Nilai Kemanfaatan

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(H.R. Ahmad)

Dulu, ketika mendengar hadits tersebut pertama kali saat SD, saya dengan polosnya langsung termotivasi untuk menjadi yang terbaik. Saya membantu teman-teman saya, membantu mengerjakan tugas, membersihkan kamar, mendahulukan antrian makan, dan lainnya. Saya begitu terobsesi ingin menjadi yang terbaik di antara para santri. Seiring berjalannya waktu, saya sadar tidak bisa membantu semua orang. Pun ketika membantu, kita tidak bisa sembarangan, harus berdasarkan ilmu agar tidak menimbulkan mudharat.

Ketika beranjak dewasa, saya baru menyadari konsep yang menarik tentang kemanfaatan dalam paradigma Islam. Berangkat dari hadits yang saya sebutkan di atas, saya belajar bahwa segala sumber kebaikan seseorang dalam Islam adalah soal manfaat yang dia berikan pada orang-orang di sekitarnya. Misalnya, Rasuulullaah saw disebut sebagai manusia terbaik karena warisannya yang sampai hari ini masih memberi manfaat untuk manusia. Petuah dan pengajaran beliau masih menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam.

Sahabat Utsman ibn ‘Affan dan Abdurrahman ibn ‘Auf dikenal sebagai orang yang kaya karena banyaknya zakat, sedekah, dan infaq yang mereka lakukan. Islam tidak mengenal status orang terkaya di dunia. Islam tidak butuh berapa banyak penghasilan yang kita dapatkan. Islam juga tidak mementingkan berapa total aset yang kita miliki. Tapi, Islam mengajarkan bahwa orang yang paling kaya adalah mereka yang hartanya menjadi sarana kemanfaatan bagi orang sekitarnya. Orang yang kaya adalah mereka yang hartanya diatur sedemikian rupa agar memberikan manfaat dan dampak yang besar untuk kemaslahatan umat.

Sahabat ‘Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Tsabit, dan Mu’adz ibn Jabal dipercaya sebagai kelompok sahabat yang paling cerdas karena ilmu yang mereka pelajari mampu menyelesaikan problematika yang ada di masyarakat. Mulai dari urusan aqidah, syariah, hingga muamalah. Begitu pula para sahabat lainnya dikenal dengan keunggulan masing-masing karena sumbangsih dan manfaat yang mereka berikan untuk umat.

*****

Konsep penilaian berdasarkan manfaat ini penting untuk kami pelajari dan latih sejak awal berkeluarga. Kelak, konsep ini harus menjadi salah satu nilai penting yang kami tanamkan dan ajarkan dalam keluarga kami. Kami tidak ingin anak-anak kami kelak takut untuk mengimplementasikan ilmunya untuk menyelesaikan real problem di masyarakat hanya karena nilai di sekolahnya tidak cukup baik. Kami tidak ingin keluarga kami takut untuk zakat dan sedekah hanya karena kondisi finansial yang serba sulit. Kami tidak ingin anak-anak kami terobsesi memiliki banyak hal namun masih banyak tetangga yang kekurangan.

Karena sungguh Allaah swt tak pernah menilai fisik kita, harta kita, maupun ibadah kita. Allaah swt menilai niat dan usaha yang kita lakukan dengan apa yang Dia karuniakan kepada kita. Selama niat dan usaha yang dilakukan sesuai dengan ketentuan-Nya, maka inSyaaAllaah dampaknya akan muncul dengan izin-Nya.

Orang yang mencari ilmu untuk mendapatkan pengakuan, maka ia hanya akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Sementara, mereka yang berniat belajar untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, maka ia akan mendapatkan manfaat dari ilmunya, ditambah bonus pengakuan orang-orang di sekitarnya atas manfaat yang dia berikan. Belum lagi pahala jariyah di sisi Allaah swt yang tersimpan untuk bekal hari akhir kelak.

Begitu pula orang yang bekerja untuk menumpuk kekayaan, maka ia akan diberikan sesuai dengan yang diniatkan. Hartanya akan menumpuk banyak hingga cukup baginya masuk dalam barisan orang terkaya di dunia. Namun, mereka yang bekerja untuk mengumpulkan harta yang banyak agar bisa berdaya untuk memberi manfaat bagi umat, maka ia akan mendapatkan harta yang banyak, yang cukup untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang dia tanggung. Hal ini karena dia menjadi perantara rezeki dari Allaah swt bagi banyak orang.

Inilah agama yang setiap orang diberikan kesempatan untuk menentukan masa depannya, baik di dunia maupun di akhirat, apapun kondisinya hari ini. Seorang direktur perusahaan dan seorang guru bisa bersaing untuk menjadi lebih baik sesuai dengan manfaat yang bisa diberikan. Begitu pula, orang yang tua, muda, kaya, miskin, cerdas, bodoh, dan seterusnya, Allaah swt bebaskan untuk bersaing menentukan posisinya. Allaah swt menilai berdasarkan usaha dan manfaat yang berhasil dia berikan. Barangkali, inilah alasan mengapa Islam adalah agama yang adil.

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allaah swt ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.”
(Surat Al-Hujuraat ayat 13)

*****

Masih terkait dengan manfaat, ketika SMP dulu, dalam sebuah pelajaran tentang Aqidah, saya diajari sebuah konsep yang menarik oleh guru saya, Ust. Faruq Windaryanto. Beliau mengutip kitab Al-Iman dengan mengatakan,

Faaqidusy syai-in laa yu’thii. Sesuatu yang tidak memiliki maka tidak akan bisa memberi.”

Konsep Aqidah tersebut awalnya menjelaskan tentang sifat Tuhan, dalam hal ini Allaah swt. Allaah swt sebagai sebab utama adanya seluruh alam raya ini, tentu berkuasa dan memiliki segala sesuatu. Ibarat seorang guru, mustahil bisa mengajari muridnya jika ia tak punya ilmu.

Korelasi konsep di atas dengan hadits yang saya kutip di awal tulisan adalah, mustahil seseorang bisa bermanfaat jika ia tak memiliki hal yang bermanfaat. Sementara, untuk menjadi manusia terbaik, kita harus mampu menjadi orang yang paling bermanfaat. Maka, untuk bisa menjadi orang yang terbaik, kita harus bisa memiliki sebanyak mungkin kemanfaatan dalam diri kita sehingga kita bisa menyebarkannya pada setiap orang. Rasuulullaah saw menjadi orang yang terbaik, salah satu alasannya adalah, karena kemanfaatan dalam dirinya langsung bersumber dari sebab segala sesuatu, yaitu Allaah swt.

Ada masanya kita harus banyak belajar dan mempersiapkan diri untuk mengumpulkan kemanfaatan. Ada masanya pula, ketika segala kemanfaatan yang kita miliki akan dipertanggungjawabkan dan dibagikan. Kadangkala keduanya bisa berjalan beriringan, kita belajar sembari menebar manfaat. Yang pasti, kita tak perlu terburu-buru dalam mengamalkan ilmu dan kemampuan yang kita miliki. Pandai-pandailah mengukur dan mencari momen, kapan akan menebar manfaat agar dampak yang dirasakan bisa luas.

Tak perlu pula kita mengumbar dan memamerkan manfaat yang kita berikan kepada orang lain. Karena jika memang itu sebuah kebaikan, maka prinsipnya akan seperti air yang baik, ia akan mengalir dari sumbernya hingga ke celah yang paling sempit sekalipun. Allaah swt akan membuka tabir yang menutupinya sehingga dampak kebaikan yang kita lakukan akan tersebar luas. Kata Allaah swt di dalam firman-Nya,

“Beramallah kamu, maka Allaah swt dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat amalanmu itu. Dan kamu akan dikembalikan kepada (Allaah swt) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.”
(Surat At-Taubah ayat 105)

Dan ketika momen itu terjadi, reaksi kita akan menjadi tanda kesiapan kita. Apakah kita akan lulus dalam ujian keikhlasan tersebut, ataukah itu akan menjadi pembuka tabir kebusukan niat kita, na’uudzubillaah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *