Ketika Iman Menjadi Jaminan

Pernah mendengar kisah di balik surat Al-Hijr ayat 94?

Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.

Kalau belum, mari kita tadabbur bersama.

Alkisah, hiduplah seorang pemuda yang sangat terpercaya karena kebaikan akhlaknya. Seluruh penduduk kota mengenalnya sebagai pribadi pilihan dan menjadi teladan bagi para pemuda lainnya. Semua orang yang berada di sekitarnya akan langsung tahu orang macam apa dia.

Suatu ketika, pemuda ini memanggil kaumnya untuk berkumpul di sebuah bukit di pinggiran kota. Dia berkata,

Bagaimana pendapat kalian, jika aku mengatakan bahwa di balik bukit ini ada sepasukan berkuda yang akan menyerbu dan menyerang kalian?” Kata pemuda itu dengan lantang.

Kami percaya perkataanmu. Kami akan membenarkan pernyataanmu karena tak pernah kami mendengar engkau berdusta.” Jawab para penduduk kota yang ikut berkumpul di sana. Sebagian mereka sudah takut jika apa yang dikatakan oleh pemuda tersebut benar.

Maka saksikanlah, bahwa aku adalah Rasul yang diutus untuk memberi peringatan kepada kalian dari siksa yang amat pedih.” Kata pemuda tersebut tak kalah lantang.

Celakalah engkau. Hanya untuk inikah kau kumpulkan kami?!” Umpat salah seorang pimpinan kaumnya.

Inilah kisah singkat yang melatarbelakangi ayat di atas. Kisah tentang dakwah Nabi Muhammad saw secara terbuka kepada kaumnya. Betapa cerdasnya beliau ketika membuka dakwahnya dengan jaminan kejujuran dan keluhuran pekerti beliau selama ini. Lalu, beliau menyatakan dakwahnya kepada Islam bahwa apa-apa yang disampaikan dari lisan beliau adalah sebuah kebenaran. Meski begitu, gengsi dan ego para tetua kaum kafir Quraisy mengalahkan nurani yang ingin menerima hidayah Allaah swt. Padahal mereka tahu betul, tidaklah mungkin bagi Muhammad saw untuk berkata dusta.

*****

Oke.

Kita berganti ke kisah berikutnya. Pernah mendengar kisah tentang dua orang pemuda yang mengadukan seorang pemuda pembunuh ayah mereka?

Kalau sudah pernah, mari kita ingat kembali versi singkatnya.

Alkisah, datanglah dua pemuda pemilik kebun sambil mengapit seorang pemuda musafir menghadap Umar ibn Al-Khatthab ra. Mereka mengadukan bahwa pemuda yang mereka bawa telah membunuh ayah mereka dalam sebuah perkelahian.

Umar ra pun langsung merunut cerita kesaksian mereka. Dari penuturan mereka, diketahui bahwa pembunuhan tersebut dilakukan setelah kuda milik pemuda musafir dipukul kepalanya hingga tewas oleh ayah pemilik kebun. Hal ini karena kuda tersebut telah memakan tanaman di kebun milik keluarga korban. Akibatnya, dalam kondisi marah, pemuda musafir dan ayah pemilik kebun tersebut terlibat perkelahian sengit. Dalam perkelahian itulah, sang ayah pemilik kebun itu terbunuh.

Menyadari kesalahannya, si pemuda musafir pun menyesal. Maka, ia meminta Umar ibn Al-Khaththab sebagai khalifah untuk menegakkan hadd atasnya. Umar ra yang merasa iba melihat pemuda musafir tersebut menawarkan jalan lain berupa tebusan diyat yang ditolak oleh dua pemuda pemilik kebun. Akhirnya, diputuskan bahwa si pemuda musafir harus dihukum mati. Nyawa dibalas dengan nyawa.

Namun, di sinilah inti dari cerita tersebut. Karena akan dihukum mati, maka pemuda musafir tersebut memohon penangguhan selama tiga hari untuk menyelesaikan urusannya yang tertunda. Ia ingin menunaikan hak-hak adami yang menjadi tanggungannya.

Masalahnya, tidak ada seorang pun sanak atau kerabat yang mengenalnya. Padahal ia butuh seseorang untuk menjadi jaminan atasnya. Maka, ia memohon bahwa Allaah swt sebagai jaminan baginya. Meski begitu, Umar ra tetap meminta jaminan seseorang yang bersedia. Sampai akhirnya, Salman Al-Farisi memberanikan diri mengambil jaminan atas pemuda musafir tersebut. Umar ra dan kedua pemuda pemilik kebun menerima.

Hari penghakiman pun tiba. Sang pemuda musafir tak kunjung hadir. Hingga akhirnya para sahabat gelisah jika pemuda tersebut tidak hadir karena menghindar dari hukuman mati. Para sahabat khawatir jika Salman ra harus menanggung hukuman mati karena menjamin pemuda musafir tersebut. Menjelang sore, tibalah pemuda musafir tersebut dengan tampak kelelahan dan lusuh karena perjalanan.

Maafkan aku…” Katanya sambil tersengal.

Para sahabat pun merasa iba sekaligus kagum. Maka Umar ra pun bertanya pada pemuda musafir tersebut.

Mengapa engkau masih bersusah payah untuk kembali padahal engkau bisa melarikan diri dari hukuman mati ini?

Agar jangan sampai orang-orang mengatakan, bahwa tak ada lagi orang muslim yang menepati janjinya.” Jawab pemuda musafir tersebut.

Umar ra pun menoleh kepada Salman ra, dan bertanya.

Lalu engkau, Wahai Salman. Mengapa engkau rela menjadi penjamin bagi pemuda tersebut padahal engkau tak mengenalnya sama sekali?

Agar jangan sampai orang mengatakan, bahwa tidak ada lagi seorang muslim yang mau berbagi beban dan saling percaya dengan saudaranya.” Ucap Salman ra membuat para sahabat yang menyaksikan terharu.

Maka, tiba-tiba kedua pemuda pemilik kebun yang mengajukan tuntutan mencabut kembali tuntutannya dan mengikhlaskan keduanya. Hal yang membuat Umar ra bingung dan heran. Maka beliau pun bertanya pada mereka.

Mengapa kalian tiba-tiba berubah pikiran?

Agar jangan sampai orang mengatakan, bahwa tak ada lagi maaf dan pengampunan dari kaum muslim kepada saudaranya.

Sebuah kisah yang begitu mengharukan dicatat oleh Ust. Salim A. Fillah dalam bukunya “Dalam Dekapan Ukhuwah”.

*****

Satu lagi, masih tentang kisah yang serupa.

Saat menjadi khalifah, Umar ibn Al-Khaththab ra pernah menunjuk Nafi’ ibn Abdul Harits ra untuk menjadi gubernur di Makkah. Di akhir masa jabatannya, beliau bertanya,

Siapa yang menggantikanmu di Makkah?” tanya Umar ra.

Ibnu Abza.” Jawab Nafi’ ra singkat.

Siapa Ibnu Abza?” Tanya Umar ra mencari tahu.

Salah satu mantan budak di Makkah.” Jawab Nafi’ ra.

Mantan budak, engkau jadikan sebagai pemimpin?” Umar ra memastikan.

Sesungguhnya dia adalah penghafal Al-Quran, dan paham tentang ilmu faraidl.” Nafi’ ra menjelaskan alasannya.

Lalu Umar ra mengomentari dengan sebuah sabda Nabi Muhammad saw,

Sesungguhnya Allaah swt mengangkat sebagian kaum berkat kitab ini (Al-Quran), dan Allaah swt menghinakan kaum yang lain, juga karena Al-Quran.

*****

Apa yang sama dari ketiga kisah di atas?

Jika masih belum memahami, silakan baca dan resapi kembali. Apa yang bisa dipelajari dari ketiga kisah di atas?

Ya, ketiganya menggambarkan tentang sebuah jaminan kebaikan akhlak dan kemuliaan seseorang karena besarnya keimanan mereka kepada Allaah swt.

Pernahkah kita memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada seseorang? Yang kita bahkan tidak terpikirkan bahwa mereka akan mencurangi atau membohongi kita? Tentu, kita pernah memiliki hal tersebut. Dan biasanya pada orang terdekat yang kita cintai. Atau pada sahabat karib yang kita kenal betul karakternya.

Saya, misalnya, akan memberikan kepercayaan penuh kepada Ibu dan saudara-saudara kandung saya. Saya yakin bahwa mereka tidak akan memberikan hal yang buruk karena ikatan cinta dan persaudaraan di antara kita. Saya juga akan memberikan kepercayaan penuh kepada Dek Zahra, Abah-Ummi, dan semua saudara ipar saya. Karena saya yakin bahwa mereka akan senantiasa berbuat baik pada saya. Inilah kepercayaan sepenuhnya yang terbangun atas dasar ikatan persaudaran.

Kepercayaan yang berikutnya saya berikan sepenuhnya adalah kepada sahabat-sahabat karib saya. Dengan mereka, saya tak akan ambil pusing saat bekerja sama atau terlibat dalam sebuah transaksi jual-beli. Karena saya paham betul karakter mereka. Mereka tidak akan mencurangi dan membohongi saya. Inilah kepercayaan yang berdasarkan pada kedekatan karakter personal.

Ada tingkatan yang lebih tinggi tentang kepercayaan kepada manusia. Ya, sebagaimana Salman ra mempercayai si pemuda musafir, dan Umar ra mempercayai Ibnu Abza. Mereka mempercayai atas dasar iman. Mereka bukan saudara dengan hubungan darah atau sebangsa. Mereka juga tidak saling mengenal betul karakter masing-masing. Tapi mereka paham betul, bahwa keimanan orang yang mereka percayai akan menjaga mereka dari segala keburukan. Hal ini karena kepercayaan yang dibangun berlandaskan iman, Allaah swt yang menjadi penjamin atas mereka.

*****

Saya, atau barangkali kita semua, rindu pada masa itu. Masa ketika iman mampu menghindarkan kita dari keburukan sekaligus menjaga kita dari berbuat keburukan. Masa ketika seseorang menyatakan dirinya sebagai seorang yang beriman, itu menjadi jaminan kebaikan dalam dirinya. Semua yang berinteraksi dengannya tak khawatir akan keburukannya. Bahkan, orang-orang berlomba agar bisa ber-muamalah karena kebaikan orang yang beriman.

Kita rindu saat para pedagang pasar tidak ada yang mencurangi timbangan dan memainkan harga dagangan karena iman kepada Allaah swt. Kita rindu pada sistem ekonomi yang non-ribawi yang berlandaskan keimanan kepada Allaah swt. Kita rindu untuk berpolitik dengan akhlak mulia sebagaimana Islam mengajarkan kepada kita. Kita rindu saat pemimpin kita adalah orang yang terbaik imannya kepada Allaah swt. Kita rindu untuk bisa ber-muamalah dalam kondisi saling menyayangi dan mempercayai karena Allaah swt. Kita rindu umat ini saling gotong-royong dan membantu karena diikat oleh keimanan kepada Allaah swt.

Ya, kita rindu masa-masa ketika orang Islam benar-benar tidak akan membahayakan saudaranya melalui lisan dan tangannya. Kita rindu bagaimana umat ini menjadi umat terbaik karena keluhuran akhlaknya. Kita merindukan masa ketika umat agama lain bahkan berlomba untuk diatur dan dikelola dengan syariat Islam karena begitu adil dan tidak memaksa mereka.

Inilah wajah ideal Islam yang menjadi cita-cita kita bersama. Wajah yang ditunjukkan Allaah swt dalam dua kalimat pembuka firman-Nya. Bacaan basmalah dan hamdalah. Allaah swt menyebutkan sifat-Nya Ar-rahmaan dan Ar-rahiim yang berarti sifat pengasih dan penyayang yang tak terkira. Kemudian, Allaah swt menawarkan kepada manusia untuk menjadi “budaknya”, menjadi hamba-Nya, ketika memperkenalkan diri-Nya dengan sebutan “Rabbul ‘aalamiiin”. Maka, bagaimana mungkin orang tidak tertarik untuk menjadi budak dari Dzat Yang Maha Pengasih dan Penyayang? Yang bahkan sifat pengasihnya tak bersyarat dan penyayangnya jauh lebih besar dari seorang ibu?

Maka, mimpi itulah yang senantiasa membayang saat saya menjumpai orang-orang, karib kerabat, dan sahabat yang begitu baik dan mulia akhlaknya. Saya membayangkan, pelan tapi pasti, mereka akan berkumpul, menikah, menjalin silaturrahmi, saling menjaga, hingga menjadi kelompok besar Islam yang sesungguhnya. Islam yang dengan namanya menjadi jaminan kebaikan segala yang terkait dengannya. Agar kelak, orang-orang akan mengatakan,

Mari bergaul dengan orang-orang Islam, bergaul dengan cara mereka, karena sungguh tak ada cara terbaik dalam ber-muamalah selain dengan cara Islam.”

Allaahumma taqabbal aamalanaa wa a’maalanaa…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *