Menitipkan Amanah

Mi, Bapak-Ibu memasukkan kamu ke pondok bukan karena tidak sayang. Tapi, karena saat ini, Bapak dan Ibu tidak bisa maksimal mengasuh dan memberi kasih sayang. Jadi, untuk sementara waktu, kamu dititipkan dulu di sini. Bapak-Ibu yakin kamu akan dikasihi dan disayangi, karena Bapak-Ibu menitipkan kamu kepada Allaah swt yang Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi.”

Kurang lebih begitulah kalimat yang disampaikan Bapak dan Ibu ketika akan meninggalkan saya di pondok pesantren dulu. Usia saya saat itu belum genap enam tahun. Saya harus menyusul kakak saya melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Tahfidz Anak-Anak Yanbu’ul Quran di Kudus.

Ini bukan kali pertama saya harus tinggal berpisah dari orangtua. Sebelumnya, saya sudah sering tinggal di Tempat Penitipan Anak di dekat tempat kuliah Ibu, yaitu Universitas Negeri Sebelas Maret. Sebuah hal yang maklum, mengingat saya dan kakak saya lahir ketika Ibu saya masih menjalani koass. Dan, ketika sumpah dokter, Ibu sedang hamil tua adik saya yang nomor tiga. Sementara, Bapak saya ketika itu sedang menempuh studi magister jurusan agama Islam di Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kondisi di atas yang membuat orangtua saya harus berjibaku untuk merawat kami, anak-anaknya. Seingat saya, kakak saya dititipkan kepada kakek dan nenek. Saya dititipkan di Tempat Penitipan Anak. Sementara, adik saya diasuh bergantian, antara dibawa Ibu atau Bapak ke kampus, atau dititipkan kepada asisten rumah tangga.

Cerita di atas sekilas hanya menjadi sejarah dalam kehidupan saya. Namun nyatanya, bayangan tentang bagaimana tempat saya dititipkan, tentang dinamika kehidupan keluarga saya saat itu, sangat membekas dan memberi pelajaran bagi saya. Pelajaran paling pentingnya adalah soal pentingnya amanah pendidikan dan pengasuhan anak.

*****

Setelah Rafika lahir, banyak yang menanyakan kepada kami, tentang bagaimana rencana kami ke depan. Hal ini mengingat, saya dan Dek Zahra, sama-sama sedang dalam masa studi. Siapakah yang harus mengalah untuk menjaga Rafika? Apakah Rafika akan dititipkan? Bagaimana melanjutkan studi setelah Rafika lahir? Dan pertanyaan seterusnya.

Pada prinsipnya, kami yakin betul bahwa amanah tidak pernah salah memilih pundak. Jelas sekali Allaah swt menyatakan,

Tidaklah kami bebankan amanah kepada seseorang, melainkan sesuai dengan kemampuannya…” (Surat Al-Baqarah ayat 286)

Artinya, setiap orang akan mendapatkan bagian amanah sesuai kemampuannya. Kalau kita tidak mampu, tentu Allaah swt tidak akan memberikan kepada kita. Misalnya, kita ingin kuliah di luar negeri atau di jurusan favorit, tapi gagal lolos. Maka, berarti kita yang sekarang belum mampu untuk kuliah di sana. Sebaliknya, dalam skenario lain, ada orang yang kemampuannya jauh di bawah kita, ternyata bisa kuliah di sana. Maka, berarti menurut Allaah swt, orang inilah yang lebih mampu dari kita. Entah karena karakternya, usahanya, potensinya, ataupun doa dan amalannya.

Dengan meyakini prinsip ini, maka kami yakin bahwa lahirnya Rafika menandakan bahwa kami mampu menerima amanah pendidikan dan pengasuhannya dengan baik. Tinggal bagaimana kami berusaha, apakah menjaga amanah ini dengan sebaik-baiknya atau sebaliknya.

Parameter seseorang disebut mampu bisa jadi relatif di hadapan Allaah swt. Bisa jadi secara kualitas dan kuantitas, seseorang dianggap mampu. Namun, ketika dihadapkan pada masalah yang nyata, ternyata kemampuannya masih kurang alias tidak mampu. Kuncinya sebenarnya sudah jelas tertulis dalam lanjutan ayat di atas,

“...Baginya pahala untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya...” (Surat Al-Baqarah ayat 286)

Kunci terpenting seseorang dianggap mampu adalah ikhtiar. Mungkin, secara kapasitas kita belum mampu, tetapi ketika kita sudah menempuh jalan untuk meningkatkan kapasitas, dan sudah istiqomah berada di atasnya, inSyaaAllaah Allaah swt akan memberikan hasil yang terbaik.

Jika ikhtiar kita dalam menerima amanah dari Allaah swt, kita laksanakan dengan maksimal, maka tentu ada pahala yang akaj kita dapatkan sesuai ikhtiar kita. Sebaliknya, jika amanah Allaah swt kita sepelekan dan tidak dijaga dengan sebaik-baik, maka hendaknya kita banyak-banyak memohon ampun dan membaca doa lanjutan ayat di atas.

Pertanyaan berikutnya adalah, ikhtiar seperti apakah yang disebut pantas mendapatkan amanah dari Allaah swt? Jawabannya ada di surat At-Taghaabun ayat 16.

Maka bertaqwalah kalian kepada Allaah swt sesuai dengan kemampuan (terbaik) kalian (ma (i)statha’tum)…

Penjelasan terbaik dari ayat ini adalah sebuah cerita klasik tentang seorang mujaahid dan murabbi terbaik, yaitu Syaikh Abdullah Azzam. Ketika itu, beliau ditanya tentang ayat ini oleh muridnya. Maka beliau meminta mereka untuk berlari mengelilingi lapangan. Beliau pun juga ikut berlari bersama mereka.

Satu putaran, dua putaran, tiga putaran, dan seterusnya. Semakin banyak putaran, jumlah murid-murid yang ikut berlari semakin berkurang. Sebagian berhenti karena kelelahan, sebagian bermalas-malasan. Sementara itu, Syaikh Abdullah Azzam masih saja berlari meski napasnya mulai tersengal.

Tiba-tiba, Syaikh Abdullah Azzam tampak terhuyung dan jatuh pingsan saat sedang berlari. Para muridnya pun berlari menghampiri beliau dan menolongnya. Saat siuman, beliau berkata dengan ucapannya yang terkenal,

Wahai muridku, inilah yang disebut “ma (i)statha’tum”, sesuai kemampuan terbaik kalian…

Maksudnya, jika Allaah swt memberikan amanah kepada kita, maka tidak ada pilihan yang lebih baik selain daripada menerimanya dengan kemampuan terbaik yang kita miliki. Entah amanah itu berupa ilmu, kendaraan, rumah, keluarga, anak, kekuasaan, dan lain-lainnya.

*****

Prinsip di atas kami pegang betul dalam menerima amanah berupa anak yang kami beri nama Rafika. Amanahnya jelas, memastikan seluruh keluarga selamat baik di dunia maupun di akhirat. Tinggal bagaimana implementasi dalam kehidupan nyata yang penuh fitnah dan ujian ini.

Dalam konteks Rafika, kami tidak akan menitipkan amanah pendidikan dan pengasuhan Rafika pada orang lain kecuali kami tidak lagi mampu memberikan pendidikan dan pengasuhan yang terbaik. Hal itulah yang dulu saya alami ketika masih kanak-kanak sebagaimana ucapan Bapak dan Ibu saya di awal tulisan ini.

Lagi-lagi parameter kemampuan di sini bersifat relatif. Tergantung bagaimana situasi dan kondisi. Seperti kami misalnya, kami memilih menunda menyelesaikan studi untuk mendidik dan mengasuh Rafika dahulu karena memang tahapan studinya bisa ditunda. Selain itu, kami juga masih bisa hidup layak dengan amanah kepada masyarakat yang hampir tidak terganggu sama sekali.

Kondisinya akan berbeda jika kemudian studi kami harus segera selesai karena biaya sudah terbatas. Kondisinya juga berbeda jika kami harus bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kondisinya juga akan berbeda jika Rafika memiliki adik yang menuntut kami untuk memperbesar kapasitas lagi. Kondisinya akan berbeda jika kami dituntut keluar dari rumah untuk belajar atau kontribusi bagi umat.

Jika terdapat kondisi yang mengganggu urusan primer tersebut, maka itu berarti kami sudah tak mampu lagi memberikan pendidikan dan pengasuhan terbaik bagi anak kami. Pilihan terbaiknya adalah menitipkannya pada pihak yang lebih amanah. Entah itu Tempat Penitipan Anak, Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-Kanak, Pondok Pesantren, dan seterusnya.

*****

Untuk saat ini, kami masih berusaha dengan kemampuan terbaik kami, agar seluruh amanah kami bisa berjalan semua. Amanah pendidikan dan pengasuhan Rafika. Amanah mengelola Rumah Tahfidz Al-Falah. Amanah sebagai anak dan mertua. Amanah sebagai mahasiswa pendidikan profesi dokter. Dan amanah-amanah lainnya.

Jika harus membawa Rafika ke kampus sambil kuliah, itu buka sebuah perkara besar. Jika harus membawa Rafika ikut mengisi materi, that’s not a big deal. Bahkan, kami bersyukur Rafika bisa menemani kami dalam aktivitas kami. Selain menjadi hiburan bagi kami, juga menjadi pendidikan bagi Rafika. Kelak, jika harus “dikorbankan” salah satu amanahnya, maka asasnya harus tetap maslahat untuk umat.

Untuk menutup tulisan ini, ada sebuah doa yang sebaiknya kita baca setiap ada kesempatan agar kita tidak lalai dan celaka karena amanah yang kita terima dari Allaah swt. Doanya ada di akhir surat Al-Baqarah ayat 286.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah (dengan amanah yang Engkau berikan pada kami). Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti telah Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami (yang mereka celaka karenanya). Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya. Dan maafkanlah kami, ampunilah kami, serta kasihanilah kami, karena Engkau-lah Pelindung kami. Maka, tolonglah kami terhadap orang-orang yang kafir.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *