Harta Terbaik

Satu hal tidak menyenangkan ketika Mas Fahmi harus koas di luar kota selain kami berjauhan adalah, Mas Fahmi jadi tidak bisa mengajar. Dan karena Mas Fahmi tidak bisa mengajar, maka bisa dipastikan tidak ada pemasukan keuangan yang pasti pada periode tersebut.

Sesungguhnya hal ini tidak menjadi masalah, karenapun kami tetap bisa makan. Saya bisa menumpang di rumah umi yang masih satu kota, sedangkan Mas Fahmi dapat bertahan di luar kota dengan bekal lauk yang awet dan sisa uang yang ada. Menyedihkan? Tidak. Karena toh kami tidak pernah kelaparan.

Yang menyedihkan sebenarnya bukan masalah perut. Tapi masalah tidak terpenuhinya alokasi lain yang jauh lebih penting. Alokasi tersebut adalah sedekah.

Kami yakin bahwa yang termasuk harta hanya ada tiga: yang kami makan dan akan sirna, yang kami kenakan dan akan usang, dan yang kami sedekahkan. Kami jelas tidak kekurangan dua kategori harta yang pertama. Tapi dalam kondisi seperti ini, kami kehilangan harta yang lebih berharga dari harta apapun.

Kondisi ini kadang membuat kita maklum. “Ah, nggak papa ah. Toh kita juga beneran lagi nggak ada uang”. Kata-kata itu boleh jadi ringan di bibir, tapi kami sama-sama tahu, bahwa hati kami menangis seraya berdoa semoga Allaah segera lapangkan kondisi ini. Sedih rasanya kala menyadari kami kehilangan salah satu bekal terbaik ketika pulang ke kampung akhirat kelak.

*****

Satu alasan lain kenapa kondisi ini membuat kami sedih adalah, kami jadi takut kalau dalam sedikit harta yang kami miliki, ada hak orang lain yang berat untuk kami keluarkan. Seperti yang pernah tertulis di sini, rezeki setiap orang sudah ditentukan. Bisa jadi, dalam harta kita, rezeki kita yang sebenarnya tidaklah sebesar harta yang kita miliki. Nah, karena bukan milik kita dan tidak lantas kita keluarkan, maka Allaah swt akan ambil harta tersebut dengan cara yang tidak menyenangkan.

Harta yang sedikit adalah ujian. Ujian sampai di mana keimanan dan ketaatan kita kepada Allaah swt. Jika harta yang sedikit itu membuat kita merasa takut dan bahkan membuat kita mendurhakai perintah-Nya, maka di ujian itulah kita gagal. Apalagi jika sampai ujian ini membuat kita memakan hak orang lain.

Maka, meski kami sangat berharap dan mengulang-ulang doa supaya Allaah swt melapangkan rezeki kami, jauh lebih penting dari itu adalah berharap supaya Allaah bersihkan harta kami dari yang haram dan apa-apa yang bukan menjadi hak kami. Sungguh, sedikitnya harta itu jauh lebih berkah dan menenangkan daripada harta banyak yang tercampur dengan harta haram dan hak orang lain.

*****

Doa-doa itu kemudian menemukan jawabnya. Suatu sore, kami kedatangan tamu. Seorang musafir yang baru saja kecopetan. Semua hartanya hilang kecuali baju yang melekat di badan dan smartphone beserta chargernya. Ia tidak punya uang untuk pulang ke Jawa Timur, dan entah bagaimana terdampar di rumah kami di Bantul.

Mulanya, sang musafir ini ingin menggadaikan smartphonenya demi mendapatkan uang untuk pulang. Tapi ketika Mas Fahmi datang dan tahu kabar ini, ia bertitah, “Udah, kita tanggung semua aja keperluan dia. HPnya biar dibawa aja”. Hmmm, saya cuma bisa mengangguk lemah karena sadar nothing left to share.

Saat itu juga kami ke ATM dan mengambil uang terakhir yang kami miliki. Beruntung masih ada sedikit yang tersisa, Alhamdulillaah. Segera setelah serah-terima, sang musafir pulang dengan wajah sumringahnya. Dan kami meneruskan hidup dengan sesederhana mungkin semampu kami.

*****

“O iya, aku mau bilang”, ujar saya di motor pasca kejadian itu.

“Kenapa?”, tanya Mas Fahmi.

“Untung ya waktu itu Allaah swt kirim musafir itu dateng ke rumah.”

“Hm?”

“Udah lama banget kita nggak sedekah entah karena nggak ada atau takut nggak ada. Somehow, aku pikir suatu saat Allaah swt akan tarik harta kita dengan cara yang Ia suka”.

“Terus?”

“Tapi kemudian cara itu bukan musibah, bukan kecopetan, bukan penyakit, dan cara nggak enak lain. Cara itu adalah cara terbaik yang bahkan sebelumnya nggak pernah kita bayangkan. Bayangin kalo kita dalam posisi dia, gimana coba rasanya terbantu di saat yang benar-benar menghimpit?”

“Emang kalo dipikir rasanya konyol ya. Bisa pas banget momennya. Indah banget cara Allaah swt jawab doa-doa kita”.

Yah, pada akhirnya kami belajar. Bahwa keadaan tidak semestinya menghalangi kami untuk berbuat. Bagaimanapun caranya kami menahan-nahan harta karena dalih sedikit, nyatanya Allaah swt kirimkan seorang untuk menjemputnya. Bagaimanapun sempitnya kondisi keuangan, tapi Allaah swt tidak pernah ingkar untuk mencukupkannya.

Dalam sisa perjalanan itu, menggema kemudian sebuah ayat yang terasa amat mengena,

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yag menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun di waktu sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baikā€¦ Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah sebaik-baik pahala orang yang beramal.” – Ali Imran : 133-136

Ya Allaah, masukkan kami ke dalam golongan tersebut :”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *