Kehormatan Laki-Lakiku #1

Ada sebuah buku sekuler yang sangat direkomendasikan bagi siapapun yang hendak menikah, meski ia muslim. Judulnya Women Are From Venus Men Are From Mars yang ditulis oleh John Gray. Buku ini menjelaskan dengan begitu menarik perbedaan laki-laki dan perempuan. Membacanya, kita jadi lebih bisa memahami diri kita sendiri sekaligus memahami pasangan kita.

Setelah belajar lebih dalam, saya menemukan bahwa isi buku tersebut ternyata telah termaktub di Al-Quran dalam halaman awal juz 5 sebelah kiri atas. Terjemahannya berbunyi,

“Laki-laki (suami) adalah ‘qawwam’ bagi perempuan (istri), karena Allaah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari harta mereka. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (qaanitat) dan menjaga diri (haafidzat) ketika (suami mereka) tidak ada, karena Allaah telah menjaga (mereka).” An-Nisa: 43

Ayat tersebut boleh jadi tidak panjang. Tapi setelah merasakan sendiri bagaimana memahami dan menjalankannya, sungguh perjuangan dan pengorbanannya jauh dari kata ringan.

*****

Di ayat tersebut, Allaah sebutkan laki-laki sebagai qawwam. Dalam terjemahan Bahasa Indonesia, qawwam diartikan sebagai pemimpin. Tapi ketika ditafsirkan dalam Bahasa Arab, qawwam setidaknya memiliki empat arti.

Arti qawwam yang pertama adalah, laki-laki harus lebih aktif dibanding perempuan. Kata qawwaamuuna berasal dari qaama-yaquumu yang berarti berdiri. Berdiri tentu lebih aktif daripada duduk, meski sama-sama diam. Maka, maksud dari qawwaamuuna yang merupakan kata superlative dari qaaimun, kata sifat dari qaama-yaquumu, adalah lebih proaktif dalam berbuat baik daripada perempuan. Laki-laki harus bisa memberi contoh yang terbaik untuk perempuan.
Kedua, laki-laki harus mampu menunjukkan komitmen yang kuat terhadap perempuan. Hal ini berasal dari pada- nan kata qaama-yaquumu dengan ‘azama-ya’zumu yang berarti
membuat komitmen yang kuat. Sehingga, laki-laki seharusnya lebih berkomitmen dalam kebaikan daripada perempuan. Hal ini mengingat kondisi perempuan yang memiliki siklus menstruasi yang membuatnya cenderung instabil. Saat menstruasi, terjadi lonjakan berbagai hormon dalam waktu yang singkat sehingga berpengaruh pada instabilitas sik dan emosi perempuan. Laki-laki yang tidak memiliki masa halangan tentu lebih mudah untuk membuat komitmen.

Ketiga, kata qawwaamuuna juga bermakna mulaaziman muhaadhan, yaitu kewajiban untuk melindungi. Laki-laki secara trah diberikan sikap protektif terhadap perempuan. Tidak hanya suami bagi istri, termasuk juga anak laki-laki terhadap ibunya, saudara laki-laki terhadap saudara perempuannya, dan lainnya. Sehingga dimanapun perempuan berada bersama laki- laki, laki-laki harus bisa melindungi dan menjaga kehormatan perempuan.

Keempat, kata qawwaamuna berarti pemimpin dalam arti pengelola, orang yang mengurusi dan memastikan kelangsungan hidup perempuan. Seorang ayah tentu wajib menafkahi istri dan anaknya untuk memastikan kelangsungan hidupnya. Saudara laki-laki akan melindungi saudara perempuannya untuk memastikan keamanannya. Maka, ketika seorang laki-laki menikah, ia tidak hanya bertanggung jawab atas istrinya, namun juga ibunya, ibu mertuanya, dan juga saudara perempuannya.

Keempat arti qawwam ini selain dilebihkan Allaah atas laki-laki, juga menjadi kewajiban laki-laki untuk memenuhinya. Sehingga dalam kesiapannya menjadi suami, seorang laki-laki paling tidak sudah memenuhi kapasitas tersebut. Sehingga kemudian tidak ada kewajiban yang dilalaikan oleh karena ketidakmampuannya memikul tanggungjawab.

*****

Yang menarik adalah, di ayat yang sama Allaah swt jelaskan kriteria perempuan shalihah. Yang ternyata hanya ada 2, yakni qaanitat atau taat (baik kepada Allaah maupun kepada suami) dan haafidzat atau menjaga diri terutama ketika suaminya tidak ada.

Bersandingnya ‘qawwam’ bagi laki-laki dan ‘qaanitat’ serta ‘haafidzat’ bagi perempuan mengisyaratkan bahwa kriteria-kriteria itu salinglah berhubungan. Seorang laki-laki akan semakin ‘qawwam’ ketika sang perempuan taat dan menjaga diri. Sebaliknya, seorang perempuan dapat taat dan menjaga diri kalau laki-lakinya mampu menjadi pemimpin yang baik.

Hubungan timbal balik ini kemudian menyiratkan hikmah yang begitu berharga. Bahwa ketika seorang suami menginginkan istrinya untuk taat dan menjaga dirinya, maka ia harus dapat berlaku ‘qawwam’ terlebih dahulu. Karena betapapun sang istri tahu keutamaan taat, kalau suaminya tidak menunjukkan kapasitasnya untuk dihormati, sangat sulit baginya untuk istiqomah dalam ketaatannya.

Sebaliknya, ketika seorang istri mengingankan suaminya dapat memimpinnya dengan baik, ia harus menunjukkan ketaatan terlebih dahulu. Sudah menjadi naluri laki-laki untuk semakin menunjukkan kekuatannya ketika ditaati. Semakin seorang istri taat, semakin sang suami merasa dihormati dan terus-menerus meningkatkan kapasitas dirinya untuk menjadi pemimpin yang baik.

Disinilah tampak betul betapa Maha Adilnya Allaah. Semuanya telah diukur dalam timbangan yang setimbang. Sehingga kalaupun ada masalah dalam pemenuhan peran suami-istri, dengan mudahnya kita bisa telisik bagian mana yang tidak sesuai dengan yang termaktub dalam ketentuan-Nya.

Termasuk juga ketika saya ingin kelak, Mas Fahmi dapat mengemban amanah memimpin ummat dengan sebaik-baiknya. Ini berarti kami harus meningkatkan kapasitas kami sebaik mungkin sebelum amanah itu datang. Kapasitas kepemimpinanya tidak hanya dibesarkan sendirian, namun harus disokong oleh ketaatan dan penjagaan diri saya dalam rumah tangga kami.

*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *