Rafika’s Birth Story

15 Maret 2019

“Aku tuh nggak ngerti deh sama kamu. Ini maksudnya gimana?”

Suara residen Periodontologi siang itu serasa menggebrak jantung saya. Pulsus yang awalnya sudah meningkat rasanya melonjak hingga dada terasa begitu nyeri. Saya cuma bisa diam mematung, hingga tak terasa pipi basah karena air mata tumpah.

Eh, loh? Loh? Kenapa?”

“Saya tuh lagi hamil 9 bulan, dok. Dari kemarin udah kontraksi tinggal nunggu lahiran aja.”

Oalaah, bilang dong. Kalo capek nggak usah bawa pasien dulu. Namanya juga belajar, salah kan biasa.”

“Maaf, dok. Saya ngerti, saya cuma capek aja.”

Ah, kejadiannya pasti tidak akan seperti ini, kalau pasien scaling pagi ini tidak terlambat. Janji datang jam 8, tapi baru bisa duduk di dental chair jam 9.30. Padahal sudah ada janjian dengan pasien anak jam 9. Mana si anak ini sudah ngamuk-ngamuk meneror whatsapp saya. Panik, lelah, ditambah perut yang terus-menerus kontraksi membuat saya kurang fokus mengisi rekam medis pasien. Jadilah semburan residen jaga tersebut menjadi tambahan keapesan saya pagi itu.

*****

Sejak dimarahi residen hari itu, saya tidak berani lagi membawa pasien sebelum melahirkan. Padahal sejak lama saya sudah berazzam, untuk terus berjuang menjalani koass sampai detik-detik menjelang persalinan. Tapi ternyata fisik dan mental saya tidak sekuat itu. Apalagi ditambah mulai munculnya kontraksi awal persalinan sejak tiga hari lalu, yang meski tidak terlalu mengganggu, tapi terasa begitu intens.

Somehow, kontraksi seperti ini banyak dibilang sebagai kontraksi palsu. Tapi dalam kasus saya, saya yakin betul ini bukan Braxton Hicks (kontraksi palsu) yang dimaksud orang-orang. Kontraksi yang saya rasakan sudah termasuk kontraksi awal persalinan, cuma memang belum adequate untuk masuk fase persalinan. Jadilah kemudian, saya dan Mas Fahmi berekspektasi persalinan akan segera terjadi satu atau satu dua hari setelah kontraksi itu muncul. Apalagi setelah dicek, sudah ada bukaan meski baru satu jari.

Akhirnya saya memutuskan untuk tidak ke kampus dulu, dengan ekspektasi akan melahirkan dalam waktu dekat. Jarak Hari Perkiraan Lahir memang masih lama, lebih dari 2 minggu. Tapi kondisi fisik mengisyaratkan untuk istirahat dulu.

Tidak ke kampusnya saya, somehow justru membuat saya stress. Saya sudah menyusun strategi dan memasang banyak target requirement selesai sebelum HPL. Tapi dengan adanya kondisi ini, target-target tersebut tinggallah target kosong. Hampir tidak ada satupun yang tercoret.

Apalagi setelah ditunggu satu hari, dua hari, hingga seminggu kemudian, persalinan belum juga terjadi. Stuck di bukaan 2, tanpa kemajuan kontraksi yang bagus. Padahal setiap hari saya selalu berdoa dengan berlinang air mata, supaya segera bersalin hari itu atau esok hari. Tapi doa-doa itu belum terkabul juga.

*****

16 Maret 2019

Kita punya utang apa ya sampai Allaah kasih jeda kontraksi lama gini?”

Pertanyaan itu pada akhirnya membawa kami untuk lebih jauh bermuhasabah. Kami berusaha memutar kembali memori hingga jauh ke belakang dan menyesali tiap-tiap kesalahan yang pernah kami buat. Hingga kemudian, rasanya lisan kami tidak ingin lepas dari istighfar. Karena setelah diinsyafi, sungguh tidak ada amalan yang bisa kami banggakan sedangkan dosa terasa berserakan di mana-mana.

Pertanyaan itu juga membuat kami berbenah lebih giat. Baik membenahi secara fisik dari mulai bersih-bersih, mencuci semua baju, belanja, layouting kamar, maupun berbenah diri. Yang terakhir inilah yang kemudian mendidik nalar dan ruhiyah kami.

Saya ingat, saya belum menyelesaikan membaca sirah nabawiyah dan khatam Al-Quran bulan itu. Jangan-jangan karena itulah Allaah menunda persalinan saya. Akhirnya saya kebut keduanya dalam waktu beberapa hari saja.

****
19 Maret 2019

Satu dua hari berlalu sejak saya khatam membaca sirah dan tilawah Al-Quran. Tapi bukaan belum bertambah juga, masih stuck di bukaan 2. Padahal kontraksi sudah bertambah jauh lebih kuat dan lebih intens sampai-sampai duduk pun saya kesakitan. Tidak hanya perut bagian bawah saya yang terasa kencang dan mengeras, tapi sudah menjalar sampai ke punggung dan paha.

Kami sengaja tidak langsung ke provider, karena kami tahu kalau langsung ke bidan atau rumah sakit, pasti akan ada intervensi medis. Sedangkan, kami ingin saya melahirkan pervaginam dan posisinya saat itu Mas Fahmi belum selesai rotasi klinik. Kalaupun lahir sebelum HPL, kami berencana ke provider ketika sudah masuk bukaan 4 sehingga tidak perlu menunggu lama di klinik dan tidak mengganggu koass Mas Fahmi. Kalaupun lahir ketika atau setelah HPL, itu jauh lebih baik karena HPL jatuh tepat sehari setelah Mas Fahmi menyelesaikan koassnya. Jadi pilihan kami adalah menunggu bukaan 4 atau menunggu HPL.

Karena sudah meninggalkan koass beberapa minggu tanpa kemajuan persalinan, kami berikhtiar untuk mempercepat bukaan saja supaya tidak berlama-lama menunda koass. Ikhtiar berikutnya adalah meminta maaf dan memohon doa orang-orang terdekat. Awalnya kami tidak berencana mengabari siapapun terkait proses persalinan saya. Tapi demi kelancaran proses, akhirnya kami memutuskan untuk mengabari orang-orang terdekat sekaligus meminta maaf dan minta doa.

Tapi rupanya ikhtiar ini menjadi bumerang tersendiri. Karena akhirnya kami jadi ditanyai terus-menerus kemajuan proses persalinan saya. Masih mending jika pertanyaannya begini,

“Gimana keadaannya sekarang? Udah di bidan?”

“Bukaan berapa sekarang?”

Tapi kemudian, pertanyaan-pertanyaan itu diikuti dengan cerita kemudahan persalinan oleh yang bertanya,

Kalau aku dulu prosesnya cepet kok. Bukaan 1 ke bukaan 4 ga nyampe sehari. Kok ini berhari-hari?”

“Dulu aku sih pecah ketuban langsung lahir hari itu juga.”

“Aku nggak pernah tuh ngerasain kontraksi kayak gitu.”

“Kamu ikhtiarnya kurang kali.”

Ya Allaah, rasanya seolah semesta pun ikut menghakimi proses persalinan saya yang begitu lama. Saya selalu berdoa supaya rasa sakit yang saya rasakan menjadi kafaroh atas dosa-dosa saya. Mendengar cerita-cerita itu, otomatis saya merasa saya adalah orang paling berdosa sedunia, hingga Allaah perpanjang rasa sakitnya menahan kontraksi untuk menghapus dosa-dosa saya.

Saya seolah sudah di titik terendah saya. Fisik saya terus melemah, sedangkan segala ikhtiar yang kami panjatkan belum juga menyampaikan kami untuk bertemu anak kami. Juga, anggapan bahwa dosa saya terlalu banyak sudah terpatri dalam diri. Sudah tidak ada lagi yang bisa saya lakukan kecuali pasrah dan menggarap rahmat serta maghfirah Allaah.

Satu hal yang kemudian bergeser adalah, orientasi saya atas proses persalinan ini. Tadinya saya ingin sekali segera melahirkan supaya dapat lanjut koass secepatnya. Saya seolah memaksa Allaah untuk mempercepat proses persalinan sesuai dengan kemauan saya, dan begitu takut untuk menerima proses yang lama demi tidak meninggalkan koass lama-lama.

Disitulah kemudian saya tersungkur, terisak begitu lama atas kealpaan saya. Bahwa memiliki anak berarti mendapat amanah untuk mendidiknya menjadi sebaik-baik insan. Kalau Allaah belum amanahkan juga, artinya kami belum siap untuk menanggung amanah itu. Ikhtiar lain boleh jadi sudah dipanjatkan, tapi ikhtiar terbesar yakni tawakal sama sekali belum tersentuh. Padahal Allaah sudah berfirman,

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap” – Al-Insyirah : 7-8

Ikhtiar fisik sudah, ikhtiar akal sudah, ikhtiar hati sudah, maka kemudian tinggal tawakal yang harusnya dilancarkan. Barangkali memang kami masih berpegang pada ikhtiar dan doa kami saja. Kami belum sepenuhnya ridho atas keputusan Allaah yang barangkali tidak kami sukai. Di titik itulah kemudian saya berpasrah,

“Ya Allaah aku pasrah kapan akan Kau lahirkan anak dalam kandunganku ini, tentu itu adalah waktu terbaik. Tapi mampukan dan kuatkan aku untuk menanggung setiap rasa sakit yang muncul. Jadikan rasa sakit itu menjadi kafaroh atas dosa-dosaku dan washilah kesalihan anakku. Tolong pulihkan aku dengan cepat supaya aku cepat kembali menuntut ilmu dan menyelesaikan amanahku”

Sejak saat itu, saya sudah tidak berharap untuk dapat melahirkan cepat-cepat. Allaah yang memberi saya amanah menjadi mahasiswa koass dan proses persalinan yang begitu panjang ini. Maka, hanya kepada Allaah-lah saya
menggantungkan keduanya, sekaligus menerima keduanya tanpa satupun kata tapi.

*****

31 Maret 2019

“Kayaknya adeknya nunggu aku khataman Quran bulan ini deh.”

“Emang kurang berapa?”

“Hmm, sekarang udah muroja’ah juz 26”

“Kalo gitu nanti juz 30 kita muroja’ah bareng ya.”

Hari ini adalah H-1 Hari Perkiraan Lahir, sekaligus hari terakhir rotasi klinik Mas Fahmi. Kontraksi benar-benar semakin intens dan menyakitkan tapi bukaan masih stuck di bukaan 3. Tentang apa yang akan terjadi besok, kami sudah tidak berekspektasi lagi akan ada apa.

Hari ini kami habiskan dengan quality time berdua. Jalan-jalan pagi, makan nanas, jajan di luar, jalan-jalan sore, bercanda ria, hingga akhirnya hari itu ditutup dengan muroja’ah bersama juz 30 dan membaca doa khatam Quran bersama.

Allahu Rabbi, rasanya haruuu sekali ketika muroja’ah bersama. Ayat demi ayat terasa begitu indah dan merasuk ke hati. Tak terasa bulir-bulir hangat herlinangan tanpa bisa dihentikan. Allaah, bisa jadi ini adalah kesempatan terakhirku khatam Al-Quran. Kami pasrah Yaa Allaah, kami pasrah atas apa yang akan terjadi esok hari.

*****

1 April 2019

Bangun tidur, ada yang aneh rasanya. Celana dalam terasa basah sekali tidak seperti biasanya. Saya otomatis mencari kertas lakmus untuk memastikan cairan tersebut ketuban atau bukan. Qadarullaah, kertas lakmus terakhir yang kami miliki tidak ketemu.

Yaudah ayo sekarang kita ke bidan aja.”

Jadilah pagi itu, kami berdua yang belum mandi langsung ke klinik bidan dekat rumah. Sampai di klinik, bidan jaga pagi itu menyatakan cairan yang keluar bukan ketuban. Tapi untuk memastikannya lagi, bidan senior di situ memeriksa ulang menggunakan spekulum. Kertas lakmus merah berubah menjadi warna ungu, maka hasilnya positif ketuban sudah rembes.

Saya kemudian diminta untuk bedrest selama 8 jam di klinik tersebut untuk observasi. Kalau dalam 8 jam bukaan belum bertambah, bidan akan merujuk ke rumah sakit untuk tindakan lebih lanjut.

“Kayaknya bakal dirujuk, deh”, ujar Mas Fahmi

Hm?”

“Soalnya udah 3 minggu kayak gini dan nggak ada kemajuan.”

Benar saja. Sampai sore saya bedrest, bukaan yang tadinya dicek di rumah sudah 3 malah mundur jadi 2. Sore itu juga saya diantar ke rumah sakit oleh bidan di sana.

*****

Sampai di IGD rumah sakit, dokter jaga memerika rekam jantung janin dan kontraksi rahim (CTG). Hasilnya, detak jantung janin stabil sekali, tidak bertambah atau berkurang meski kontraksi bertambah.

Mbak, kalau kayak gini kemungkinan bayinya udah lemah atau kekurangan oksigen. Pilihannya mau induksi atau SC (operasi caesar)?

Kalau induksi kemungkinan tetep lanjut SC, soalnya kondisinya kayak gini. Kontraksinya udah lama juga kan?”

Sudah kami duga akan muncul pertanyaan itu. Setelah meminta waktu untuk berdiskusi, Mas Fahmi bertanya,

“Kalo SC, Dek Zahra siap nggak?”

“Bismillaah, sejak sebelum hari ini pun aku siap dengan keadaan terburuk.”

Saat itu mendekati maghrib. Setelah kami shalat maghrib dan memanjatkan doa terbaik, kami mengutarakan pilihan kami untuk SC saja. Mungkin bagi orang awam pilihan untuk SC bukanlah pilihan terbaik. Tapi dengan pertimbangan riwayat bukaan yang macet selama 3 minggu, kemungkinan berhasilnya induksi tampak sangat kecil sekali.

Tindkan dijadwalkan dilakukan jam 22.00 dengan dokter Y, seorang muslimah berjilbab besar yang sebetulnya tidak sedang praktik hari itu. Tapi karena kami request dokter perempuan, Alhamdulillaah dokter tersebut mau melakukan tindakan.

*****

1 April 2019, menjelang tengah malam

Selamat ya mbak, bayinya 3,5 kg. Perempuan“, ujar perawat bedah di tengah-tengah operasi.

Alhamdulillaah, Alhamdulillaah, Alhamdulillaah. Akhirnya Yaa Allaah :”

Ketubannya udah mau habis ini mbak. Kalau bukaan lengkap pasti udah kering.”

Alhamdulillaah, Alhamdulillaah, Alhamdulillaah. Terimakasih Yaa Allaah Kau bimbing kami mengambil keputusan terbaik. Entah bagaimana jadinya kalau akhirnya kami memilih induksi terlebih dahulu :”

*****
2 April 2019, dini hari

“Alhamdulillaah, makasih sayang. Makasih udah berjuang dari awal sampai sekarang. Dek Zahra hebat, Dek Zahra kuat. Bismillaah, semoga Allaah mudahkan kita mengemban amanah jadi orangtua ya.”

MaasyaaAllaah, Alhamdulillaah. Jadilah kami menangis di bangsal berdua, terharu atas akhir perjuangan kami berbulan-bulan ke belakang.

Memang Allaah adalah perencana terbaik. Allaah buat kami menunggu 8 bulan setelah menikah untuk hamil. Di saat bahagia-bahagianya menunggu kelahiran, Allaah ambil kembali janin dalam rahim saya. Allaah amanahkan kembali 3 bulan kemudian. Di saat tanda-tanda lahir sudah muncul, Allaah tunda kelahiran anak kami selama lebih dari 3 minggu. Tepat di saat Mas Fahmi menyelesaikan rotasi kliniknya, dan tepat di saat saya baru memulai amanah baru sebagai koass gigi.

Selamat datang, Rafika Anisah Hafiyya. Terimakasih telah banyak mengajari kami untuk bersabar dan bertawakal, bahkan jauh sebelum lahirmu. Selamat berjuang bersama Ayah dan Bunda di jalan ilmu. Semoga Allaah kuatkan, semoga Allaah kuatkan, semoga Allaah kuatkan.

One thought to “Rafika’s Birth Story”

  1. MasyaAllah Tabarakallah mba Zahra. Semoga Allah mdhkan dlm menjalani amanah barunya. Semoga dek Rafika bs menjadi qurrota a’yun bg kedua ortunya 😊

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *