Kehormatan Laki-Lakiku #2

Berbicara mengenai ketaatan seorang istri, sungguh tidak bisa kita menyederhanakan kriteria tersebut sebagai patuh terhadap perintah saja. Meski poin tersebut adalah salah satu cabang ketaatan, masih banyak poin-poin lainnya yang sebelum menikah tidak pernah saya bayangkan.

Salah satu yang paling penting adalah taat pada pendapat suami. Meski ada musyawarah terlebih dahulu, tetap kemudian pendapat suami yang kita dahulukan. Seabsurd atau sesederhana apapun itu.

Misalnya ketika memasak bersama dan menemukan perbedaan cara memasak. Tentu saja sebagai perempuan kita lebih tahu dan lebih punya naluri bagaimana memasak makanan yang enak. Tapi ketika pisau sudah di tangan suami, biarlah ia berkreasi sesukanya. Termasuk ketika hasil makanannya jauh dari harapan, tetaplah tersenyum, berterimakasih, dan berikan pujian. Kalau memang tidak enak, ia akan merasakannya sendiri. Kalau sampai ia mengakui ketidakenakan makanannya, jangan sampai kata-kata “tuh kan” atau “kan udah dibilangin” atau bahkan “tau gitu tadi yang masak aku aja” keluar dari lisan kita. Meski kita benar, kata-kata itu hanya akan melukai kehormatannya sebagai laki-laki.

Pun juga ketika terjadi konflik, sebenar apapun kita, meminta maaf duluan tetaplah lebih utama. Berharap laki-laki minta maaf duluan ibarat menanti hujan di bulan Juni. Hampir mustahil. Tapi ketika kita menyesal, meminta maaf, hingga mungkin tangis tumpah, laki-laki dengan sendirinya akan meminta maaf. Sebaliknya, jika kita balik marah dan meninggikan suara, harga dirinya akan terkoyak sehingga ia akan semakin marah untuk meninggikan harga dirinya lagi. Kalau sudah begini jangan harap masalah akan usai, yang ada kita dilaknat oleh malaikat karena tidur sebelum suami ridha pada kita.

Pun juga ketika ia marah hal yang sangat sepele. Jangan sampai keluar dari lisan kata-kata, “alah gitu doang aja marah”. Sekecil apapun masalahnya, yang menjadi masalah sebenarnya bukan masalah itu. Melainkan prinsip dibaliknya. Misalnya tanpa sadar kita membuang botol bekas. Tiba-tiba suami marah, meski apalah arti sebuah botol bekas. Nanti juga ada lagi. Tapi ketika ada prinsip dibaliknya yang dilanggar, kemarahan itu sudah semestinya ada sebagai bentuk hukuman terhadap kelalaian kita.

Taat yang lain lagi adalah ketika kita meminta tolong atau membangunkan. Misalnya kita sedang riweuh dan meminta tolong suami untuk mencuci piring. Seringkali dijawab “Iya, nanti” sampai berjam-jam kemudian belum terlaksana juga. Jangan kemudian kita menimpali “yaudah aku kerjain aja”. Meski pekerjaan selesai segera, tapi kita berarti mengecilkan kepercayaan kita padanya.

Sama juga ketika membangunkan untuk shalat tahajjud, misal. Barangkali suami memang minta dibangunkan. Tapi ketika sudah lewat dari waktu semestinya dan belum bangun juga, jangan sampai kita marah dan membangunkannya dengan nada tinggi. Ia bangun, memang. Tapi amarahnya bangun juga. Kalau sudah begitu, selain kita merusak hari kita sendiri, kita juga merusak harinya karena memberikan awalan hari yang buruk.

Taat lainnya lagi adalah di perjalanan. Sebagai perempuan, seringkali kita memiliki kekhawatiran berlebih ketika menjadi penumpang. Tanpa sadar kata-kata “awas”, “hati-hati”, “pelan-pelan”, keluar dari bibir terus-menerus. Tidak jarang kita sampai berteriak. Sungguhpun hal tersebut ada baiknya, tapi itu hanya membuat suami merasa tidak dipercaya sehingga lunturlah harga dirinya.

Taat yang lain lagi semisal suami intoleran terhadap makanan pedas. Mencegah sama sekali makan pedas sungguh hanya akan mengecilkan harga dirinya. Cukup sekali diingatkan, lalu gugur kewajiban kita. Kalau kemudian perutnya sakit karena makanan itu, jangan kemudian lisan kita berkata, “tuh kan dibilang juga apa. Ngeyel sih”. Kita tidak salah, memang. Tapi kata-kata itu sungguh akan mengoyak harga dirinya.

Misal lagi suami memiliki kebiasaan buruk main game hingga lupa waktu. Kita sudah mengingaykan berkali-kali tapi tetap saja tidak berubah. Ketika kita marah, eh suami malah tambah marah. Yah, sama seperti sebelumnya, tugas kita hanya mengingaykan sekali. Setelahnya biarlah Allaah yang bekerja.

*****

Bentuk ketaatan di atas barangkali remeh temeh. Tapi hal yang remeh itu ketika kita niatkan dengan niat semulia taat, insyaaAllaah pahalanya akan terus mengalir.

Pun yang remeh itu sangat tidak mudah untuk dipraktekkan. Kita mesti rela menelan ego sekuat mungkin. Kemuliaan seorang istri bukanlah ketika ia menang atas suaminya, bukan. Justru ketika ego sudah tak lagi berupa, di hadapan Allaah justru kitalah pemenangnya. Semakin kita mampu menahan ego untuk taat, semakin mulia kita di hadapan Allaah.

One thought to “Kehormatan Laki-Lakiku #2”

  1. Sungguh mba Zahra seperti menjelaskan isi buku “Men are from mars, women are from venus” dalam koridor yg lebih nyata dan islami. Masya Allah. Tabarakallah:)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *