantu saya menjawab pertanyaan di atas. Buku ini merupakan memoar yang ditulis oleh seorang ibu dengan dua anak. Amy Chua, nama ibu tersebut, menceritakan dengan begitu jujur bagaimana ia menerapkan pendidikan ala China pada anak-anaknya hingga menjadi anak-anak yang selalu menduduki peringkat teratas di sekolahnya, berhasil bermain musik di berbagai orkestra dan konser bergengsi di usia muda, sekaligus memiliki work ethics dan attitude yang luar biasa baik.

Hasil yang luas biasa tersebut diraih dengan perjuangan yang luar biasa pula. Meski Amy adalah seorang profesor di Yale Law School, baginya, dalam pendidikan China, keluarga tetaplah yang utama. Seperti keluarga China kebanyakan, Amy mencanangkan target yang tinggi untuk anak-anaknya. Sophia dan Lulu, nama kedua putri Amy, dituntut untuk selalu mendapatkan nilai A di sekolahnya, menduduki peringkat tertinggi di setiap pelajaran, tidak boleh menonton TV, bermain komputer, dan janjian atau menginap di rumah teman, berlatih piano atau biola minimal dua jam sehari dan sederet tuntutan lainnya. Tuntutan tersebut kadang terasa sedikit keterlaluan ketika liburan keluarga ke luar negeri, Amy tetap mencari cara supaya Sophia dapat berlatih piano. Pernah pula Amy meminta anak-anaknya untuk merevisi kartu ucapan ulang tahun untuknya hanya karena menurutnya jelek.

Dalam memenuhi misinya, tidak jarang Amy beradu mulut dengan anak-anaknya. Bahkan tidak jarang pula Amy memarahi, memaksa, menghukum dan mengancam Sophia dan Lulu kalau mereka tidak menurut. Bagi Amy, anak-anak belumlah tahu apa yang terbaik untuk mereka kecuali dipilihkan dan dipaksa untuk melakukannya.

Disinilah kontroversi dengan cepat muncul. Hidup di Amerika yang menjunjung tinggi kebebasan, metode pendidikan Amy banyak dicibir karena dianggap mengebiri hak anak. Segera setelah bukunya terbit, Amy menerima hujatan hampir dari seluruh penjuru dunia barat. Meski, tidak sedikit pula yang mengapresiasi dan mencontoh apa yang Amy lakukan.

Sungguh, apa yang Amy lakukan adalah atas dasar rasa cinta. Ia mencintai keluarganya lebih dari apapun, dan bentuk rasa cinta itu adalah dengan mempersiapkan masa depan terbaik untuk anak-anaknya. Terlepas dari konflik dan kontroversi yang muncul, saya tidak bisa tidak sepakat dengan stetament Amy,

“I just want to raise my child so that they live life to the fullest.”

Meski yang Amy lakukan terasa ekstrim dan terkadang keterlaluan, sesungguhnya tidak lain ia lakukan supaya anak-anaknya memaksimalkan potensi yang mereka miliki dengan sebaik-baiknya dan tidak menyia-nyiakan sedetik pun waktu untuk hal yang sia-sia.

*****

Membaca memoar ini pula, saya seperti dipertontonkan secara langsung bagaimana dulu Bapak dan Ibu mendidik Mas Fahmi. Disiplin, tegas, terkadang keras, high achievement, dan zero tolerance terhadap apa-apa yang berkenaan dengan syariat. Tidak heran anak-anaknya tumbuh sesuai dengan cara mendidiknya.

Pun dalam mendidik saya, tidak jarang pula Mas Fahmi menerapkan cara yang sama. He’s a real tiger husband. Meski terkadang menyesakkan, tapi hasilnya betul-betul nyata. Banyak hal yang berubah menjadi jauh lebih baik. Bahkan saya pikir, teman-teman saya pasti tidak menyangka kalau saya berubah begitu banyak.

Lalu, apakah saya akan menerapkan hal yang sama dan menjadi tiger mother? Hmmm, mungkin ya, mungkin tidak. Semakin saya belajar, sungguh saya merasa semakin tidak tahu apa-apa. Semakin saya merancang kurikulum untuk anak-anak saya kelak, semakin saya butuh lebih banyak referensi.

Terlepas dari itu, saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca bagi para calon ibu. Meski, jangan pernah menelannya atau bahkan menolaknya mentah-mentah. Selalu baca dulu referensi islami sebelum referensi lainnya, karena dengan begitu sesekuler apapun referensi yang kita baca selanjutnya tetap dapat menjadi manfaat. Sedangkan tanpa landasan referensi Islami sebelumnya, referensi apapun akan sia-sia dan bahkan menjadi bencana.

Selamat membaca 🙂