Prasangka, Pintu Gerbang Dosa

Pekan lalu, Allaah swt memberikan pelajaran yang begitu berharga dalam kehidupan LDM yang baru kami jalani setengahnya. Sejak saya mendapat stase jejaring Bedah di Cilacap, kami harus hidup LDM selama enam minggu ke depan. Dan tepat di minggu ketiga kemarin, kami dibenturkan pada peristiwa yang membuat kami harus murojaah kembali tentang nilai-nilai yang seharusnya telah kami internalisasi dalam diri.

Kejadiannya bermula saat proses pengajuan perpanjangan penurunan UKT (biaya kuliah) saya bermasalah. Alasannya birokratif sekali, karena surat yang saya buat masih menggunakan nama fakultas yang lama. Sekedar informasi, nama fakultas tempat saya belajar saat ini sudah ganti dan menjadi sangat panjang. Akibatnya, surat yang saya masukkan tidak pernah terproses. Dek Zahra yang selama seminggu terakhir mengurus dan menanyakan progres surat tersebut akhirnya seolah sia-sia.

Singkat cerita, kami pun harus membayar biaya UKT sesuai tagihan sebelumnya sekitar empat belas juta lima ratus ribu rupiah. Dek Zahra harus bolak-balik dari rumah, bank, dan kampus untuk mengurus pembayaran dan daftar ulang di detik-detik terakhir penutupan agar saya tetap bisa melanjutkan koass. Hal ini karena saya sedang di luar kota, dan urusan uang dipegang oleh Dek Zahra. Yang lebih membuat lelah lagi adalah, informasi terkait tidak diprosesnya surat permohonan yang saya buat baru diberi tahu siang harinya, sekitar tiga jam sebelum penutupan.

Selepas masalah tersebut selesai, Dek Zahra yang begitu lelah lalu menyampaikan kabar tersebut kepada saya via WhatsApp.

“Alhamdulillaah, UKT sudah terbayar dan daftar ulang beres.”

Saya yang baru mengetahui jika surat permohonannya tidak diproses, dan harus menutupi kekurangan biaya untuk UKT, lalu membuka laporan keuangan keluarga. Saya mengecek dan menghitung kembali, untuk menyesuaikan tabungan dan pengeluaran. Hal ini mengingat selama di Cilacap, otomatis saya tidak bisa mendapatkan pemasukan seperti biasanya. Sementara, kurang lebih tiga bulan lagi kami akan menyambut kelahiran anak pertama kami. Tentu, kebutuhan-kebutuhan tersebut harus diperhitungkan.

Setelah mengecek dan membuat perkiraan, saya pun kembali bertanya kepada Dek Zahra untuk crosscheck tanpa menanggapi kabar yang baru saja disampaikan Dek Zahra tadi.

“Uang di Dek Zahra ada berapa? Di ATM sisa berapa?”

“Yang tak pegang ada sekian dan di ATM ada sekian.” Ujar Dek Zahra.

“Lho kok nggak sesuai? Sisanya di mana?” Saya bertanya lagi karena ada yang tidak sesuai. Biasanya karena memang belum dimasukkan ke laporan.

“Ada pengeluaran sekian dipinjam oleh teman buat keperluannya.” Dek Zahra menjawab beberapa saat kemudian setelah mencoba mengingat.

Saya tak menjawab lagi.

Melihat saya tidak menjawab obrolan via WhatsApp, Dek Zahra menduga bahwa saya sedang kesal dan marah. Dek Zahra pun semakin kesal karena saya seolah tidak menghargai usaha dan kelelahannya sepanjang hari bolak-balik untuk membayar UKT. Dan reaksi yang dilakukan Dek Zahra adalah meninggalkan obrolan di grup WhatsApp kami, Ruang Keluarga. Ya, dia meninggalkan grup keluarga kami.

*****

Sore itu, selepas bertanya tentang selisih laporan keuangan untuk klasifikasi, saya langsung berangkat ke RSUD untuk melakukan tugas rutin, membuat template laporan follow up pagi dan periksa pasien baru sekalian sensus pasien rencana tindakan esok hari. Kebetulan hari itu saya melakukan semuanya sendirian. Jadilah, saya tak sempat membuka gawai sampai malam.

Setelah semua tugas saya selesaikan, saya berencana untuk segera pulang ke asrama untuk istirahat. Tiba-tiba, smartphone saya bergetar. Ada informasi dari grup koass di WhatsApp yang mengabarkan jika akan ada operasi cito malam itu. Operasinya laparotomi eksplorasi pula, pasti tidak bisa cepat selesai. Kebetulan saya yang giliran jaga operasi cito. Jadilah, saya yang maju untuk jadi asisten bedah operasi malam itu.

Saya pun bergegas kembali ke RSUD untuk mempersiapkan pasien, lalu menjadi asisten bedah selama operasi. Operasi dilakukan mulai pukul 21.30 kurang lebih, dan selesai sekitar pukul 01.30 dini hari. Empat jam saya berdiri selama operasi yang molor karena sempat terhambat oleh satu-dua hal. Hal yang biasa terjadi ketika operasi cito malam hari, mengingat tidak semua petugas hadir lengkap, hanya yang terjadwal piket.

Selesai operasi, saya pulang ke asrama dalam kondisi badan yang sudah sangat lelah. Sambil berjalan, saya membuka media sosial dan melihat kabar supaya tidak mengantuk. Betapa kagetnya saya, saat mengetahui Dek Zahra meninggalkan grup obrolan Ruang Keluarga. Saya pun tak sanggup lagi berpikir saking lelahnya. Jadilah, saya hanya biarkan saja dan menduga bahwa Dek Zahra sedang marah seperti saat sebelum menikah dulu.

Belakangan setelah saya konfirmasi, ternyata Dek Zahra hanya ingin menenangkan diri dan istirahat. Karena Dek Zahra menduga saya kesal akibat laporan keuangannya tidak sesuai, maka ia memilih meninggalkan grup daripada ditanya macam-macam lagi.

*****

Sebenarnya, peristiwa di atas sangat sepele sekali, namun memberikan efek yang luar biasa bagi kami. Malam itu, saya dan Dek Zahra sama-sama menduga, berprasangka buruk, dan membuat keputusan berdasarkan dugaan. Dugaan atau prasangka yang kami buat sepihak tanpa konfirmasi. Keputusan yang lahir pun juga tidak menghasilkan maslahat karena disandarkan pada sebuah prasangka.

Barangkali, inilah alasan mengapa Allaah swt melarang untuk membuat praduga atau prasangka. Bahkan prasangka disebut sebagian dari dosa. Karena, hampir setiap prasangka yang kita buat, selalu membenarkan diri kita sendiri. Kita selalu mengunggulkan ego kita dalam membuat prasangka. Kita akan berusaha mencari pembenaran dan mencari kesalahan orang lain untuk menguatkan prasangka kita. Wajar jika kemudian prasangka kita turuti akan melahirkan dosa yang lebih besar lagi. Dan setan akan dengan senang hati mengompori dan menampakkan ingatan-ingatan yang membantu kita semakin berprasangka buruk. Sungguh benar Allaah swt mengingatkan kita,

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (Q.S. Al-Hujuraat ayat 12)

Ayat di atas tepat sekali mengingatkan kami tentang urutan dosa yang baru saja kami lakukan. Kami berprasangka, mencari-cari kesalahan, memperkuat prasangka, lalu mengambil keputusan yang semakin merusak hubungan dengan sesama manusia. Astaghfirullaah.

Inilah sebuah pelajaran berharga yang kami lupakan. Ya, kami lupa pernah menulisnya di buku kami, Mengukir Peradaban. Bahwa tidak boleh ada komunikasi yang dibangun atas dasar dugaan, prasangka, atau anggapan. Komunikasi harus jelas, berdasar kuat, dan dua arah. Tapi, sepertinya setan berhasil memasuki celah hati kami saat masing-masing sedang lelah. Jadilah kami tergelincir untuk saling berprasangka buruk dan parahnya membuat keputusan sesaat yang semakin membuat rumit masalah.

Saya katakan semakin rumit, karena setelah kejadian tersebut, hampir sehari kami tidak saling menghubungi. Kami menganggap bahwa masing-masing dari kami sedang marah sehingga tidak berani untuk memulai percakapan. Hingga akhirnya, Dek Zahra meminta untuk dimasukkan lagi ke grup Ruang Keluarga. Kami coba untuk saling konfirmasi tentang kejadian kemarin. Kami pun saling meminta maaf. Dan pada akhirnya, kami bersama-sama menertawakan kebodohan kami.

Sekilas, ketika kami membuat kesepakatan nilai-nilai keluarga dan menulisnya, seakan semuanya akan mudah. Kami juga percaya diri sudah mampu menginternalisasi nilai-nilai tersebut dengan baik. Kenyataannya, ketika nilai-nilai tersebut dibenturkan pada kondisi dan masalahnya langsung, kami masih harus saling menguatkan dan mengingatkan kembali. Terutama jika kondisi kami sedang lemah dan lelah. Ah, ternyata kami ini memang masih lemah. Mudah bicara dan mengingat, tapi malah lupa tepat ketika terpapar dengan masalahnya.

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan (kewajiban)mu sendiri? Padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?” (Q.S. Al-Baqarah ayat 44)

Yaa Allaah, jaga hati kami agar senantiasa taat kepada-Mu, kuatkan kami saat kelelahan dan kelemahan melanda kami, ingatkan kami tentang kebaikan dan ketaatan yang telah kami pelajari di kala kami lupa, sunggu Engkau lah Dzat sebaik-baik penjaga dan pemberi kekuatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *