Yang Tidak Boleh Berubah

Ada satu hal yang sejak awal menikah Mas Fahmi pesankan kepada saya lekat-lekat. Kala itu ia bilang,

Sebaik apapun kondisi ekonomi dan status sosial kita di kemudian hari, satu hal yang tidak boleh berubah dari kita dan anak keturunan kita, yakni menjalani hidup dengan pola sesederhana mungkin.

Saya hanya diam. Mencoba mencerna apa yang baru saja ia katakan. Yang mungkin terdengar mudah untuk diiyakan, tapi nyatanya begitu sulit untuk dijalankan. Karena itu berarti sekaya, seterhormat, seterkenal apapun kami di masa depan, kami akan tetap makan makanan yang sama, naik kendaraan yang sama, memakai pakaian yang sama, memiliki interior rumah yang sama, dan sederet standar yang sama dengan saat ini ketika gaji masih di bawah Upah Minimum Regional.

*****

Adalah Khalifah Umar bin Khattab, yang menjadi idola terbesar kami setelah Nabi Muhammad. Kenapa Umar? Karena selain segala keutamaan yang ia miliki, karakternya hampir mirip dengan Mas Fahmi. Tegas, teguh, zero tolerance pada kemungkaran, dan sedikit keras. Miripnya karakter ini membuat kami lebih mudah meneladani Umar.
Salah satu keteladanan yang begitu membekas adalah kezuhudan Umar bin Khattab. Meski menjadi Amirul Mukminin yang sukses menjayakan Islam, kehidupan di rumah Umar alih-alih menjadi lebih makmur justru menjadi semakin sederhana. Kehidupan serba terbatas ia pilih selain supaya hisabnya di akhirat ringan, juga supaya ia merasakan betul standar hidup terendah ummatnya. Hal ini membuatnya lebih adil sekaligus terbebas dari perbuatan dzalim.
Tidak hanya menerapkan standar hidup terendah bagi keluarganya, Umar juga menerapkankannya pada kehidupan seluruh pejabat yang ia angkat. Pernah suatu kali ia menerima hadiah berupa manisan dari Gubernur Azerbaijan. Ketika mencicipinya, Umar bertanya,

“Apakah seluruh kaum muslimin memakan manisan ini?”

Tidak, karena itu hanyalah makanan orang-orang tertentu saja.”

Mendengar jawaban tersebut, Umar lantas menutup manisan itu seraya berkata,

Ambillah kembali hadiah ini dan katakan kepada gubernur, ‘takutlah engkau kepada Allaah! Kenyangkan perut-perut kaum Muslimin sebelum engkau mengenyangkan perutmu’.”

Somehow, semakin membaca biografi Umar bin Khattab, semakin menguatkan kami untuk terus memegang prinsip yang Mas Fahmi pesankan di atas. Meski tidak mudah, tapi kami yakin segala kesulitan yang kami hadapi akan meningkatkan kapasitas kami sehingga kami lebih siap dengan perjuangan di luar rumah.

Terbukti ketika sudah terbiasa dengan kerasnya hidup di ‘dalam’, menghadapi yang lain-lain jadi terasa biasa saja.

*****

Sejak menikah, saya ikut Mas Fahmi tinggal di sebuah kamar di Rumah Tahfidz. Awalnya Mas Fahmi tidur di kamar berukuran 1,5 x 2 meter persegi, namun setelah menikah, kami berdua pindah ke kamar yang jauh lebih luas. Karena sebelumnya kamarnya kecil, maka kasurnya pun juga kecil. Ukurannya hanya sekitar 70 x 90 cm persegi.
Kalau dipikir-pikir, kasur seukuran itu mustahil muat untuk berdua. Bahkan kalaupun dipakai sendiri pun pasti tidak leluasa. Tapi karena prinsip supaya hidup lebih sederhana, kasur itu tetap kami gunakan. Mulanya memang terasa sempit, tapi nampaknya Allaah lapangkan kasur tersebut sehingga terasa nyaman-nyaman saja.

Suatu kali salah seorang saudara kami baru pindah rumah dan bercerita. Ia tidak bisa tidur semalaman karena kasurnya terlampau sempit dipakai berdua. Ketika saya tanya ukurannya berapa, ia bilang sekitar 90 x 100 cm persegi. Saya hanya tersenyum dan tertawa dalam hati. Ah, apa jadinya kalau kasur saya yang mereka pakai ya?

Dalam keadaan lain, pernah seorang istri merasa akan sangat tidak nyaman sekali kalau tinggal bersama orang lain sehingga harus berbagi kamar mandi dan tidak leluasa buka jilbab. Ya Allaah, rasanya saya cuma bisa tersenyum karena sampai sekarang pun saya berbagi kamar mandi dengan keluarga lain dan hanya dapat buka jilbab di kamar pribadi yang tidak seberapa luas.

Pernah pula seorang ibu hamil ngidam makanan tertentu dan mengulang-ulang keinginannya makan makanan tersebut di depan orang lain. Allahu Rabbii, andai saya di posisi itu pasti saya akan kena marah besar. Yang pertama karena ngidam itu sendiri diartikan sebagai kurang bersyukur dan menyebutkannya di depan orang lain berarti menodai kehormatan suami karena tidak bisa memenuhinya dengan segera.

Bersinggungan dengan kehidupan orang lain, saya jadi banyak sekali bersyukur. Honestly, prinsip tersebut memang sangat berat diterapkan di internal keluarga kami. Tapi rupanya, ketika melihat standar hidup orang lain yang lebih tinggi, saya jadi merasa senang sekali karena berarti saya cukup berhasil mempraktikkan prinsip tersebut. Semakin melihat standar orang lain yang lebih tinggi, alih-alih merasa semakin tertekan, kami justru merasa semakin bahagia dan bersyukur. Pun rasa syukur itu bertambah lagi karena berarti Allaah berkenan pula karuniakan rasa syukur dalam hati kami.

Semoga Allaah senantiasa tambahkan rasa syukur dalam hati-hati kita

One thought to “Yang Tidak Boleh Berubah”

  1. Terinspirasi kak, memang kita harus pintar pintar bersyukur, gk boleh iri sama kehidupan orang lain, karana hidup didunia ini hanya untuk ibadah kepada Allah swt. 🙂 semoga selalu naehat menasehati kak

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *