Menjadi Ahli Sholat

Mi, jangan tinggalkan Sholat Fajr dan Tahajjud.” Pesan Bapak dalam perjalanan ke masjid suatu sore.

Entah kenapa, Bapak selalu mewasiatkan hal tersebut berulang kali. Dalam kesempatan lainnya, beliau juga menegaskan keutamaan dua rakaat Sholat Fajr yang lebih baik dari seluruh dunia dan seisinya.

“Kamu pingin apa, to? Mobil limousine? Rumah besar dan dihias seperti istana? Uang berlimpah yang nggak habis-habis? Pingin gelar yang tinggi sampai namamu jadi panjang? Itu semua nggak lebih baik dari dua rakaat Sholat Fajr.”

Saya cuma bisa diam mendengarkan wasiat beliau.

“Kamu lagi ada masalah? Tahajjud aja, biar cepat selesai masalahmu. Kamu pingin dihormati orang? Takut dilecehkan orang? Tahajjud, lah. Biar Allaah swt angkat dan jaga derajat kehormatanmu. Kamu susah belajar? Atau nanti pas sudah kerja mendapat kesulitan? Tahajjud itu kunci menyelesaikannya. Curhatlah sama Allaah swt di sepertiga malam terakhir. Itu waktu istimewa, jangan disandingkan dengan nonton bola atau sekedar mengerjakan tugas. Itu waktu khususmu sama Allaah swt.” Kata Bapak dalam kesempatan yang lain.

Lagi-lagi, saya hanya diam tercekat. Saya tersindir karena beberapa kali kepergok kalah rajin untuk bangun malam dibanding beliau. Kalaupun bangun malam, Tahajjud sebentar, lalu lanjut dengan mengerjakan tugas, baca chat, menonton sepakbola, atau bahkan tidur lagi. Sementara Bapak, selalu menyelesaikan Tahajjud sesaat sebelum adzan berkumandang.

“Orang yang rutin Sholat Tahajjud dan Fajr itu mesti dia menjaga sholat wajibnya. Jadi jangan dibalik, Tahajjud dan Fajr rutin tapi sholat wajibnya bolong-bolong. Jangan salah.” Ujar Bapak mengingatkan prinsip dasar tentang prioritas amal.

“Besok di akhirat, orang yang paling mudah hisabnya itu yang sholatnya paling baik. Soalnya, yang pertama kali diadili ya sholatnya. Kalau lulus, inSyaaAllaah belakangnya aman. Kan manfaat sholat mencegah dari perbuatan fakhsyaa‘ dan munkar? Kalau nggak lulus, mesti belakangnya nggak beres.” Bapak menegaskan lagi nasehatnya tentang sholat.

Saya langsung berpikir ulang dan melihat kembali kualitas sholat saya. Kalau sholatnya benar, lulus dalam parameter pengadilan Allaah swt nanti, mestinya bisa menambah semangat taat kepada Allaah swt dan menjauhkan dari keburukan. Berarti, kalau ada orang rajin sholat, tapi akhlaknya nggak bagus, yang salah…?

“Pintu surga itu ada delapan. Salah satunya pintu sholat. Jadi, kalau kamu jaga sholat wajib, jaga Tahajjud, jaga Sholat Fajr, inSyaaAllaah cukup untuk membuat kamu masuk surga dari pintu sholat itu, nggak perlu mengantri.” Bapak berujar sambil tersenyum.

*****

Beberapa nasehat Bapak tentang sholat tersebut lama-lama membuat saya semakin kagum dengan beliau. Bukan apa-apa, di saat banyak kepala keluarga yang berpikir tentang masa depan anak-anaknya secara materi dunia, bahkan lebih banyak yang tidak mau ribet memikirkan, Bapak berpikir jauh ke depan. Dia ingin men-transfer prinsip bahwa,

…sebagai keluarga, kamu harus menjadi ahli sholat. Karena saya ingin keluarga ini dan keturunannya masuk surga lewat pintu sholat.”

Inilah sebenarnya yang sepertinya hendak Bapak sampaikan ketika berulang kali mengingatkan soal sholat. Bapak ingin memastikan anak-cucu dan keturunannya semua masuk surga. Dan sudah dipastikan jalurnya! Melalui pintu sholat. Sisanya? Bapak bebaskan mau berbuat apa saja untuk mengejar bagian dunia. Asalkan sholat wajib, Tahajjud, dan Fajr terjaga, silakan berbuat sesukanya. Karena sholat yang benar, menjadi jaminan bagi bagusnya akhlak seseorang. Sementara, akhlak yang baik (attitude), jaminan kesuksesan seseorang.

See?

Duh, saya jadi menyesal tidak belajar lebih kepada Bapak tentang hal-hal seperti ini. Dari kecil, memang urusan sholat adalah hal yang paling diperhatikan Bapak. Terlambat ke masjid, tentu ada hukumannya. Pernah saya dipukul pakai sapu, disiram air, disabet rotan, karena tertinggal jamaah shubuh. Kenapa Bapak bisa begitu marah? Karena tertinggal jamaah shubuh berarti melewatkan tiga kesempatan sholat sekaligus, Tahajjud, Fajr, dan Sholat Shubuh. Darimana mau jadi ahli sholat jika kesempatannya dilewatkan terus?

Dan saya bersaksi, bahwa Bapak adalah orang yang serius dalam menjaga sholatnya. Di tahun-tahun terakhirnya sebelum meninggal dunia, Bapak menderita stroke yang (maaf) membuat kemampuan menahan buang angin, kencing, dan defekasinya terganggu. Tentu, ini adalah hal yang sangat mengganggu ketika sholat. Sekali gagal menahan, batal sholatnya dan bahkan kadang harus ganti pakaian.

Bapak sering bangun malam sejak pukul 01.00 WIB, lalu menuntaskan hajat di belakang agar tidak mengganggu ketika sholat. Namun, kenyataannya ketika mencoba sholat beliau masih batal berulang kali. Beliau kadang cerita ke Ibu karena tidak mendapatkan dua rakaat utuh pun sejak bangun dari jam 01.00 sampai adzan shubuh berkumandang!

Bapak juga rutin pergi ke masjid untuk sholat berjamaah. Lalu, sering pula saya jumpai ketika selesai sholat, beliau masih bolak-balik ke belakang. Bahkan, sampai pulang lagi ke rumah, beliau kadang masih melaksanakan sholat lagi. Ketika ditanya kenapa? Beliau hanya menjawab sambil tersenyum getir,

Dari tadi di masjid batal terus, bolak-balik kamar mandi dan wudlu. Alhamdulillaah, akhirnya bisa selesai sholat.”

Kadang, untuk mengkompensasi kelemahannya menahan sistem pembuangan tubuh, beliau sholat sambil duduk. Memang secara logika, risiko batal terbesar adalah ketika ruku‘ dan sujud, ketika perut tertekan sehingga dorongan keluarnya lebih kuat. Ketika sholat sambil duduk, maka Bapak bisa menghindari keduanya. Ketika sujud, beliau hanya memperdalam menundukkan kepala. Sementara, kaki dan paha bisa menahan kedua pintu saluran pembuangan.

Sholat dalam kondisi seperti Bapak, tentu menjadi sangat sulit dan ribet. Tapi, bukan Bapak jika mundur begitu saja. Bapak selalu mencoba sholat sambil berdiri. Jika batal, coba sekali lagi sambil berdiri sampai tiga kali. Baru beliau sholat sambil duduk dengan tetap melaksanakan sujud. Tiga kali gagal, baru beliau sholat sambil duduk dengan sujud hanya menunduk. Maka, jika beliau sampai harus menyelesaikan sholat sambil duduk, itu berarti beliau sudah mengulang yang ke sekian kali.

Dan, yang membuat saya malu sampai hari ini, dalam kondisi begitu, beliau tetap menjaga sholat wajib, bahkan kadang Rawatib, Tahajjud, Fajr, dan Dhuha semampunya! Di sisi lain, saya juga iri, Allaah swt memberikan begitu banyak kelapangan waktu untuk Bapak bercengkrama dengan-Nya dalam sholat. MaaSyaaAllaah

Inilah yang kemudian menjadi motivasi Ibu untuk melanjutkan kebiasaan baik Bapak. Menjadi teladan anak-anak dan menantunya supaya bisa rutin sholat wajib di awal waktu, Tahajjud, Fajr, dan Dhuha, tidak pernah lepas. Ketika kami malas, Ibu selalu mengulang cerita perjuangan panjang Bapak melaksanakan sholat di tahun-tahun terakhir kehidupannya.

Ya, kami bersaksi bahwa Bapak adalah ahli sholat. Dan beliau ingin kami sekeluarga dan seluruh keturunannya kelak bisa berkumpul di surga sebagai ahli sholat semua. Beliau sudah menentukan salah satu misinya untuk membawa keluarganya ke surga. Beliau juga sudah menentukan jalur yang mana untuk menuju ke surga serta memberikan jejak tuntunan menuju ke sana. Dan barangkali, misi ini pula yang akan saya turunkan kepada keluarga kami nanti.

Rabbanaa (i)j’alnaa muqiiminash sholaah, wa min dzurriyyaatinaa, rabbanaa wa taqabbal du’aa’.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *