Tong Kosong

Setiap kali mengisi materi, saya punya kebiasaan untuk selalu mengajak serta Dek Zahra, begitu pula sebaliknya. Asal audiens-nya tidak khusus untuk salah satu jenis kelamin, kami pasti akan bersama. Terkait dengan hal itu, saya pernah mengungkapkan alasannya di sini. Paling penting adalah, supaya kami bisa saling mengoreksi dan menjadi assesor bagi yang lainnya.

Maka, pertanyaan yang pertama kali muncul setelah mengisi adalah,

“Gimana tadi ngisinya?”

Awalnya, kami banyak fokus membahas pada tataran teknis. Yang sudah baik, kami jadikan contoh untuk ke depan. Yang masih kurang, akan kami coba perbaiki pada kesempatan berikutnya.

Sampai pada satu titik, ketika kami berada di zona nyaman. Hampir setiap kali kami bergantian panggung, audiens begitu tertarik dengan materi yang kami bawakan. Kami sendiri bingung karena materi yang kami bawakan kadang tidak lebih bagus dari orang yang lebih ahli dari kami. Metode penyampaian kami pun nothing special.

*****

Lalu, datanglah periode itu. Suatu kali, selesai Dek Zahra mengisi materi kajian, dalam perjalanan pulang saya bertanya,

“Gimana tadi ngisinya?”

“Hmmm, nggak yakin berdampak sih. Pesertanya kaya kurang antusias. Aku juga kayaknya kurang persiapan. Rasanya kaya kurang powerful gitu kata-katanya.” Ujar Dek Zahra dengan nada penyesalan.

“Berarti, next time, harus pandai mengukur dan mempersiapkan diri yaaa.” Saya membalas seperti biasa.

Pada kesempatan berikutnya, giliran saya yang mengisi materi. Dek Zahra ikut hadir menjadi audiens karena kebetulan pesertanya umum. Dan seperti kebiasaan kami sebelumnya, selepas kajian, kami mengobrol.

“Gimana tadi ngisinya?”

“Hmmm, kok rasanya beda, ya. Aku kayak nggak menguasai materi dan gelagapan. Padahal kan materinya udah pernah tak sampaikan sebelumnya. Jadinya tadi ya membosankan gitu. Aku cepetin biar cepet selesai aja.”

“Lho kok gitu?” Dek Zahra memprotes tindakan saya.

“Lha, daripada aku cuma jadi tong kosong di depan.” Saya membela diri.

Kami pun terdiam. Kami sama-sama sibuk memikirkan kenapa seolah belakangan, setiap kali mengisi materi, kami merasa seperti tidak siap. Padahal kami melakukan persiapan seperti biasa, bahkan kadang lebih banyak. Materinya juga beberapa sudah pernah disampaikan, hanya di-remake saja.

Tapi, entah kenapa, rasanya seolah tidak ada energi kebaikan yang muncul dari materi yang kami sampaikan. Bodohnya adalah, kami masih membahas soal teknis dan persiapan materi ketika di rumah. Kenyataannya, perbaikan tersebut tidak memberi efek yang berarti pada kesempatan berikutnya kami mengisi.

Sampai akhirnya, Dek Zahra nyeletuk,

“Apa ini semua gara-gara kita kendor di amalan yaumiyah, ya?”

Saya terdiam. Saya coba untuk ber-muhasabah. Melihat kembali catatan amalan yaumiyah hari-hari belakangan. Dan, ternyata benar! Betapa banyak checklist yang dibiarkan kosong. Banyak amalan sunnah yang mulai kita remehkan sehingga rontok satu demi satu.

Ah, betapa lemah dan bodohnya kami ini. Betapa sombongnya kami sehingga berani mengandalkan kemampuan kami tanpa hidayah Allaah swt.

Saya jadi teringat nasehat Kyai Dr. H. Syukri Zarkasyi, salah seorang pimpinan Pondok Gontor. Beliau menasehatkan,

At-thoriiqotu ahammu minal maddah, wal mudarrisu ahammu minat thoriiqoh, wa ruuhul mudarris ahammu minal mudarris. Cara atau metode itu lebih penting dari pada materi yang disampaikan, guru (yang menyampaikan) lebih penting dari metode pengajaran, dan ruh (jiwa) seorang guru itu lebih penting lagi dari gurunya sendiri.”

Ya, bisa jadi kami mampu dan menguasai materi yang akan disampaikan. Kami mungkin juga cukup percaya diri dengan cara penyampaian kami. Tapi kami tak siap secara ruhiyah. Jiwa kami kosong dari rahmat dan petunjuk Allaah swt. Wajar jika kemudian materi yang kami persiapkan jadi berantakan semua.

Kondisi itu akan sangat berbeda ketika kami serius menjaga amalan yaumiyah. Kadang, tanpa persiapan, bermodal ingatan materi yang pernah kami sampaikan, hasilnya akan powerful dan terasa lebih berisi. Adalah sebuah kepastian bahwa kekuatan dan kehendak Allaah swt di atas semuanya. Jika poin itu tidak kita miliki, sebaik apapun kemampuan dan persiapan kita, it will be nothing.

Padahal, jika Allaah swt sudah berkehendak, kadang kita tak perlu membuat materi yang bagus, tak perlu bersusah payah membuat metode penyampaian yang susah, Allaah swt yang akan membuat hati audiens tergerak dan memberi hidayah mereka. Lisan dan penampilan kita hanyalah sarana saja.

Meski begitu, bukan berarti lantas kita santai-santai saja. Bukankah usaha dan persiapan terbaik kita adalah cara terbaik menjemput takdir Allaah swt? Kita siapkan materi dan cara penyampaian yang terbaik, sisanya biarkan Allaah swt yang menggerakkan hati audiens untuk tertarik kepada kita, menyampaikan hidayah-Nya kepada mereka.

Sungguh, dekat dan bersama Allaah swt akan memudahkan segala urusan. Semudah Allaah swt mengirimkan pertolongan kepada Siti Hajar dan Nabi Ismail as ketika diasingkan oleh Nabi Ibrahim as atas perintah-Nya.

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullaah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Surat Ibrahim ayat 37).

Terlepas dari ke-futur-an kami beberapa waktu lalu, kami mendapat bonus pelajaran penting. Jika ingin disukai dan dicintai manusia, maka kita harus mengejar cinta dan keridhaan Allaah swt lebih dulu. Jika ingin kepribadian kita menarik bagi orang lain, maka akhlak kita harus sesuai aturan Allaah swt.

Allaahumma innii as-aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka. Allaahumma innii as-aluka ‘ilman naafi’aa, wa rizqan thayyibaa, wa’ amalan mutaqabbalaa. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *