Ayah 24 Jam

Assalaamu’alaikum, Kak Rafika. Ayah pulang, bawa berita gembira buat Kak Rafika. Ayah sekarang bisa jadi ayah 24 jam untuk Kak Rafika.

Saya pulang dari kampus dengan perasaan bahagia penuh haru. Ya, untuk pertama kalinya, saya merasa begitu bebas dari semua ikatan dan aturan akademik dunia per-koass-an. Dan ini berarti, saya bisa fokus menjadi ayah 24 jam untuk Kak Rafika. Sebuah kenikmatan yang Allaah swt berikan saya kesempatan untuk mendapatkannya.

*****

Setelah Rafika lahir, kami memang berencana untuk langsung aktif kembali agar segera menuntaskan amanah belajar kami. Rencananya, saya dan Dek Zahra akan bergantian menyesuaikan jadwal agar tetap bisa mengasuh Rafika. Hal ini, mengingat saya sudah selesai koass dan tinggal bimbingan untuk ujian akhir, dan jadwal koass Dek Zahra juga tidak terlalu padat.

Namun, ternyata Allaah swt berkehendak lain. Jadwal bimbingan saya mengharuskan untuk masuk setiap hari dan bersifat wajib. Jika tidak mengikuti bimbingan, maka tidak diperbolehkan mengikuti ujian akhir. Sebuah ikhtiar dari pihak kampus untuk memastikan kelulusan mahasiswanya dan menjaga kualitas kampus, begitu kata admin dari Kantor Program Studi. Beliau juga menambahkan, jika saya tidak ikut ujian akhir periode ini, maka saya tetap dianggap ikut ujian tapi tidak lulus. Kesimpulannya, saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti bimbingan dan ujian akhir periode ini.

Saya tidak mau menyerah begitu saja. Saya yakin pasti ada jalan tengah yang akan menjadi win-win solution baik untuk saya maupun kampus. Maka, saya dengan sedikit memaksa, menjelaskan kepada admin tersebut tentang perbandingan untung-rugi terkait masalah ini.

Opsi pertama, saya ikut bimbingan dan ujian akhir. Maka, saya tetap memiliki kemungkinan antara lulus atau tidak. Dengan catatan kemungkinan lulus akan lebih besar mengingat saya sudah siap ujian karena bimbingan yang diberikan kampus. Namun, opsi ini jelas tidak bisa saya pilih karena saya harus bergantian mengasuh Rafika dengan Dek Zahra. Meski begitu, kampus sangat yakin ini opsi terbaik.

Opsi kedua, saya tidak ikut bimbingan, atau ikut bimbingan semampunya, sehingga saya tidak ikut ujian akhir periode ini dan menunda ke periode berikutnya karena tidak memenuhi syarat, yaitu kewajiban ikut bimbingan. Akibatnya, saya dianggap ikut ujian dan otomatis tidak lulus, sehingga akan memperbesar presentase mahasiswa yang tidak lulus ujian. Tentu, baik saya maupun kampus akan dirugikan.

Opsi ketiga, saya tidak ikut bimbingan, atau ikut bimbingan semampunya, namun saya diizinkan untuk mengikuti ujian akhir. Dalam opsi ini, saya memiliki kemungkinan untuk lulus walaupun tidak sebesar opsi satu. Opsi ini menurut saya terbaik, tapi tidak menurut kampus karena kemungkinan lulusnya tidak meyakinkan.

Setelah saya jelaskan opsi-opsi di atas, ternyata admin Kantor Program Studi masih tetap tidak mau tahu. Akhirnya, saya mengambil jalan terakhir yang legal. Saya meminta beliau untuk membuat janji dengan Ibu Dekan Fakultas agar saya bisa berbicara dengan beliau langsung sebagai penanggungjawab. Saya yakin,

Setiap manusia punya hati, yang bisa lebih fleksibel dalam menyikapi sebuah aturan yang baku.

Sayangnya, birokrasi membuat saya harus menunggu lebih lama karena saya harus mengajukan surat terlebih dahulu.

Esoknya, saya mencoba menghubungi salah satu admin Kantor Program Studi yang lain. Kebetulan kami kenal dekat, sering diskusi dan mengobrol hangat saat di masjid. Saya pun meminta bantuan beliau untuk mempertemukan dengan Dekan Fakultas. Dan voila, tanpa harus surat-menyurat dan menunggu lama, saya bertemu dengan Dekan Fakultas hari itu juga.

Saya pun akhirnya mengonsultasikan kondisi saya kepada beliau. Dari informasi yang saya jelaskan, beliau merekomendasikan saya untuk menunda ujian akhir ke periode yang berikutnya. Jaraknya kurang lebih sekitar tiga sampai empat bulan. Ketika saya ceritakan keterangan dari admin hari sebelumnya, beliau menjelaskan bahwa kondisi tersebut berlaku jika mahasiswa sudah didaftarkan ke panitia nasional. Jika belum, maka tinggal membuat surat pengunduran diri dari ujian akhir periode ini kepada beliau selaku Ketua Program Studi. Nantinya, beliau yang akan mengurus sehingga saya tidak didaftarkan sebagai peserta ujian.

Memang, sesuai dengan informasi yang beredar sebelumnya, seharusnya hari itu sudah penutupan pendaftaran peserta ujian akhir nasional. Namun, entah kenapa sampai hari ketika saya bertemu dengan Dekan Fakultas, pendaftaran ujian akhir belum dibuka. Ya, mungkin rezeki anakmu, kata Ibu Denny, selaku Dekan Fakultas. Dan mungkin memang benar, karena ternyata pembukaan pendaftaran baru dibuka hari setelah saya diskusi dengan Dekan Fakultas tersebut. Allaahu akbar!

Saya begitu bersyukur hari itu, bertemu dengan Ibu Dekan Fakultas. Beliau malah memberikan banyak nasehat dan saran terkait menjadi ayah dan bunda baru. Beliau mendukung penuh dan berjanji akan membantu semampunya agar saya bisa menyelesaikan studi dengan baik. Sungguh, nasehat dari pengalaman beliau sangat membantu saya dan Dek Zahra dalam beradaptasi.

*****

Menjadi ayah 24 jam, tentu tidak banyak laki-laki yang memilihnya. Sebagai laki-laki, kebanyakan berusaha untuk meneruskan jenjang karir, baik itu pendidikan maupun pekerjaan. Hal ini karena berkaitan dengan ikhtiar mereka sebagai kepala keluarga yang harus menafkahi dan mengelola keluarganya.

Saya, mengambil keputusan untuk menjadi ayah 24 jam bagi Rafika selama Dek Zahra koass, juga mempertimbangkan hal tersebut. Konsekuensinya, saya akan menunda kelulusan sebagai dokter. Akibatnya, internship-nya harus molor sampai Dek Zahra selesai koass. Pastinya, akan banyak tertinggal dari teman-teman seangkatan lainnya.

Banyak orang yang menyayangkan keputusan tersebut. Mulai dari keluarga, teman-teman, hingga tetangga. Meski begitu, saya tetap mengambil pilihan tersebut. Karena pilihan tersebut adalah bentuk komitmen saya, untuk memberikan kesempatan kepada Dek Zahra menyelesaikan dan kelak melanjutkan studi maupun profesinya. Di sisi lain, saya juga harus berkomitmen bahwa keluarga adalah yang utama. Inilah komitmen yang sama-sama kami sepakati bersama di awal menikah.

Konsekuensi dari komitmen tersebut, sudah pasti kami akan tertinggal karena lebih lambat berjalan dan berproses. Kami sudah siap dengan pilihan tersebut. Kami tidak sampai hati untuk menitipkan pengasuhan Rafika kepada pembantu atau asisten rumah tangga. Kami ingin mengasuhnya langsung, menanamkan nilai-nilai keimanan ke dalam dirinya, dan membersamai proses tumbuh kembangnya.

*****

Dan begitulah kemungkinan hari-hari kami berjalan sampai minimal setahun ke depan. Saya akan menjadi ayah 24 jam bagi Rafika yang mengasuh dan menjaganya selama Dek Zahra koass. Saya begitu bersyukur dengan kondisi ini karena saya begitu merasakan ikatan kekeluargaan dan kebersamaan kami semakin kuat. Saya pun juga mendapatkan kebebasan untuk melakukan hal-hal yang saya sukai untuk mengisi waktu bersama Rafika.

Yaa Allaah, sungguh anak dan keturunan adalah amanah dari-Mu yang menjadi ujian keimanan kami. Sementara, dalam hadits nabi-Mu, beliau bersabda bahwa anak perempuan sendiri adalah ujian. Maka, berilah kekuatan dan petunjuk kepada kami dalam mendidik dan mengasuh Rafika, dan bantu kami untuk menjaganya, agar kelak Engkau berkenan menjadikannya alatmu untuk menegakkan dan mendakwahkan agama-Mu di muka bumi ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *