Ketika Bunda Meninggalkan Rumah

“Koass kok kayak gitu sih? Gimana tanggungjawabnya sebagai ibu? Kalau gitu caranya nggak usah koass aja!”

Sore itu pecah. Pecah oleh suara Mas Fahmi yang meninggi, dan pecah oleh isak tangis saya yang tidak bisa berhenti. Sungguh sore yang buruk. Yang tidak pernah saya bayangkan akan menjadi seperti demikian.

Masalahnya barangkali sepele. Karena saya pulang lebih lambat dari yang saya janjikan. Bukan karena lalai, tapi karena menunggu dosen yang tak kunjung datang. Yang bahkan ketika sudah ditunggu berjam-jam, beliau meminta kami untuk reschedule jadwal diskusi. Padahal kami sudah standby di depan ruangan tanpa berani pergi sebentar untuk sekedar makan siang atau buang air ke kamar kecil.

Ya, masalahnya barangkali sepele. Tapi keterlambatan saya tidak hanya mengakibatkan Rafika kelaparan dan rewel, melainkan juga membuat Mas Fahmi terpaksa mengakhirkan shalat Ashar karena sibuk menenangkan Rafika. Dan parahnya lagi, saya pulang bersamaan dengan adzan Maghrib sehingga Ashar pun begitu saja terlewat.

*****

Pernah teman bertanya, dengan keadaan kami yang terbalik begini (saya yang pergi, suami yang di rumah), tidakkah kami sering bertengkar? Ah, kejadian seperti di atas nyatanya tidak hanya terjadi sekali dua kali. Meski tidak pula dapat dikatakan sering. Beberapa kali konflik terjadi karena kesibukan saya di luar rumah terkadang menjadikan waktu saya di rumah berkurang kuantitas maupun kualitasnya. Apalagi dengan keadaan Rafika yang hanya dapat minum ASIP paling banyak 200cc dalam 8 jam (normalnya minimal 500 cc) sehingga saya tidak bisa lama di luar.

Tapi nyatanya konflik-konflik yang ada justru membuat kami berbenah. Di awal dulu, kami sudah bersepakat untuk marah hanya pada hal-hal yang melanggar syariat. Misal marah karena terlambat shalat, marah karena kurang menutup aurat, marah karena kurang amanah, dan lainnya. Konflik yang menyangkut syariat justru adalah hal yang baik. Karena melalui konflik itulah kami terus belajar untuk senantiasa taat pada Allaah SWT.

Termasuk pula konflik karena kondisi terbalik kami. Mas Fahmi tidak pernah marah hanya karena harus menjaga Rafika dan mengerjakan pekerjaan domestik yang idealnya istri kerjakan. Karena kami sudah menyadari sejak awal, bahwa dalam keluarga, ketika yang satu maju, yang lainnya haruslah dapat menjadi sebaik-baik supporting system. Artinya, ketika saya koass, Mas Fahmi harus dapat membantu mengurus rumah.

Konflik yang hadir seringkali adalah karena saya belum dapat memenuhi amanah saya sebagai ibu dengan sebaik-baiknya, terutama dalam hal menyusui. Usia Rafika masih tiga bulan, masih ASI eksklusif. Dan Qadarullaah ia tidak suka minum ASI perah. Sehingga ketika saya pergi lama dan meninggalkan Rafika dalam kondisi kehausan, artinya saya meninggalkan generasi yang lemah, yang Allaah peringatkan dalam An-Nisa ayat 9,

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

*****

Somehow, setelah menikah, prioritas teratas bukan lagi pendidikan, karier, atau bahkan pengabdian. Prioritas teratas mestilah keluarga. Sehingga prioritas lainnya mestinya disesuaikan dengan kondisi keluarga. Seperti keadaan kami saat ini. Meskipun saya sedang sibuk di kampus, kalau Rafika rewel dan sudah tidak bisa dibujuk untuk minum ASI Perah, maka saya harus pulang saat itu juga.

Dengan kondisi yang demikian, tidak heran bila kemudian banyak orangtua yang mensyaratkan lulus kuliah dulu sebelum menikah. Tidak salah memang, tapi tidak mesti begitu. Kalau siap dengan segala konsekuensinya, mengapa tidak? Disinilah pentingnya persiapan pra-nikah. Harus paham betul hak dan kewajiban suami-istri, pembagian peran, kesepakatan finansial, rencana jangka pendek dan jangka panjang, serta persiapan lainnya. Supaya kemudian, tidak ada amanah dan hak adami yang kita dzalimi.

Hampir sama keadaannya dengan lanjut sekolah atau berkarya di luar (saya tidak bilang bekerja). Semua sah-sah saja. Mas Fahmi pun mendorong saya untuk lanjut sekolah dan berkontribusi untuk ummat. Tapi jangan sampai kemudian, kedua hal ini mengganggu amanah di rumah.

Sehingga ketika ditanya,

Apakah berkeluarga mengganggu kuliah atau karier kita?”

Jangan jawab ya atau tidak. Tapi luruskan dengan pertanyaan begini,

“Apakah kuliah dan karier mengganggu keluarga kita?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *