Becoming A Coass Mom

 

Banyak orang bilang pemulihan pasca-SC perlu waktu lama. Bahkan kata mertua saya, beliau masih merasakan nyeri dan tidak enak badan hingga 6 bulan pasca SC. Saya bukan takut akan rasa sakitnya, saya hanya takut kalau harus beristirahat dan meninggalkan kegiatan koass dalam waktu yang lama. Maka, satu doa yang saya tekankan pra dan pasca SC adalah supaya Allaah pulihkan saya secepat mungkin.

Ternyata oh ternyata, sungguh betul kalau ada yang bilang pemulihan pasca SC sakit sekali. Sakit dan lama tepatnya. Hari pertama, tidur miring saja rasanya MaasyaaAllaah nikmatnya. Hari kedua, Alhamdulillaah bisa duduk. Hari ketiga, Alhamdulillaah bisa berdiri. Hari-hari selanjutnya, seolah menjadi tantangan untuk terus berdamai dengan rasa nyeri terkhusus di area jahitan dan tulang belakang meski kadang air mata seringkali gagal terbendung saking nyerinya.

Apalagi, sejak awal kami memutuskan untuk mengurus semuanya berdua saja, tanpa dibantu orangtua. Orangtua kami hanya datang sesekali dan lebih seperti tamu. Urusan bayi, urusan cuci-mencuci, urusan makan, urusan administrasi, urusan menjamu tamu, hampir seluruhnya kami tangani berdua. Saya bagian yang ringan-ringan karena fisik yang masih lemah, sedangkan Mas Fahmi menangani hal-hal yang lebih butuh kekuatan dan banyak bergerak.

Allaah rupanya kabulkan doa saya melalui cara yang tidak saya sangka. Rupanya “pemulihan” itu tidak lantas kemudian Allaah cabut rasa sakitnya, bukan. Keadaanlah yang akhirnya membuat saya abai pada tiap-tiap rasa sakit yang muncul.

*****

Hari ketujuh kelahiran Rafika, saya harus mengurus ATM yang hilang di sekitar kampus. Jadilah dengan setengah kesakitan, saya urus sendirian ATM tersebut naik motor. Alhamdulillaah, lulus juga saya atas tantangan naik motor ini. Kelulusan saya membuat kami ingin segera naik kelas ke tahap selanjutnya.

Hari kesepuluh, kami beranikan diri untuk mulai masuk koass. Definisi masuk koass pasca melahirkan adalah, kami bertiga (saya, Mas Fahmi dan Rafika) berangkat ke kampus bersama. Karena sedang tidak ada mobil Abah yang bisa dipinjam, jadilah kami Beranikan diri naik motor bertiga.

*****

Kenapa harus bertiga? Alasan utamanya adalah karena Rafika adalah amanah yang Allaah titipkan pada kami, dan kami ingin menjaga amanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Supaya kemudian, di hari pengadilan kelak, kami dapat mempertanggungjawabkan amanah tersebut.

Banyak yang bertanya pada kami, “emang kalian nggak punya orangtua?”. Allahu Rabbi, sedih juga ditanya begitu. Bukan sedih karena orangtua kami tidak bisa dititipi, bukan. Kami sedih karena masih banyak orang yang beranggapan bahwa menitipkan anak ke orangtua untuk bekerja atau sekolah adalah lumrah. Padahal yang akan bertanggung jawab atas pengasuhan seorang anak adalah orangtuanya, bukan kakek dan neneknya.

Lebih jauh, kami ingin menjadi sebaik-baik madrasah pertama untuk anak-anak kami. Kami ingin sekali mengajarkan sendiri skill dasar, penanaman tauhid, dan Al-Quran karena disitulah pundi-pundi amal jariyah untuk kami. Kami ingin mengajarkan sendiri anak-anak kami tengkurap, berdiri, berjalan, berbicara, membaca, mengenal Allaah, mengenal Rasulullah, membaca Al-Quran dan sederet skill dan ilmu lainnya. Kalau kemudian, skill dan ilmu tersebut diajarkan oleh orang lain, tentu kami akan menjadi orang yang rugi karena pundi-pundi pahala yang begitu besar tidak masuk dalam buku amal kami.

*****

Alasan kedua adalah, karena Allaah perintahkan seorang Ibu untuk menyusui anaknya selama dua tahun. Barangkali bisa saja saya memerah ASI dan Mas Fahmi tinggal meminumkannya di rumah. Tapi memberikan ASI Perah bukanlah prioritas kami, selama masih bisa menyusui secara langsung. Karena ketika Allaah sudah perintahkan, pasti ada hikmah yang luar biasa besar dibaliknya. Kami tidak ingin kehilangan sedikitpun hikmah yang Allaah siapkan tersebut selama kami masih bisa mengupayakannya.

Alasan ketiga adalah, sedini mungkin, kami ingin melibatkan anak-anak kami dalam perjuangan orangtuanya. Mimpi kami begitu besar untuk kehidupan ummat kelak. Perlu estafet perjuangan yang tiada putus untuk kemudian dapat mewujudkan mimpi-mimpi tersebut. Kami tidak ingin perjuangan berhenti di kami. Perjuangan harus terus berlangsung sampai generasi seterusnya. Mengajak Rafika koass, adalah salah satu ikhtiar kami untuk mendidiknya menjadi seorang pejuang yang mencintai ilmu.

*****

Kalau ditanya, “Berat nggak koass bawa bayi?”. Tentu jawabannya adalah iya. Tapi kemudian, yang berat bukanlah effortnya, bukan pula menanggung lelahnya. Karena sejatinya kedua hal tersebut Allaah hadirkan supaya kita senantiasa bergantung pada Allaah. Kalau manusia terus diberi mudah tanpa lelah, tentu akan mudah lupa pada pencipta-Nya.

Sejatinya yang berat adalah keikhlasannya. Walaupun sudah sejak awal mengatur niat, terkadang masih ada saja rasa ingin mengeluh, rasa ingin berhenti, dan bahkan rasa ingin melarikan diri. Memang ya, perkara hati ini berbolak-balik tanpa bisa ditebak. Kalau sudah begini, hanya istighfar yang kemudian dapat mengusir penyakit-penyakit tersebut. Setelahnya, cuma bisa berdoa,

“Ya Allaah, saksikan. Saksikan bahwa kami sedang berlelah-lelah di jalan-Mu. Tambah kesabaran kami, tambah rasa syukur kami, tambah keikhlasan kami…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *