Puncak Syukur

“Udah cukup. Kalo kayak gini kan aku nggak perlu makan di luar”,

ujar Mas Fahmi sembari mengemas perbekalannya dalam sebuah kardus besar. Kardus itu berisi rice cooker, beras, pasta kiloan, saus bolognese olahan daging qurban, kering tempe, keripik bayam dan peyek.

Menjelang keberangkatan Mas Fahmi koas ke Cilacap kali itu, kami memang sedang sangat ketat masalah anggaran. Usia kehamilan saya menginjak trimester tiga, sedangkan kepergian Mas Fahmi keluar kota otomatis membuat Mas Fahmi tidak bisa mengajar seperti biasa. Akibatnya, tidak ada gaji yang kami terima dan tidak ada hak bagi saya untuk “numpang” makan di Rumah Tahfidz. Padahal saat itu adalah masa di mana kami harus menyiapkan cukup uang untuk persiapan persalinan. Mau tidak mau, saya harus pulang ke rumah orangtua dan sebisa mungkin Mas Fahmi berhemat di perantauan.

Perihal berhemat ini, Mas Fahmi memanglah juaranya. Selama 6 pekan koass di Cilacap, hanya beberapa kali saja ia jajan di luar. Sisanya makan makanan yang dibawa dari rumah. Pernah satu kali ia hendak makan bersama teman-temannya untuk farewell party. Tidak mahal, tapi saking tidak enak hati, ia minta izin menggunakan uang untuk makan di luar. Padahal uangnya sendiri, tapi sikap amanahnya seperti menjaga uang negeri ini.

Dampak penghematan ekstrim ini, Mas Fahmi bisa pulang seminggu sekali naik bus eksekutif. Ia rela menghabiskan 12 jam di jalan, demi 24 jam perjumpaan dengan keluarga. Saya tahu hari-harinya sibuk dan melelahkan. Bisa saja ia menghabiskan hari libur dengan beristirahat dan tidur-tiduran. Tapi baginya, lelah itu hanya dapat dibayar dengan perjumpaan dengan keluarga. Baginya, kesenangan berakhir pekan tidak ada artinya tanpa berkumpul bersama keluarga.


Kelekatannya pada keluarga seolah terinstal dengan sangat baik pada diri Mas Fahmi. Ia selalu jadi orang yang paling semangat untuk menjalin silaturrahmi. Bahkan jarang sekali kami menikmati akhir pekan di rumah sendiri, karena rasanya begitu hampa menghabiskan hari libur tanpa mengunjungi saudara.

Mas Fahmi juga selalu jadi yang terdepan untuk membantu saudara yang membutuhkan. Gajinya boleh jadi di bawah UMR. Tapi hampir setengah gajinya habis untuk disedekahkan pada keluarga. Boleh jadi selama koas ia selalu membawa bekal untuk makan siang supaya hemat, tapi ia tidak pernah hitung-hitungan perkara mentraktir saudara. Sepatunya boleh jadi sudah tipis dan sobek sana-sini. Tapi ia rela mempertahankannya, demi dapat membelikan sandal untuk umi. Kemeja-kemejanya boleh jadi sudah usang dan penuh jahitan tambalan, tapi uang saku untuk adik-adiknya tak pernah kelewatan. Ia rela tidak ikut foto angkatan karena tidak membeli jas dokter, tapi ia selalu ringan hati untuk menyenangkan hati saudara-saudaranya dengan hadiah dan traktiran.

Terlebih di hari-hari setelah Rafika lahir. Ia rela memundurkan jadwal ujian kompetensi demi memberi ruang pada saya untuk koass dan ruang untuk Rafika beradaptasi di hari-hari awal kehidupannya. Menjelang ujian pun, ia sangat menikmati belajar sambil momong Rafika ketika saya tinggal koass. Bahkan setelah rangkaian ujian dan pengumuman kelulusan, Mas Fahmi dengan senang hati membawa Rafika ke kantor supaya dapat tetap mengasuhnya.

Sebelum menikah dulu, banyak orang bilang ia adalah seorang family man. Dulu saya tidak begitu percaya karena memang belum kenal. Setelah menikah dan punya anak, saya baru paham yang dimaksud orang-orang. Yes, he’s a truly family man.


Somehow, menjalani pendidikan profesi sambil berkeluarga memang bukan pilihan yang tampak menyenangkan apalagi populer. Apalagi bagi seorang laki-laki karena ia memiliki kewajiban mencari nafkah. Menjalani salah satu saja sudah sulit bin pelik, apalagi keduanya?

Maka, di titik inilah rasa syukur kami memuncak. Betapa baiknya Allaah mampukan Mas Fahmi untuk menjalaninya dengan baik, sangat baik. Pendidikan profesi jalan, keluarga tidak pernah keteteran. Meski kami seringkali harus super berhemat, Allaah tidak pernah ingkar untuk mencukupi rizki hamba-Nya. Meski hidup kami penuh keterbatasan, Allaah lapangkan hati kami untuk menerima dengan kesabaran dan kesyukuran. Betapa baiknya Allaah, betapa baiknya Allaah, betapa baiknya Allaah. MaaSyaaAllaah.

Barakallaah fii ilmiy, dok! Terimakasih banyak telah menjadi teladan. Sekarang estafet resmi berpindah ke tangan saya. Semoga Allaah mampukan untuk segera menyusul 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *