Identitas Perempuan

Salah satu hal yang kami sepakati ketika Rafika lahir adalah, kami tidak akan membuatkan lubang di daun telinganya sebagai tempat anting dan sejenisnya alias tindik. Sebuah kesepakatan sederhana bagi kami namun menjadi heboh karena banyak keluarga besar yang menanyakan alasannya. Bahkan, ada yang mengatakan kalau tidak ditindik, nanti bisa jadi tomboi kalau sudah besar.

Tapi kami tetap bergeming. Pilihan sudah dibuat dan prinsip tidak boleh dilanggar kecuali alasan syariat. Begitulah kami membangun nilai dalam keluarga. Dan sejauh yang kami pelajari, hukum menindik telinga paling kuat adalah mubah, bukan sunnah apalagi fardlu.

Alasan utama kami untuk tidak menindik telinga Rafika adalah karena kami ingin mengajarkan kepadanya kelak tentang dua hal. Pertama, adalah soal identitas perempuan, dalam hal ini adalah hijab. Di manapun, perempuan adalah makhluk yang mahjuub, harus tertutup dan terlindungi. Dan dalam ketertutupannya tersebut, perempuan akan terjaga kehormatannya dalam setiap aktivitasnya. Menjadi apapun kelak, selama Rafika menutup dan melindungi tubuhnya, maka dia akan terhormat sebagai perempuan seutuhnya.

Inilah mengapa setiap kali ada yang menyatakan bahwa bayi perempuan ditindik supaya jelas identitasnya, kami membalas dengan argumen tersebut. Identitas perempuan adalah hijabnya. Fitrah perempuan ada di dunia sebagai makhluk yang terjaga dan terlindungi. Untuk tujuan tersebut, perempuan harus senantiasa tertutup ketika di luar atau menetap di dalam rumah.

Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allaah swt adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat Al-Ahzab ayat 59)

Ayat di atas dengan jelas mengajarkan kepada kita tentang syariat hijab dan tujuannya bagi perempuan yang beriman. Jilbab dikenakan untuk menutupi seluruh tubuh, tidak membentuk lekuk tubuh. Kemudian, dijelaskan pula tujuan penggunaan jilbab ada dua hal. Pertama, yaitu supaya perempuan mudah dikenal, yang bisa diartikan bahwa jilbab adalah identitas khas perempuan. Kedua, supaya perempuan terjaga kehormatannya dan tidak diganggu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, baik di luar maupun di dalam rumah.

Inilah pelajaran penting yang hendak kami ajarkan kepada Rafika kelak. Tentu, menjelaskan perkara ini jauh lebih mudah dan bermanfaat dibanding kami harus menjelaskan alasan mengapa ia harus ditindik. Dan satu hal yang hendak kami ajarkan pula kelak adalah, bahwa esensi dari berhijab adalah untuk menutup. Sehingga, tidak pantas kemudian hijab dijadikan sebagai tontonan di muka umum dan menarik banyak orang. Karena hal tersebut jelas menyalahi nilai hijab itu sendiri.

Alasan kedua, kami ingin mengajarkan Rafika bahwa perhiasan terbaik adalah akhlak yang mulia dan pakaian terbaik adalah pakaian taqwa. Jika alasan membuat tindik adalah agar kelak ia bisa berhias dan tampil cantik, maka kami ingin memahamkan dirinya bahwa sebaik-baik perhiasan di dunia adalah akhlak mulia yang ada dalam dirinya.

Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allaah swt, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (Surat Al-A’raaf ayat 26)

Sekali lagi, Allaah swt mengajarkan kepada manusia, bahwa tujuan diciptakannya pakaian adalah menutup aurat. Maka, jika kemudian pakaian yang kita pakai masih menampakkan aurat, membentuk lekuk tubuh, sesungguhnya kain yang menempel di tubuh kita tersebut tidak layak disebut sebagai pakaian. Karena secara fungsi dasar dan nilai yang ada dari sebuah pakaian tidak terpenuhi.

Dalam ayat di atas pula, sebenarnya Allaah swt juga mengajarkan bahwa pakaian yang indah, menarik, berwarna cerah, memang diciptakan untuk berhias. Hal ini karena sifat dari pakaian tersebut yang menarik setiap orang yang memandangnya. Namun, Allaah swt langsung mengajarkan hal penting berikutnya, bahwa sebaik-baik pakaian adalah ketaqwaan kepada Allaah swt. Sehingga, tidak bernilai lagi seluruh pakaian indah dan menarik di hadapan Allaah swt jika pemakainya tidak bertaqwa kepada-Nya.

Rasuulullaah saw juga menguatkan firman Allaah swt di atas. Dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar ra, beliau saw bersabda,

Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.” (H.R. Muslim)

Kami ingin mengantisipasi agar Rafika tumbuh menjadi orang yang tidak menghabiskan waktu dan uang untuk berhias. Penampilan memang harus rapi dan enak dipandang, namun tidak harus berlebihan. Waktu dan uang akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk beramal shalih atau bercengkrama menuntut ilmu.

Semoga Rafika tumbuh dalam penjagaan dan lingkungan yang baik, berkembang menjadi sebaik-baik perhiasan dunia, dan terlindung dalam hijab kehormatan dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *