Mengembalikan Ke Habitat

Ada satu kesalahan Bapak dalam mengelola keluarga yang tidak ingin saya ulang. Kesalahan yang sebenarnya bukan murni kesalahan Bapak. Kesalahan itu terjadi karena kondisi yang memberikan pilihan yang terbatas. Kesalahan tersebut adalah terlambat mengembalikan Ibu ke “dunianya” sehingga potensi Ibu tidak sepenuhnya berkembang.

Dalam pertimbangan saya, kesalahan tersebut sebenarnya adalah pilihan terbaik yang bisa Bapak berikan untuk keluarga. Bapak terhitung menikah terlambat namun ingin punya anak banyak dan berkualitas. Maka, konsekuensinya adalah pilihan berat yang tak banyak orang ingin untuk mengambil. Yaitu, pilihan agar Bapak fokus bekerja menafkahi kebutuhan keluarga yang otomatis membengkak. Sementara Ibu harus bersedia menunda kariernya untuk menjadi madrasah terbaik bagi anak-anaknya.

Dan pilihan itu memang terbukti yang paling memungkinkan untuk bisa diambil. Begitu kami, anak-anaknya beranjak dewasa dan mandiri, Bapak mulai sakit-sakitan hingga kemudian mendahului kami pulang ke hadirat-Nya. Sementara, Ibu yang tidak banyak tanggungan lagi di rumah, bisa mulai meniti karier kembali. Meski terlambat, tapi tentu lebih baik daripada tidak mendapat kesempatan sama sekali.

Kesalahan Bapak yang memang tidak terhindarkan tersebut tidak ingin saya ulangi. Itulah mengapa, sejak awal saya ingin menikah usia muda. Saya ingin memiliki banyak anak yang juga berkualitas sebagaimana cita-cita Bapak. Namun, saya juga ingin memiliki waktu lebih banyak untuk merencanakan dan membagi porsi yang terbaik untuk keluarga.

Itulah mengapa, saat awal menikah, boleh dibilang saya mengekang Dek Zahra untuk tetap tinggal di rumah. Saya ingin Dek Zahra belajar dan memahami betul bagaimana tanggungjawab seorang istri dan ibu. Sungguh, itu bukanlah sebuah hal yang mudah dan bisa dicapai dalam waktu singkat. Barangkali jika menjadi istri dan ibu adalah semata soal skill, maka itu bisa dipelajari dengan mudah dan singkat. Tapi, menjadi istri dan ibu juga soal hati dan perasaan. Kepekaan, kepedulian, cermat, dan tanggap dalam setiap perubahan kondisi di rumah. Itulah kenapa saya menyebut perempuan itu ajaib, karena dia bisa mengatur suasana rumah dan seluruh penghuninya.

“Ketahuilah bahwa di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah qalbu.” (H.R. Muttafaqun ‘alaih).

Maka, jika manusia memiliki qalbu yang mengatur dan mengontrol seluruh kehidupannya, rumah memiliki perempuan bernama istri atau ibu yang memiliki fungsi serupa. Itulah mengapa, menjadi istri dan ibu bukanlah pekerjaan yang mudah. Balasannya pun tak kalah hebat, lebih baik daripada seseorang yang pergi ke medan perang dengan semua harta dan kemampuan yang dimilikinya, dan ia tidak kembali melainkan hanya jasadnya! Dan, ketika seseorang sukses menjadi istri bagi suami dan ibu bagi anak-anaknya, surga adalah jaminannya.

Saya pernah merasakan beratnya sebagian amanah yang harus diemban seorang ibu. Ketika itu, Bapak sakit stroke dan Ibu harus menunggu di rumah sakit. Saya dan Mas Humam, kakak saya, bergantian mengurus semua urusan adik-adik. Mulai dari beres-beres rumah, menyiapkan makanan, mencuci baju, antar-jemput sekolah, mengantar makanan dan baju ganti ke rumah sakit, menerima tamu, dan lainnya. Intinya, kami harus memastikan urusan rumah tangga beres seolah tanpa ada gangguan. Sungguh, itu adalah hari yang sangat berat dan melelahkan. Itupun kami masih banyak diberi petunjuk dan arahan dari Ibu. Saking beratnya, sampai kami tak sempat bersedih atas sakit yang menimpa Bapak.

Pengalaman tersebut membuat saya tidak berharap banyak perubahan dari Dek Zahra dalam mempelajari kesiapan sebagai istri dan ibu. Terlebih, sejak awal Abah dan Ummi sudah banyak berpesan dan menceritakan tentang Dek Zahra sebagaimana saya tulis di sini. Tapi, seiring waktu berjalan, ternyata Dek Zahra membuat banyak kemajuan yang begitu pesat. Mungkin beberapa kali saya sedikit keras dalam mengingatkan, terutama saat kelepasan, namun itu tidak mempengaruhi progress pembelajaran Dek Zahra selain kenyataan bahwa semakin hari, ia semakin menguasai skill dan menghayati peran sebagai seorang istri dan ibu.

Sayangnya, perkembangan yang positif Dek Zahra tersebut diiringi dengan penurunan kemampuan interpersonalnya. Secara, skill yang tidak pernah digunakan pasti akan tumpul dengan sendirinya. Maka, saya mengambil pilihan untuk mengembalikan Dek Zahra ke habitatnya. Saya mulai melatih kembali ketajaman dan kemampuan Dek Zahra untuk berkarya di luar. Satu kesempatan Dek Zahra saya izinkan untuk kembali mengisi materi. Dalam kesempatan berikutnya, Dek Zahra diminta mengisi materi yang masih “baru” bagi dirinya. Jika biasanya diminta berbagi tentang wirausaha, teknologi, dan desain, kali ini tentang tema-tema islami dan Al-Quran.

Ya, semenjak menikah, tentu kami banyak mengalami perubahan. Begitu pula kemampuan dan kapasitas Dek Zahra. Maka, ketika diminta untuk berbagi dan dia merasa siap, saya langsung izinkan untuk maju ke depan publik kembali. Bahkan, ketika Dek Zahra ragu, saya akan support dan bantu sedemikian rupa agar ia tetap bisa tampil dengan kondisi terbaik. Terakhir, Dek Zahra sudah kembali ikut organisasi ekstra kampus untuk meningkatkan jejaringnya.

Seiring dengan kembalinya Dek Zahra ke ranah publik, tentu ada konsekuensinya. Dan di manapun tempatnya, zona transisi selalu menjadi potensial konflik dan kesalahan. Dan itulah yang terjadi selama proses “pengembalian” Dek Zahra kepada publik. Meski begitu, kali ini saya bisa memberi kemakluman. Karena kesalahan yang terjadi bukan karena Dek Zahra belum mampu tapi karena belum skilful. Tentu ini menjadi pelajaran penting untuk kami semua agar bisa saling mensubtitusi. Saya yakin, seiring waktu berjalan pasti akan berkembang lebih baik lagi.

Dan begitulah kehidupan keluarga kami hari ini. Yang awalnya kami memiliki kemampuan dan kapasitas pribadi masing-masing, sehingga kami harus saling melengkapi. Sekarang, kami bisa saling menggantikan dan mendukung setiap aktivitas. Ini karena masing-masing dari kami memiliki skill, baik di urusan domestik maupun urusan publik. Kami belajar bersama-sama dan saling mengevaluasi, menjadi sparring partner agar senantiasa berimbang antara urusan domestik dan publik.

Dan ini menjadi satu sumber kebahagiaan saya karena satu demi satu plan yang saya buat sebelum menikah mulai tercapai. Ya, salah satu plan saya adalah menyelesaikan soal yang diberikan Abah dan Ummi dalam tenggat waktu dua tahun pertama. Sekarang, kami sedang menanti kelahiran anak pertama, wisuda kelulusan Dek Zahra, menyelesaikan koass saya, dan menanti Dek Zahra me-mutqin-kan hafalannya. Jika semua itu bisa tercapai, tentu akan menjadi kado terindah dalam dua tahun pernikahan kami.

Allaahumma yassir wa baarik lanaa umuuranaa wa hashshil maqaashidanaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *