Berpisah Untuk Bersiap

Siang itu, saya baru saja pulang dari Banyumas setelah menyelesaikan koass stase Mata di sana. Ya, meski hanya berpisah seminggu dengan Dek Zahra, rasa rindu itu nyata dan seolah menarik-narik untuk bersegera pulang. Itulah kenapa, selepas selesai mengurus administrasi, saya langsung pulang naik motor tanpa istirahat terlebih dahulu. Rindu itu mengobati lelah yang melanda.

“Habis ini stase apa?” Dek Zahra tiba-tiba bertanya sambil kami makan bersama.

Hmm, stase Bedah. Jatah jejaringnya enam minggu. Jadi empat minggunya pasti di Sardjito.” Saya menjawab sambil mengunyah bakso.

“Yaudah, deh. Ntar kita berdoa aja ya biar Mas Fahmi jejaringnya dapat yang di Jogja aja. Biar nggak LDM lagi. Soalnya kan aku Januari pra koass dan Februari udah mulai koass.” Kata Dek Zahra optimis.

“Yaa, bismillaah. Semoga aja dapet. Kan jejaring Jogja banyak, ada RSA, Sleman, sama Hardjolukito. Ya, semoga dapat salah satunya.” Saya menjawab sambil melanjutkan makan.

Aamiiin.”

Obrolan siang itu, sebenarnya sederhana sekali. Namun, rupanya benar-benar menjadi pikiran kami. Kami pun melakukan apa yang direncanakan Dek Zahra. Ya, kami berdoa bersama supaya saya mendapatkan stase Bedah di jejaring area Jogja.

Biasanya, kami bisa mendatangi bagian administrasi terlebih dahulu untuk memesan tempat di Jogja. Atau bertukar tempat dengan teman-teman lain supaya tetap mendapat bagian di Jogja. Meski begitu, keduanya belum pernah kami coba selama koass hampir dua tahun ini. Namun, kabarnya untuk awal tahun 2019 sampai kurang lebih tiga bulan ke depan, jadwal dan pembagian jejaring sudah ditentukan. Jadilah, kami memasrahkan urusan kami kepada Allaah swt.

Toh, kalau memang rezekinya di Jogja, inSyaaAllaah akan dapat di Jogja. Sebaliknya, kalau mendapat stase jejaring di luar kota, ya berarti memang rezekinya di luar kota. Allaah swt pasti Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk makhluk-Nya. Saya hanya berdoa seperti surat Al-Isra’ ayat 80,

“Allaahumma adkhilnii mudkhala shidqin, wa akhrijnii mukhraja shidqin.”

*****

Ketika hari pengumuman stase jejaring tiba, ternyata Allaah swt berkehendak lain. Saya ditakdirkan untuk mendapatkan jejaring terjauh, yaitu di Cilacap. Saya coba untuk bertukar dengan teman-teman, melobi bagian administrasi, namun qadarullaah, ada saja halangannya. Akhirnya, bismillaah, saya sampaikan kepada Dek Zahra terkait kabar ini.

Dan sesuai dengan dugaan saya, Dek Zahra langsung menangis karena tentu kami akan berpisah lagi. Dan ini mungkin menjadi yang terlama, kurang lebih enam minggu. Kadang, berbicara tentang penerimaan takdir itu mudah jika sesuai dengan ekspektasi kita atau lebih baik. Lebih mudah lagi jika kita tidak mengalaminya alias hanya dimintai nasehat. Tapi kenyataannya, saat takdir tidak sesuai dengan ekspektasi kita, selalu butuh waktu dan penyesuaian untuk menerimanya.

Maka, hari-hari menjelang kami berpisah, kami seolah jatuh futur bersama. Hampir saja kami pergi terlalu jauh, mempertanyakan dan menyalahkan Allaah swt. Bersyukurnya, kami memiliki sistem pendukung yang baik. Kami pun mulai menata ritme kembali. Kami merencanakan hal-hal yang harus dipersiapkan. Ini karena Dek Zahra dalam posisi hamil tua, akan koass. Sementara saya juga koass tua, dan akan ujian akhir.

Kami membicarakan satu demi satu ketakutan-ketakutan yang akan kami hadapi ketika LDM nanti. Ketakutan soal rezeki, karena pasti saya tidak ada pemasukan lagi. Ketakutan soal kesehatan masing-masing, karena tidak bisa saling mengontrol dan menjaga. Ketakutan soal rasa rindu, dan berbagai kekhawatiran lainnya.

Kami mulai memperbaiki lagi satu demi satu. Kami saling menasehati soal iman, soal keyakinan kami kepada kekuasaan Allaah swt. Kami berikhtiar untuk membuat opsi-opsi yang bisa dilakukan supaya memudahkan saat LDM. Misalnya membuat jadwal pulang, memastikan untuk tanya kabar setiap hari, saling mengingatkan target masing-masing, dan lain sebagainya. Sampai pada soal yang kami tidak mampu mengatasinya jika terjadi.

Pada bagian inilah, kami berhenti. Kami berdoa bersama-sama, sembari ber-husnudhon kepada Allaah swt semoga segala sesuatu berjalan dengan baik dan penuh keberkahan. Kami mencoba untuk yakin konsep yang sempat kami lupakan,

“Sebaik-baiknya rencana kita, jauh lebih baik rencana Allaah swt. Maka, jika rencana kita gagal terwujud, asal ikhtiar kita maksimal, tinggal tunggu saja Allaah swt memainkan kejutannya.”

*****

Hari-hari terakhir sebelum saya berangkat ke Cilacap, kami memaksimalkan ibadah yang bisa dilakukan. Kami ingin berpisah dalam kondisi terbaik. Kami sempatkan untuk mabit di Masjid Ulil Albab UII pada malam sebelum berangkat. Lalu, pagi harinya kami bersiap-siap berangkat sekaligus menjemput Ummi yang kebetulan ada acara di dekat tempat tinggal kami. Kami juga masih sempat mengisi acara bersama tentang Al-Quran sejenak. Alhamdulillaah, semuanya lancar terlaksana.

Malam keberangkatan saya ke Cilacap, Dek Zahra tampak mencoba menguatkan diri. Saya sebagai laki-laki harus terlihat tegar, minimal saat di depan Dek Zahra. Itulah kenapa, saya berusaha untuk tidak menangis dan bahagia saat berpisah. Meski sepanjang perjalanan, saya terus menitikkan air mata.

Di perjalanan, Dek Zahra menitipkan pesan,

“Fii amanillaah, Sayang. Dulu aku tiap hari berdoa biar stase-stase terakhirnya di Jogja aja. Maka ketika Allaah swt belum kabulkan, inSyaaAllaah ada kebaikan yang besar di balik ini. Semoga sehat terus, dimudahkan, bisa banyak belajar, istiqomah tahajjud, dhuha, shalat fardhu jamaah awal waktunya, istiqomah muroja’ah-nya, dapat banyak hikmah yang bisa dibagikan ke orang banyak.”

Alhamdulillaah, membaca pesan tersebut, saya mengambil kesimpulan bahwa Dek Zahra sudah yakin betul dan menerima dengan utuh takdir ini. Maka, saya pun dengan lapang dada juga harus bisa menerima dan merelakan kondisi LDM ini. Barangkali, ini cara Allaah swt untuk mengingatkan kami tentang harga sebuah kebersamaan. Kebersamaan yang harus disyukuri dalam arti menambah kebaikan dan ketaatan kepada Allaah swt. Karena, jika kebersamaan tidak diliputi dengan keberkahan, tentu perpisahan adalah pilihan terbaik untuk menata dan mempersiapkan diri kembali.

Pikiran inilah yang kemudian membuat saya mengambil kesimpulan, bahwa saya seharusnya bersyukur dengan kondisi saat ini. Di posisi kami ingin menyambut kehadiran anak pertama, kami juga harus mempersiapkan diri sebaik mungkin. Sebagaimana kami memulai ikatan keluarga ini dalam kondisi terbaik, kami ingin pula menyambut kelahiran calon mujaahid/ah kami dalam kondisi terbaik pula. Agar jangan sampai keburukan kami membuat malapetaka bagi anak kami yang lahir ke dunia nantinya. Dan dengan LDM ini, kami berharap bisa lebih fokus dalam usaha perbaikan dan peningkatan kualitas diri.

Yaa Allaah, saya titipkan keluarga kecil ini kepada-Mu, Wahai Dzat Yang Maha Sebaik-baik Penjaga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *