Welcoming My Twenty Fourth

06 Maret 1995.

*****

06 Maret 2019.

Dua puluh empat tahun sudah saya hidup di dunia ini. Bersyukur sekali hingga saat ini masih diberikan nikmat kehidupan, kesehatan, dan keimanan. Tiga nikmat yang ketika didapatkan bersamaan akan memastikan keselamatan dan keberkahan. Kalau tidak, maka itu cukup menjadi alamat bahwa kita tidak bersyukur.

Dua puluh empat tahun adalah usia yang krusial bagi kebanyakan orang. Usia ini sering disebut sebagai usia quarter life crisis. Banyak kegalauan di masa ini yang membuat banyak orang menjadi kontraproduktif. Galau soal pekerjaan. Galau soal pernikahan. Galau soal pendidikan. Galau soal karier. Dan berbagai kegalauan yang menghantui pikiran.

Belum lagi ketika godaan media sosial dengan segala penampakan baiknya. Teman seangkatan sudah menikah. Ada yang sudah mapan bekerja. Ada yang menjadi bos startup baru. Ada yang sudah memiliki momongan dan nyaman dengan keluarga baru. Sampai yang suka pamer jalan-jalan berkedok kuliah di luar negeri.

Parahnya lagi ketika kita kemudian disibukkan melihat “kesuksesan” mereka, lalu mulai merenung. Kita mulai membandingkan diri kita dengan mereka. Pencapaian kita, produktivitas kita, tampak tak lagi berharga. Kita mulai menyalahkan diri dan mencari ruang sendiri untuk tenggelam dalam keputusasaan. Tanpa sadar, muncullah sebuah pertanyaan yang menjadi tembok pembatas yang besar di hadapan kita

Apalah saya dibanding mereka?

Seolah kita berada dalam ruangan dan melihat semua kesuksesan orang-orang yang kita kenal dari bingkai jendela.

*****

Saya pernah mengalami masa itu. Bahkan tidak hanya sekali. Terakhir saya mengalaminya ketika sudah menikah. Selepas menikah, saya disibukkan oleh dua urusan yang paling urgen, koass dan nafkah keluarga. Kesibukan yang kemudian menyita waktu untuk melakukan hal yang saya sukai, berkumpul dan travelling dengan teman-teman, menghabiskan waktu bersama buku, dan kegiatan di luar rutinitas lainnya.

Satu-satunya pelampiasan terdekat saat adalah membuka smartphone. Kalau tidak membuka media sosial ya bermain game. Apalagi yang bisa dilakukan saat pikiran dan badan sudah lelah. Sementara, saya tidak bisa beristirahat karena harus jaga malam, sambil lembur mengerjakan tugas, dan lainnya. Dan sejujurnya, itu adalah sebuah kesalahan yang menjerumuskan.

Beruntungnya, saya hanya melakukannya ketika suntuk dan lelah jaga malam. Ketika saya bisa pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga, maka family time selalu bisa menjadi penawar. Kadang, situasi bertambah buruk ketika jadwal jaga malam saya bertambah. Karena itu berarti, rasio penawar dan paparan keburukannya semakin sedikit.

Di momen ketika saya membuka smartphone itulah, setan mulai masuk pikiran. Saya membuka pintu bagi setan dengan mulai tidak mensyukuri nikmat yang telah Allaah swt berikan. Melihat konten media sosial, di saat teman-teman saya bisa jalan-jalan, tampak bahagia dan sukses dengan karier dan pekerjaannya, sementara saya masih harus berkutat dengan koass dan pendidikan. Momen inilah yang membuat saya lalai dari mensyukuri nikmat yang sudah didapatkan. Momen yang membuat saya kurang menghargai pencapaian hasil kerja keras.

Dan, percayalah, bahwa semakin kita abai dengan nikmat yang kita terima, semakin kita tidak bersyukur, semakin banyak pikiran buruk yang akan menambah kegalauan. Karena setan akan masuk ke dalam hati manusia, tepat saat manusia membukanya, yaitu ketika ia tidak dalam kondisi bersyukur.

Kemudian saya (iblis) akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (Surat Al-A’raaf ayat 17).

Sampai saya diingatkan kembali oleh Allaah swt tentang tulisan saya beberapa waktu yang lalu. Saya menuliskan tentang bagaimana pembagian usia dalam kehidupan dengan istilah “Twenty Interval“.

*****

Twenty Interval adalah cara saya membagi fase kehidupan dalam interval dua puluh tahun. Dalam setiap dua puluh tahun, kita akan berada di fase bayi, kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Kita akan mengalami fase ketika berbuat kesalahan adalah hal biasa.

Kita akan mengalami masa mencoba-coba sesuatu yang kita sukai. Sampai kita berada di posisi menjadi orang yang berperan dan memberi syafaat untuk orang lain. Lalu kemudian akan ada transisi dari puncak itu menjadi bawah kembali. Di masa inilah, krisis kehidupan dan kegalauan itu muncul kembali.

Saya beberapa kali berbincang dengan teman-teman seusia dan yang sudah mulai menginjak kepala lima. Masing-masing dari mereka gelisah dengan masalahnya. Teman-teman seusia saya hampir kebanyakan menggelisahkan hal yang sama seperti saya. Kapan akan menikah? Kerja dulu atau lanjut pendidikan? Akan tinggal di mana? Dan lain sebagainya.

Sementara, mereka yang sudah menginjak kepala lima, mereka gelisah pada hal-hal yang sifatnya post-materi. Mereka bingung bagaimana memanfaatkan kekayaannya. Mereka bingung bagaimana memperbanyak bekal akhirat. Mereka bingung bagaimana mengisi kegiatan di hari tua. Kebanyakan saya bertemu dengan kelompok ini ketika koass karena merupakan keluarga pasien atau pasien itu sendiri.

Sementara, masa transisi itu saya alami ketika saya berusia antara 20-22 tahun. Di akhir-akhir masa kuliah, saya merasa di puncak kehidupan karena bisa berperan banyak hal, baik di kampus maupun di masyarakat sekitar. Tentu peran pada hal yang saya mampu dan kuasai. Tapi, di sisi lain, saya dibenturkan pada kenyataan dunia yang baru. Dunia sebagai koass yang menjadi batu pijakan untuk jenjang karier berikutnya. Ditambah dengan dinamika sebagai seorang suami muda dan calon ayah sekarang.

Inilah transisi yang saya maksud, dari puncak lalu menjadi terbawah lagi. Ya, mungkin seolah saya tampak lebih maju dengan menikah. Saya juga beberapa kali mengisi materi, menulis artikel, sampai melahirkan buku. Namun, di sisi lain, saya banyak tertinggal dari para suami dan ayah senior. Saya juga belum ada apa-apanya dibandingkan dengan para dokter konsultan. Saya pun dihadapkan kembali pada kegalauan soal pilihan-pilihan di masa depan.

Maka, saya mengambil pengingat bahwa saat ini, ibaratnya saya kembali pada masa kanak-kanak. Usia dua puluh empat tahun ibarat anak usia taman kanak-kanak yang memasuki interval kedua dalam hidupnya. Sebagaimana usia kanak-kanak, saya bebas untuk mencoba segala sesuatu yang menarik dan saya sukai. Saya bebas untuk membuat target dan membentuk pondasi masa depan saya untuk dua puluh tahun interval kedua.

Pola pikir inilah yang kemudian membuat saya menjadi pribadi yang lebih tenang. Karena saya tahu betul, masa depan saya akan jelas selama saya senantiasa bergerak dan berubah. Masa depan akan semakin jelas ketika kita tetap bergerak mendekatinya sesuai jalur yang kita buat. Jika jalurnya tak tampak jelas, maka cara paling realistis untuk membuatnya jelas adalah dengan berjalan mendekatinya. Kita perlu mencoba, dan mengulang jika salah atau gagal. Karena, jika saya diam menyalahkan diri sendiri, melihat penampakan kesuksesan teman-teman, iri dengan apa yang mereka raih, sibuk membandingkan dan menilai diri, maka saya akan semakin tertinggal jauh dari rombongan.

*****

Dan memang itulah yang saya rasakan menyambut usia kedua puluh empat ini. Betapa indahnya hidup sebagai seorang anak berbakti, koass, guru ngaji, suami muda, dan calon ayah di usia kanak-kanak pada Twenty Interval kedua. Perjalanan fase kedua ini tentu masih panjang. Maka, peran-peran tadi harus saya syukuri banyak-banyak agar setan tidak merasuki diri.

Dua puluh empat tahun. Dan saya berada di penghujung masa pendidikan koass. Menanti kelahiran anak pertama. Mendidik istri supaya menjadi haamilul Quran. Jika saya masih merasa sulit untuk bersyukur, maka cukuplah surat Ar-Rahmaan menjadi pengingat,

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”

Tulisan ini saya buat khusus untuk diri saya sendiri, Khoirul Fahmi, yang saat ini menginjak usia dua puluh empat tahun. Semoga ini menjadi pengingat untuk kita. Sebagai penutup dan doa keberkahan umur yang tambah, saya kutip ayat di bawah ini,

Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Surat Maryam ayat 33)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *