Rafika Anisah Hafiyya

Hari itu, kami berencana untuk kontrol kehamilan pada bulan ketujuh. Sesuai jadwal, kontrol kali ini, kami akan pergi ke dokter spesialis kandungan untuk melakukan USG lagi. Dua bulan sebelumnya, kami sudah kontrol ke dokter spesialis. Ketika itu, kami diberi informasi jika janin yang dikandung dalam kondisi sehat, air ketuban cukup, berat badan sesuai. Perkiraan jenis kelamin calon anak kami adalah perempuan.

Informasi terakhir tersebut membuat kami sedikit kecewa. Ya, jujur sejak awal, kami berharap anak pertama kami adalah laki-laki. Harapannya, supaya kami bisa mengajaknya untuk berjuang bersama dan kelak menjadi teladan bagi adik-adiknya. Namun, sepertinya Allaah swt berkehendak lain. Begitu pula hasil pemeriksaan USG kali ini. Lagi-lagi dokter mengatakan kemungkinan besar jenis kelamin janin adalah perempuan. Sebagai keluarga yang berlatar belakang ilmu kesehatan, kami tahu informasi tersebut memang tidak menjamin kepastian. Namun, hampir pasti selalu benar, apalagi jika posisinya janinnya bagus.

Entah kenapa, dalam kekecewaan tersebut, tiba-tiba saya teringat kisah bangsa Arab jaahiliyyah. Sejarah kelam yang menggambarkan betapa memalukannya memiliki anak perempuan. Sejarah tentang umat yang tidak memiliki penghargaan terhadap perempuan. Perempuan hanya dihargai sebagai teman tidur, pelayan rumah tangga, dan pabrik anak laki-laki.

Di sisi lain, begitu Islam datang, perempuan begitu dimuliakan. Mereka dijaga sedemikian rupa dan dididik supaya memiliki ilmu dan akhlak yang mulia. Sebagian menjadi ‘ulamaa‘, sebagian lainnya menjadi pejuang yang ikut berperang bersama Rasuulullaah saw, dan sebagian besar lainnya menjadi barisan pendukung dakwah suami dan anak-anaknya.

Jika kemudian kami masih kecewa diberi amanah anak pertama seorang perempuan, maka ini berarti mental kami belum terlepas dari mental jaahiliyyah. Tentu ini adalah sebuah kemunduran paling jauh setelah usaha kami untuk berkembang selama ini. Kita memang boleh berharap tentang sesuatu, tetapi jangan sampai harapan tersebut ditunggangi oleh nafsu yang kemudian dijadikan setan menjadi celah untuk merusak keikhlasan kita. Dan kami, baru saja gagal mengantisipasi celah ini.

Astaghfirullaah, kami pun beristighfar banyak-banyak. Sungguh, keinginan dan harapan kami membuat kami lupa bahwa yang berhak menentukan takdir terbaik adalah Dia, Allaah swt. Padahal, jika merujuk pada perkataan ‘Ali ibn Abi Thaalib ra, seharusnya kami bergembira sepuluh kali lipat karena ketentuan Allaah swt berbeda dengan harapan kami, karena itu berarti jelas sebuah jaminan hasil yang lebih baik.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Surat Al-Baqarah ayat 216).

*****

Setelah melewati proses penerimaan dan pembelajaran tersebut, akhirnya kami bisa menerima kenyataan bahwa anak pertama kami kemungkinan besar perempuan. Kami pun mulai bergegas mengejar keterlambatan persiapan penyambutannya. Kami memohon ampun atas kebodohan kami, beristighfar sebanyak mungkin, kami perbanyak sedekah, dan tambah amalan yaumiyah kembali.

Kami juga me-muraaja’ah kembali catatan kajian dan buku-buku tentang pendidikan anak perempuan. Kami mulai menghitung anggaran untuk aqiqah, biaya persalinan, dan lainnya. Tak lupa, kami juga belanja kebutuhan dan perlengkapan bayi. Kami benar-benar ingin bertemu dengan anak pertama kami dalam kondisi terbaik secara ruhiyah maupun jasadiyah.

Dalam prosesnya, alhamdulillaah betapa Allaah swt begitu baik menyemangati kami untuk lebih bersyukur. Pernah tiba-tiba ketika saya sedang koass, dokter konsulen saya bercerita tentang anak-anaknya di tengah bimbingan koass,

Anak perempuan itu menyenangkan. Beda sama anak laki-laki. Anak saya, pertama dan kedua laki-laki, itu susahnya minta ampun kalau diatur. Disuruh belajar, malah main game. Game-nya diambil langsung marah-marah. Kalau anak perempuan saya yang nomor tiga, nyenengin banget. Tiap pulang langsung lari menyambut gembira. Kalau mau berangkat, tiba-tiba udah di depan bawain sepatu saya. Nyenengin banget lah pokoknya.

Saya hanya senyum-senyum mendengarnya. Yaa Allaah, ini kenapa tiba-tiba bimbingan koass-nya jadi menyambung ke masalah pribadi. Alhamdulillaah ‘alaa kulli haal.

Atau dalam sesi yang lain, pernah juga saya sedang berada di Poli Bedah Anak bersama seorang dokter konsulen. Beliau sangat ramah dan pandai menarik perhatian anak kecil. Beliau juga bilang,

Kalau anak perempuan, biasanya akan lebih cepat berkembang kemampuan afektif dan emosinya dibanding motoriknya. Beda sama laki-laki. Jadinya, lebih menyenangkan kalau diajak bepergian, ketemu banyak orang, cepet bisa senyum dan diajak main.

Setiap kali ada kejadian seperti itu, saya selalu sharing dengan Dek Zahra supaya menambah rasa syukur kami bahwa kami dikaruniai anak perempuan. Ya, mungkin ini bagian yang menyenangkan. Tentu ada pula bagian sulit dan tidak menyenangkan memiliki anak perempuan. Toh, masing-masing anak terlepas dari jenis kelamin memiliki tantangan dan potensinya sendiri-sendiri.

*****

Hal terakhir yang kami persiapkan adalah soal nama. Ya, kami harus mengubah nama yang sudah direncanakan karena awalnya kami berharap anak laki-laki. Maka, waktu dua bulan kurang lebih menjelang lahirnya anak pertama, kami berpikir keras untuk membuat nama terbaik untuknya.

Sempat terbersit untuk memberi nama seperti kebiasaan Rasuulullaah saw dan para shahaabat-nya dengan nama satu kata saja. Nama panjangnya dinisbatkan kepada nama ayahnya. Namun, setelah kami pikir dan diskusikan, persoalan nama ini bukan semata soal pertimbangan agama saja, namun juga soal budaya masyarakat sekitar.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan kami antara lain, soal arti dari nama. Karena nama adalah doa, kami berharap bisa memberinya nama terbaik, terutama nama panggilannya, agar menjadi doa sepanjang hayat untuk anak kami. Kedua, apakah nama tersebut bully-able atau tidak. Kami tidak ingin, anak kami menjadi korban bullying karena nama yang kami berikan. Kami ingin anak kami bangga dengan namanya. Ketiga, kami mengambil namanya dari Bahasa Arab. Hal ini karena secara umum, Bahasa Arab identik dengan Islam. Sehingga, siapapun yang menyebut namanya akan tahu bahwa anak kami adalah seorang muslim. Pertimbangan terakhir, sebenarnya tidak penting. Kami ingin anak kami memiliki nama yang huruf terakhir kata pertamanya sama dengan huruf pertama kata berikutnya.

Jadilah nama anak kami adalah,

RAFIKA ANISAH HAFIYYA

Rafika berasal dari kata rafiiqah yang berarti sifat yang lembut, pasangan hidup yang setia, dan teman yang baik. Kami ingin anak kami menjadi pribadi yang penuh kelembutan, karena kelembutan adalah kunci memikat hati seseorang. Kami juga berharap dari nama Rafika, agar dia menjadi pasangan yang setia untuk suaminya kelak. Senantiasa membersamai dan mendukung dalam kebaikan di kala susah maupun senang. Kami juga berdoa, semoga dia bisa menjadi sebaik-baik sahabat bagi teman-temannya. Sahabat yang peduli dan paham bagaimana harus berbuat. Sahabat yang bisa membawa orang-orang yang berkawan dengannya bersama ke surga.

Anisah berasal dari kata aniisah yang berarti api yang menerangi, sumber kebahagiaan dan ketenangan, dan sahabat karib. Dalam sebuah syair arab dikatakan, ni’matul aniis fiz zamaani kutubun. Sebaik-baik teman sepanjang waktu adalah buku. Teman di sini diartikan dari kata aniis didefinisikan sebagai buku, karena sifat teman yang bisa menerangi, membahagiakan, menenangkan, adalah buku. Maka, kami berharap agar anak kami bisa menjadi pelita dalam kegelapan, sebagaimana menerangi hati orangtuanya yang sempat jatuh dalam ke-jaahiliyyah-an. Kami juga ingin agar ia menjadi sumber kebahagiaan dan ketenangan orang-orang di sekitarnya. Untuk itulah, kami memberinya nama yang berikutnya, yaitu hafiyya.

Hafiyya berasal dari kata hafiyyah, bentuk perempuan dari hafiyy yang berarti orang yang berwawasan luas ilmunya. Kami berdoa, semoga anak pertama kami menjadi seperti buku yang menjadi rujukan orang bertanya. Dia bisa menenangkan orang-orang bermasalah di sekitarnya dan membahagiakan mereka dengan keputusannya yang adil dan sesuai dengan ajaran Islam.

Inilah doa kami untuknya yang terkandung dalam namanya. Semoga bisa menjadi penjaga dalam dirinya, penentu takdirnya, dan terkabul seiring berjalan usianya.

*****

Satu hal lagi yang menjadi pengingat kami tentang anak pertama kami adalah hadits berikut ini,

Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang bagi orangtuanya dari siksa api neraka.” (H.R Muslim nomor 2629)

Amanah anak jelas merupakan sebuah ujian. Maka, jika disebutkan lebih jelas dalam hadits bahwa anak perempuan adalah ujian, maka berarti akan lebih berat ujian yang Allaah swt berikan.

Rafika, semoga engkau bisa menjadi penghalang bagi kami, orangtuamu, dari api neraka.

Allaahumma inni u’iidzuhaa bika wa dzurriyyatahaa min kulli ‘ainin laamatin, wa minasy syaithaanir rajiim. Allaahumma (i)j’alhaa kamaa da’aunaaka fii ismihaa, wa (i)j’alhaa min ahlil’ ilmi, wa min ahlil khairi, wa min ahlil quraani, wa min ahlika fid dunyaa wal aakhirah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *