Harga Menjadi Orangtua

Sejak memutuskan untuk menjadi ayah dua puluh empat jam bagi Rafika, banyak hal yang berubah dalam hidup saya. Mulai dari soal prioritas, jadwal harian, sampai milestone yang saya buat. Ini kali kedua saya mengubah life plan dan milestone kehidupan untuk menyesuaikan kondisi. Yang pertama, ketika saya “mendadak” menikah.

Sebenarnya sebelum Rafika lahir, saya dan Dek Zahra sudah mempersiapkan sedemikian rupa menyambut kelahirannya. Barang-barang yang perlu dibeli dimasukkan dalam wishlist lalu dipilih sesuai prioritas agar sesuai dengan saldo yang kami alokasikan. Pekerjaan dan tanggungan yang belum selesai dimaksimalkan agar selesai sebelum Rafika lahir. Bahkan, sampai jadwal harian dan pembagian tugas pasca Rafika lahir sudah kami rencanakan.

Hal tersebut kami lakukan sebagai ikhtiar untuk menyambut Rafika dalam kondisi terbaik. Mengingat hari-hari menjelang kelahiran Rafika, tanda-tanda persalinan seolah tak kunjung muncul. Kami berharap dengan ikhtiar tersebut, Rafika bisa segera lahir dan penantian kami berganti dengan tanggung jawab.

*****

Namun kenyataannya, ketika Rafika lahir, semuanya menjadi berantakan. Jadwal yang kami susun sebelumnya kacau. Pembagian tugas tidak lagi berlaku, siapa yang mampu dan masih ada tenaga, dialah yang mengambil tanggung jawab. Segalanya serba heboh dan chaos. Keadaan ini berjalan kurang lebih sampai dua minggu lamanya.

Kami tak lagi bisa meluangkan waktu untuk menulis. Waktu bersama Al-Quran untuk ziyadah maupun muroja’ah pun sebisanya. Dan yang paling kami khawatirkan adalah berantakannya amalan yaumiyah yang sudah kami jalankan selama ini. Ya, mungkin ini bagian dari risiko yang tidak kami perhitungkan ketika memutuskan untuk tinggal sendiri bertiga pasca persalinan Dek Zahra.

Mungkin terkesan lebay, tapi begitulah yang kami alami. Waktu itu, hampir setiap jam Rafika bangun, entah karena ingin minum ASI, gumoh, kolik perutnya, atau karena BAK dan BAB. Kami pun bergantian siaga untuk membantu Rafika agar tenang kembali. Entah berkah atau musibah, kami tinggal sendiri hanya bertiga, sehingga kami bisa mengatur segalanya sesuai sistem dan preferensi kami. Tidak ada intervensi dari orangtua. Sehingga kami cukup nyaman meski banyak kurang maksimal karena belum berpengalaman.

Dua minggu berjalan, kami mulai mendapatkan polanya. Kapan Rafika lapar, kapan Rafika akan BAB, apa tanda kalau dia tidak nyaman, dan seterusnya. Kami pun mulai menyusun ulang jadwal harian. Kapan harus mencuci, melipat baju, membersihkan rumah, hingga keluar untuk belanja. Dan, alhamdulillaah, sampai hari ini kami terus belajar lifehack dan pola kehidupan Rafika yang berubah seiring perkembangannya.

Kami juga belajar bagaimana memberikan treatment untuk Rafika supaya nyaman dan tentang. Mulai dari digendong tegak, digendong tengkurap, dibacakan Al-Quran, diperdengarkan dzikir dan shalawat, dan segala macam treatment lainnya. Ya, banyak sekali hal yang kami pelajari khusus untuk Rafika, baik dari buku, pengalaman orangtua, cerita teman, dan lainnya. Itupun kami pilih dan dibuat custom untuk Rafika.

*****

Dua minggu pertama kelahiran Rafika, benar-benar mengajari kami tentang harga menjadi orangtua. Ya, setiap kali saya kelelahan menggendong, punggung saya sakit saat mencuci popok, saya jadi lebih banyak ber-istighfaar atas semua dosa saya terhadap orangtua. Betapa mahal harga menjadi orangtua bagi seorang anak. Cinta orangtua terhadap anak akan menuntut pengorbanan seluruh aspek kehidupannya. Mulai dari pekerjaannya, karirnya, waktunya, sampai perhatiannya. Itulah harga yang harus dibayar sebagai orangtua.

Saya kadang menangis ketika sedang sangat lelah. Ya, saya menangisi betapa teganya saya membantah orangtua. Betapa beraninya saya menyakiti hati orang yang dulu melakukan hal yang saat ini saya lakukan. Saya menangis karena membayangkan bagaimana sakit hatinya Bapak dan Ibu ketika saya marah atau tidak taat pada mereka. Astaghfirullaah.

Pantas sekali!

Pantaslah jika Al-Quran yang merupakan kalaamullaah mengatakan,

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau keduanya sampai pada usia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Surat Al-Isra’ ayat 23).

Lihatlah bagaimana Allaah swt dengan jelas mengingatkan kita tentang cara bergaul dengan orangtua. Bahkan, sekedar membantah dengan kata “ah” saja sudah cukup akan menyinggung perasaan orangtua. Apalagi jika kemudian membentak dan memarahinya. Dan saking pentingnya perintah berbuat baik kepada kedua orangtua itu, Allaah swt meletakkannya tepat setelah perintah untuk ber-tauhid kepada Allaah swt.

Meski begitu, bagaimana pun mulianya orangtua, mereka tentu pernah salah. Dan ketika orangtua salah, wajib bagi kita untuk mengingatkannya, bukan malah menjerumuskannya. Maka, perhatikanlah bagaimana Allaah swt mengajarkan adab untuk mengingatkan orangtua yang salah di akhir ayat di atas dan ayat berikutnya.

Pertama, yaitu mengingatkan dengan perkataan yang mulia. Dalam arti, puji terlebih dahulu pendapat atau tindakan orangtua kita. Besarkan hatinya terlebih dahulu. Baru kemudian kita berikan contoh atau pilihan lain yang lebih baik dan tepat untuk dilakukan.

Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.” (Surat Al-Isra’ ayat 24)

Dan seluruh tahapan perkataan yang mulia di atas harus dilakukan dengan cara yang rendah diri. Ingat! Tidak cukup rendah hati di hadapan orangtua, tapi harus rendah diri. Posisi kita terhadap orangtua harus lebih rendah. Seperti misalnya seorang budak terhadap tuannya, seorang karyawan terhadap majikannya, seorang tentara kepada jenderalnya, dan seterusnya.

Dan jika nasehat serta peringatan yang kita sampaikan tidak digubris oleh orangtua, kita tak bisa memaksa mereka. Ingatlah posisi kita yang harus lebih rendah. Maka, adab yang diajarkan oleh Allaah swt ketika kita bertemu dengan kondisi ini adalah mendoakan mereka seperti yang diajarkan oleh Allaah swt di akhir ayat di atas,

Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku sewaktu kecil.

Satu hal penting lagi yang Allaah swt ajarkan kepada kita tentang adab bergaul dengan orangtua adalah, tidak boleh kita membenci, marah, ataupun kesal dengan keputusan orangtua. Allaah swt yang Maha Lembut telah memfirmankan peringatannya,

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.” (Surat Al-Isra’ ayat 25).

Seluruh tindakan kita terhadap orangtua tidak boleh ada benci atau kesal sedikitpun. Karena sewaktu kecil, orangtua tidak pernah kesal ataupun membenci kita meski kita sering menyulitkan mereka, membuat mereka sakit, bahkan mempermalukan mereka.

Perhatikan bagaimana lembutnya Allaah swt mengingatkan kita, Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Mungkin di depan orangtua, kita tetap taat, kita tetap tersenyum. Tapi, begitu di dalam hati kita ada wajah yang berbeda, misalnya kesal, nggerundel, marah, dan lainnya, maka ridho Allaah swt tidak akan sampai pada kita.

Dan adab yang Allaah swt ajarkan kepada kita tentang bergaul dengan orangtua ini ditutup dengan ajakan untuk banyak-banyak memaafkan kesalahan orangtua agar kita tidak mudah menyimpan kesal dan amarah di dalam hati. Kenapa? Karena sebanyak apapun dosa dan kesalahan orangtua kepada kita, masih lebih banyak dosa dan kesalahan kita kepada Allaah swt. Dan bergaul dengan cara yang terbaik terhadap orangtua adalah sumber ampunan dosa kita dari Allaah swt.

Dan sepertinya, itulah yang hendak disampaikan oleh Rasuulullaah saw dalam hadits-nya berikut ini,

Celaka orang itu, celaka orang itu, celaka orang itu!” Para sahabat lalu bertanya, “Wahai Rasuulullaah, siapakah yang engkau maksud?” Rasuulullaah saw menjawab, “Orang yang celaka adalah orang yang mendapati kedua orangtuanya masih hidup, atau salah satu darinya, tapi dia masuk neraka (karenanya).

Allaahumma (i)ghfirlanaa wa liwaalidainaa wa (i)rhamhum kamaa rabbaunaa sighaaraa. Semoga kita bisa beradab yang baik terhadap setiap orangtua kita, yang padanya tertawan keridhaan dan rahmat Allaah swt untuk kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *