Kehormatan Laki-Lakiku #3

Poin yang kedua, menjaga diri, tidak kalah kompleksnya daripada poin ketaatan. Karena di dalam frasa ‘menjaga diri’ itu tidak hanya diri kita saja yang kita jaga, melainkan kehormatan seluruh elemen keluarga kita.

Penjagaan diri seorang perempuan dimulai dari menjaga auratnya. Telah jelas yang mana saja aurat itu. Tapi kemudian yang sering kita lupakan adalah konsekuensi di balik hal-hal yang mubah.

Contoh paling gampang adalah mengupload wajah ke media sosial. Meskipun mubah, tersebarnya wajah kita dapat membangkitlan nafsu orang yang berpenyakit dalam hatinya. Kalau nafsu itu telah muncul, berarti seorang suami sebagai wali turut berdosa karena gagal menjaga istrinya.

Penjagaan diri seorang perempuan kemudian terletak pada interaksinya dengan lawan jenis. Meski mubah, tapi sekecil apapun interaksinya harus kita perhatikan. Karena bisa jadi yang mubah itu menjerumuskan kita ke hal yang lebih jauh.

Misalnya chat dengan lawan jenis. Barangkali biasa saja, dan tidak membahas hal yang aneh-aneh. Tapi barangkali interaksi yang biasa saja itu membuat suami cemburu. Bisa juga ketika pintu itu terbuka, dan kita sedang mengalami hubungan yang kurang baik dengan suami, bisa saja pintu itu menjadi jalan untuk melampiaskan kekesalan dan kesepian kita. Maka, terjadilah apa yang kemudian tidak pernah kita bayangkan untuk terjadi.

Ada sebuah kisah yang menggambarkan bagaimana seharusnya perempuan menjaga dirinya. Pernah suatu ketika Fatimah ditanya oleh Rasulullaah,

“Bagaimanakan perempuan yang terbaik itu?”

“Yakni adalah ia yang tidak tampak dan tidak menampakkan diri”

Yang Fatimah maksud tidak tampak dan tidak menampakkan diri adalah, tidak tampak dan menampakkan diri pada yang bukan mahram. Semakin tertutup ia, semakin baik. Karena sejatinya tidak ada fitnah yang lebih besar daripada fitnah perempuan. Maka demi menghindarinya, Fatimah memberi pelajaran kepada kita untuk senantiasa menampilkan diri kita hanya kepada yang mahram saja.

*****

Penjagaan kedua adalah menjaga kehormatan suami. Meski frasanya jelas, tapi setan dapat dengan cerdiknya menggelincirkan kita. Apa-apa yang kemudian menurut kita biasa, ternyata sudah melanggar batas menjaga kehormatan suami.

Misalnya suami melakukan hal konyol dan memalukan. Barangkali hal tersebut biasa saja ketika kita menceritakannya di depan orang lain. Toh banyak orang juga begitu. Mulai dari membuat story percakapan konyol tersebut di media sosial, mengupload foto memalukan suami ketika sedang tidur atau lainnya, menceritakannya ke saudara terdekat, menjadikannya guyonan ketika kumpul bersama teman, dan hal-hal lain yang terasa biasa dan bahkan mungkin suami tidak mempermasalahkannya. Tapi sebetulnya di balik kebiasaan itu ada kehormatan yang ternoda.

Atau misal ketika kita menginginkan sesuatu dan menceritakannya ke orang lain. Barangkali hal ini biasa dan sederhana. Tapi dengan menceritakannya, berarti kita menceritakan pula ketidakmampuan suami menghadirkannya untuk kita. Hal inilah yang dapat melunturkan izzah sang suami.

Misal lagi ketika kita mengeluh di depan orang lain karena masalah atau keadaan yang kita hadapi di rumah. Rumah yang kecil, keluarga besar yang kurang harmonis, tidak adanya perabot ini dan itu, dan sederet masalah internal lain. Barangkali biasa saja untuk dikeluhkan, toh orang lain juga begitu. Tapi yang biasa itu dapat memunculkan prasangka di pikiran pendengarnya. Dan prasangka itulah yang menodai kehormatan keluarga kita.

Perempuan terlahir dengan fitrah suka curhat. Tidak bisa dipungkiri bertemunya satu perempuan dengan perempuan lain pasti menghasilkan banyak curhatan. Tapi kemudian fitrah itu Allaah uji dengan syariat untuk menjaga kehormatan suami. Maka, sejauh mana seorang perempuan dapat menjaga lisannya untuk menjaga kehormatan suaminya, sejauh itu pula ia berhasil lulus ujian keimanan yang Allaah beri.

*****

Penjagaan selanjutnya adalah menjaga harta suami. Hal yang sering sekali luput adalah perkara menjaga rumah. Rumah tidak hanya perlu dijaga kebersihannya, kerapihannya, atau keindahannya saja. Lebih jauh, rumah sangat perlu dijaga dari orang lain.

Pernah suatu kali Fatimah RA bertanya kepada Rasulullaah siapa perempuan yang akan masuk surga setelah Ummahatul Mukminin. Rasulullaah kala itu menjawab “Mutiah”. Fatimah yang penasaran akhirnya berkeliling untuk mencari siapakah Mutiah ini.

Ketika Fatimah bersama Hasan mengetuk pintu Mutiah, Mutiah tidak mengizinkan Fatimah untuk masuk. Alasannya adalah karena suaminya belum pulang sehingga ia belum meminta izin apakah Fatimah dan Hasan diperbolehkan masuk. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi yang artinya,

“Tidak halal bagi wanita untuk puasa sunah, sementara suaminya ada di rumah, kecuali dengan izin suaminya. Dan istri tidak boleh mengizinkan orang lain masuk ke rumahnya kecuali dengan izin suaminya.” – HR. Bukhari Muslim

Siapapun yang akan masuk ke dalam rumah kita harus mendapat izin kepada suami. Hal ini barangkali sulit dilaksanakan di Indonesia yang guyub dan saling terbuka antar tetangga. Tapi disitulah ujiannya. Kesulitan itu apakah kemudian menjadikan kita taat atau sebaliknya. Entah itu kurir paket, anak-anak, sahabat dekat, saudara, orangtua, siapapun ketika hendak masuk ke rumah kita, kita harus minta izin dulu pada suami.

*****

Hal-hal di atas barangkali sepele, tapi praktiknya susah sekali. Apalagi jika sebelum menikah kita tidak terbiasa menerapkannya. Belum lagi jika hukum yang kita ambil berbeda dengan suami.

Kesulitan itu sesungguhnya hadir kala kita fokus pada diri kita sendiri, pada ego dan kesenangan kita. Padahal seseorang tidak dianggap mencintai sesuatu sampai ia mengorbankan segalanya demi sesuatu itu. Kalau fokus kita adalah mencintai suami kita, mencintai Allaah, apa-apa yang kita korbankan pada akhirnya justru menambah kebahagiaan kita. Sebaliknya, kalau kita masih mencintai diri kita, ego kita, kesenangan-kesenangan kita, syariat akan sangat susah kita tegakkan. Maka ketika kita berat melakukan apa-apa yang Allaah perintahkan dan menjauhi apa yang Allaah larang, coba pertanyakan lagi, sudahkan kita betul-betul mencintai Allaah?

Semoga kita termasuk ke dalam golongan hamba yang dicintai-Nya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *